Catatan Perjalanan

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang Rai

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Minggu, 03/12/2017 08:30 WIB
Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang Rai Pasar di Laos yang menjual wiski ular kobra. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)
Chiang Rai, CNN Indonesia -- “Harap buka kaca mobil Anda,”

Suara tersebut membangunkan saya dari tidur nyenyak di mobil van mewah milik Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort yang menjemput saya dari Bandara Internasional Chiang Rai, Thailand, pada akhir pekan kemarin.

Rupanya mobil yang saya tumpangi melewati pos perbatasan. Supir yang mengantar sepertinya tahu wajah penumpangnya langsung pucat pasi. Sambil melirik kaca spion, ia mengatakan kepada saya kalau pemeriksaan oleh polisi militer merupakan hal yang biasa, karena area yang kami lewati merupakan lokasi strategis bagi para imigran gelap yang ingin melintas ke tiga negara tanpa surat izin.


Lampu senter yang dibawa polisi militer menyorot ke dalam mobil van. Jantung semakin kencang berdegup dan otak langsung berusaha mengingat letak paspor dan surat tugas yang di tiga tas yang saya bawa.

Setelah supir dan polisi militer bercakap sekitar lima menit, mobil van yang saya tumpangi kembali melaju. Hati langsung merasa lega karena tidak ada drama yang terjadi.

Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort berada di Chiang Rai, kawasan di ujung utara Thailand. Jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dari Bandara Internasional Chiang Rai.

Dari Jakarta menuju Chiang Rai, saya terlebih dulu transit di Bangkok, tepatnya di Bandara Internasional Don Mueang. Total durasi perjalanannya sekitar 6,5 jam, sudah termasuk transit. Tiket pesawat pulang perginya seharga Rp6 jutaan per orang, bisa lebih murah dan bisa lebih mahal, tergantung musim liburan.

Jangan harap bisa menemukan keramaian ala Bangkok di Chiang Rai. Kota di atas gunung bersuhu sejuk ini selalu sepi. Turis yang datang biasanya memang ingin melakukan aktivitas menjelajah alam di Golden Triangle, kawasan perbatasan Thailand, Myanmar, dan Laos, yang sempat populer sebagai jalur perdagangan opium pada tahun 1950-an.

Berbicara mengenai suhu, Chiang Rai bersuhu 18 derajat Celcius di siang hari dan bisa lebih dingin di malam hari. Dinginnya berasal dari tiupan angin, jadi bagi yang tak tahan menggigil ingatkan diri untuk membawa jaket tebal dan kaus kaki ke sini.

Selagi masih di bandara, segera menukar uang yang dibawa dengan mata uang Thailand, Baht. Gunakan bahasa Inggris dasar untuk berkomunikasi dengan masyarakat lokal di sini.

Ada banyak kendaraan yang bisa ditumpangi dari Bandara Internasional Chiang Rai ke pusat kotanya. Rata-rata bertarif sekitar Rp400 ribuan untuk sekali jalan. Beruntung, saya diundang oleh Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort yang menyediakan layanan antar jemput bandara. Setelah duduk lama di kursi bagian tengah maskapai penerbangan berbiaya murah, duduk di mobil van mewah ini menjadi kedamaian yang hakiki. Ketersediaan camilan, koneksi Wi-Fi, sampai kursi yang bersatu dengan alat pijat lumayan memanjakan saya.

Rata-rata penerbangan yang sampai di Bandara Internasional Chiang Rai akan sampai sekitar pukul 15.00. Sebelum datang, saya sudah diberitahu oleh humas hotel kalau Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort jauh dari keramaian kota. Setelah sampai di bandara, tanpa buang waktu saya langsung memutuskan untuk mampir ke White Temple, kuil serba putih yang merupakan objek wisata paling populer di Chiang Rai.

