Nikmat Jengkol, yang Bau tapi Diburu

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Jumat, 01/12/2017 08:43 WIB
Nikmat Jengkol, yang Bau tapi Diburu Identik dengan bau tak sedap, jengkol kerap dihindari atau tak diakui meski dicari. Namun, itu dulu. Jengkol kini mulai mendapat tempat dan populer. (Foto: cnn Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penggemar kuliner mungkin tak asing dengan jenis makanan satu ini. Jengkol memang banyak digemari saat diolah jadi beragam makanan. Namun, di balik itu, jengkol juga terkenal berkat aromanya yang khas, bahkan kerap dibilang bau.

Kendati demikian, Dwi Kartika, pemilik Green Spot Healthy Cafe iseng ingin membuat sesuatu yang berbeda. Ia memang menjalankan bisnis cafe dengan sajian serba nabati dan menyehatkan, tapi ia ingin menonjolkan salah satu pangan, yakni jengkol.

"Selama ini orang malu beli jengkol, malu kalau suka jengkol. Saya ingin orang bangga sama jengkol, biar dibilang makanan orang udik. Inginnya ya menjengkolkan Indonesia," ujarnya pada CNNIndonesia.com di sela acara Festival Jengkol Indonesia di Bellanova Country Mall, Sentul, Bogor, 17 November lalu.



Keinginan ini kemudian mewujud dalam acara Festival Jengkol Indonesia. Untuk pertama kalinya, jengkol mendapatkan kehormatan untuk jadi tema sekaligus ide utama acara.

Menurut dia, gagasan ini berawal dari obrolan iseng, yang disambut positif publik. Hal ini jadi 'surprise' bagi Dwi dan kawan-kawannya. Ia yang juga menyukai jengkol berkata, jengkol bahkan bisa lebih mahal daripada daging ayam saat bulan Ramadhan tiba.

"Bau, tapi banyak dicari," tambahnya.

Daya tarik jengkol 

Jengkol, menurut Dwi, selain enak, juga punya khasiat sebagai antikanker. Jadi, kata dia, tak ada alasan untuk tidak bangga jika memang penggemar jengkol.

Sementara itu, Kamila, ketua panitia festival menuturkan, jengkol bisa menyatukan banyak orang. Hal ini bisa dilihat dari respons yang diterima panitia yang tak hanya berasal dari penggemar kuliner dalam negeri tapi juga luar negeri.

Masyarakat internasional mengapreasiasi aneka olahan jengkol. Padahal sebelumnya jengkol hanya diolah jadi menu yang itu-itu saja.


"Kita bisa kok bersatu karena jengkol. Ini media pemersatu, apalagi di tengah isu perpecahan gini, jadi satu euforia baru," kata Kamila.

Dia berharap ke depan, bakal ada festival-festival berikutnya di kota berbeda. Pihaknya optimistis animo masyarakat akan lebih tinggi. Meski belum dapat memastikan di mana lokasi festival berikutnya, tapi ia berkata beberapa kota sudah mengkonfirmasi keinginan mereka untuk jadi tuan rumah seperti Bekasi, Karawang, Palembang dan Riau.

Kamila berkata, konsep acara belum sepenuhnya tercapai, sehingga ke depannya, ia mengharapkan festival dapat merangkul industri jengkol dari hulu ke hilir, tak hanya produsen olahan jengkol tapi juga petani jengkol.

"Harapannya jengkol enggak cuma jadi makanan kampung, tapi juga jadi makanan kota. Jangan malu kalau suka jengkol," tutupnya. (rah/rah)




ARTIKEL TERKAIT