Kecanggihan aplikasi mengedit foto membuat saya sering kurang percaya ada objek wisata berbentuk bangunan yang benar-benar berpemandangan indah aslinya. Begitu juga dengan dugaan saya akan White Temple. Tapi begitu melihatnya langsung, saya baru percaya kalau kuil Buddha ini benar-benar indah.

Untuk masuk ke White Temple, turis non-Thailand wajib membayar tiket masuk seharga Rp20 ribuan per orang. Baru melangkahkan kaki beberapa meter, wangi harum dari pepohonan bunga kamboja langsung menyapa, seakan ingin melengkapi nuansa sakral objek wisata ini.

White Temple bernama asli Wat Kong Run. Arsiteknya seorang seniman Thailand bernama Chalermchai Kositpipat. Kuil ini dibuka untuk umum sejak tahun 1997.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiWhite Temple, salah satu objek wisata populer di Chiang Rai. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Rancangan bangunan ini disusun berdasarkan cerita surga dan negara di alam baka. Jembatan menuju bangunan utama diibaratkan cobaan hidup. Di sisi kanan dan kirinya ada kolam yang diisi patung berbentuk tangan pengibaratan dosa. Bangunan utamanya tentu saja diibaratkan surga, bagi mereka yang berhasil melewati cobaan hidup dan tak tenggelam dalam kolam dosa.

Serba putih, namun kuil ini juga disisipi oleh aksen perak. Detilnya bahkan disematkan sampai ke pagar halamannya.

Selain kuil berwarna putih, ada beberapa bangunan tambahan yang menjadi pelengkap, antara lain kuil emas dan sumur permohonan. Kedua bangunan ini mengibaratkan keduniawian dan doa.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiPecinta arsitektur wajib datang ke White Temple. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Beberapa bagian bangunan White Temple sempat rusak parah saat bencana alam gempa bumi melanda kawasan Mae Lao pada 5 Mei 2017. Chalermchai berusaha menggalang dana untuk memperbaiki karyanya, namun menolak donatur yang ingin menyumbang lebih dari Rp40 juta, agar objek wisata religi ini tak jadi komersil.

Berkunjung ke White Temple menjelang matahari terbenam cukup menyenangkan. Selain tak terlalu terik, langit yang berwarna oranye membuat bangunan terlihat lebih dramatis dalam foto dan video. Bersama ratusan turis lain, saya ikut terpana menyaksikan matahari terbenam di balik bangunan utamanya.

Dari White Temple, saya langsung menuju Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort. Catatan untuk turis yang hobi bertanya “sudah sampai belum?” dalam perjalanan, perlu diketahui kalau durasi 1,5 jam di kota sepi tidaklah sebentar, karena lamanya perjalanan bukan dikarenakan kemacetan melainkan karena panjangnya aspal yang ditempuh. Saya sudah membekali diri menghadapi kebosanan perjalanan dengan minum bir lokal yang dibeli di warung dekat White Temple, agar tertidur sepanjang perjalanan.

Kota Chiang Rai tak ubahnya Magelang. Jalanannya serba lebar dengan latar belakang pegunungan hijau. Mendekati kawasan hotel, pemandangan pegunungan memudar, berganti dengan hutan yang lebat. Saat yang tepat untuk memejamkan mata dan sambil mendengarkan dongeng dari audiobook ‘Modern Romance’ karangan Aziz Ansari.

Tepat pukul 21.00 saya sampai di Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort. Angin dingin langsung menampar pipi. Petugas hotel langsung menggiring saya ke lobi untuk mengambil kunci dan mengambil kertas jadwal aktivitas yang bakal saya lakukan dalam empat hari ke depan.

Usai berbincang dengan petugas hotel di lobi, saya langsung menuju ke kamar, dengan maksud ingin merebahkan diri sebelum makan malam. Di sepanjang perjalanan menuju kamar, saya bertemu dengan turis mancanegara yang datang berkelompok sampai berpasangan. Petugas hotel mengatakan kalau saya akan bertemu dengan kelompok pesepeda asal Jerman dan banyak tamu bulan madu minggu itu. Sayangnya, saya datang sendirian dan untuk bekerja.

Di Tiga Negara dalam Sekali Waktu via Chiang RaiKamar tipe Deluxe Three Country View Room yang saya tempati. (Dok. Anantara Golden Triangle)

Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort berdiri di atas lahan seluas 1,6 hektare dengan bangunan setinggi tiga lantai. Ada tiga jenis kamar di sini, yakni; Deluxe Three Country View Room, Three Country View Suite, dan Three Country View Family Suite. Yang membedakan dari tiga kamar itu hanyalah luas dan letak lantainya. Tarifnya—bersiaplah terkejut, mulai dari Rp16 jutaan per malam. Namun dengan harga sedemikian, tamu bisa menatap langsung pemandangan ke Golden Triangle beserta Sungai Mekong yang membelahnya. Satu harga untuk pemandangan ke tiga negara.

Usai merebahkan diri sejenak, saya langsung menuju restoran untuk makan malam. Petugas hotel mengatakan kalau menu di restoran berupa Thailand dan Barat. Tak hanya makanan, restoran ini juga menyediakan menu minuman alkohol Asia.

Saya sebenarnya agak ragu ingin memesan menu Thailand, karena trauma dengan rasanya yang terlalu eksotis di lidah saat mencobanya di Jakarta. Tapi saya membuang jauh-jauh perasaan ingin memesan caesar salad, jadilah saya memesan beberapa menu Thailand, yakni: Por Pia Phak, Som Tum, Lanna dip, Thod Man Pla, Khao Soi, Gaeng Kiew Waan Gai, dan Pad Pak Kana Moo Krob.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiSalah satu menu Thailand yang saya cicipi. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Sampai di mulut, rasa makanannya cukup aman bagi yang tak terbiasa dengan bumbu eksotis. Bagi saya yang memuja Nasi Padang, rasa masakan Thailand di restoran ini hampir sama enaknya.

Perut kenyang, hati senang, badan seakan melayang. Saya menutup hari pertama di Chiang Rai dengan tidur di kasur empuk malam itu.

Gajah di mana-mana

Hari ke-dua saya isi dengan bangun pagi demi mengirup udara segar dari balkon kamar. Baru membuka kaca penghubung antara kamar dan balkon, saya langsung tersentak kaget mendengar suara lenguhan gajah dari hutan di samping hotel. Mirip adegan dalam film ‘Jurassic Park’ hanya saja minus T-Rex.

Berniat mengambil gambar matahari terbit, tapi langit terlihat mendung. Pegunungan hijau yang terlihat dari kejauhan tertutup kabut tebal mengambang, sekali lagi mirip seperti adegan dalam film, kali ini ‘Tutur Tinular’. Pagi jadinya saya habiskan sambil menyeruput kopi sebelum turun ke restoran untuk sarapan.

Bagi tamu kesepian seperti saya, menginap di sini tak perlu takut gundah gulana. Siang sampai malam Anda bisa ditemani gajah. Ya, gajah. Bukan manusia dalam kostum gajah atau karton bergambar gajah. Penjaga gajah—yang disebut mahout, bakal mengajak gajah naik ke restoran untuk menyapa tamu setiap pagi. Gajah yang badannya paling kecil akan dituntun naik dan turun tangga oleh mereka. Membayangkannya saja sudah membuat hati terkikik.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiTamu bisa memberi makan gajah saat sarapan. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Benar saja, ada gajah di dekat meja tempat saya memesan omelet bacon. Terlihat juga para tamu yang antusias menyodorkan tangan untuk menyuapi gajah dengan pisang. Layaknya anak kecil yang sedang disuapi, terkadang gajah berusia enam tahun itu berjalan ke sana ke mari sambil mengunyah, kelakukan yang agak membuat repot mahout mengingat ukuran badan si bocah yang jumbo.

Perut kenyang, hati senang, tenaga siap menantang. Kegiatan saya di hari kedua ialah Elephant Camp Experience at Dara Camp, alias bermain bersama gajah di kamp penampungan milik Anantara.

Sebanyak 23 gajah yang ada di sini berkeliaran dengan bebas di hutan sebelah hotel dengan pengawasan dari 30 mahout. Layaknya kucing atau anjing, mereka ada di setiap sudut, jadi harap waspada agar tak mengagetkan mereka.

Kegiatan pergajahan yang ditawarkan Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort mulai dari berjalan di hutan, memberi makan, memandikan, sampai makan malam bersama gajah. Para tamu tidak duduk di dalam mobil berkaca selama kegiatan, mereka diajak berhadapan langsung dengan para gajah. Konsep ini membuat foto selfie para tamu jadi lebih eksklusif ketimbang yang hanya datang ke kebun binatang.

Sepanjang hari bersama gajah, saya berbincang dengan Nisa—salah satu pengurus kamp penampungan, mengenai fasilitas yang beroperasi sejak tahun 2013.

Nisa mengatakan kalau gajah-gajah di sini merupakan gajah yang pensiun dari sirkus dan ladang. Para mahout beserta gajahnya tinggal di kampung dekat hutan dalam komplek hotel.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiInteraksi tamu dengan gajah. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Sejumlah tamu yang merupakan turis mancanegara terlihat asyik berinteraksi dengan gajah. Mereka bahkan tak segan untuk memeluk gajah-gajah yang lewat.

Tak terasa, matahari sudah mau tenggelam. Saya dan tamu lainnya lalu digiring untuk masuk ke dalam hotel.

Udara dingin membuat perut cepat lapar. Setelah menghabiskan jambu dan pisang yang disediakan di kamar, saya menuju restoran untuk makan malam.

Kali ini, saya disuguhkan menu beragam pasta Italia. Rasanya sangat otentik plus tamu yang datang dihibur dengan aksi petugas hotel yang memasak menu langsung di meja makan.

Makan malam saya tutup dengan minum-minum wine. Dua gelas cukup membuat saya menggiring badan kembali ke kamar hotel untuk beristirahat malam.

Golden Triangle dan opium

Hari ke-tiga saya dijadwalkan untuk mengunjungi Istana Doi Tung dan Taman Mae Fah Luang. Properti ini milik keluarga Kerajaan Thailand yang sering digunakan sebagai rumah peristirahatan.

Menuju ke sana perjalanan terasa berliku-liku, mirip di Cipanas. Karena kegiatan ini disediakan oleh Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort, maka saya dibekali tas piknik berisi makanan untuk disantap selama perjalanan. Isinya sandwich sampai pudding.

Sang pemandu, Anan, mengatakan kalau kawasan Doi Tung merupakan ladang opium terbaik pada saat itu, karena suhunya selalu dingin pas untuk menanam dan memanen.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiTuris asyik berfoto di Istana Doi Tung. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Istana Doi Tung berdiri di atas lahan seluas puluhan hektare. Bangunan utamanya berupa vila dengan belasan kamar bernuansa kayu. Tiket masuknya seharga Rp20 ribuan per turis non-Thailand. Selain tiket masuk, turis juga wajib melepas sepatu dan dilarang mengabadikan foto atau video di dalam ruangannya.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiTaman bunga yang merupakan bagian dari vila. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Kabut tebal menjadi pemandangan utama di Istana Doi Tung. Fenomena alam itu terasa kontras dengan warna-warni bunga yang ditanam di Taman Mae Fah Luang. Sekitar empat dari lima orang yang datang ke objek wisata ini merupakan pasangan yang sedang memadu kasih. Saya adalah satu dari lima orang tersebut.

Bagi yang datang bersama anak, objek wisata ini wajib dikunjungi karena anak bisa bebas berlarian ke setiap sudutnya. Yang lapar dan haus bisa mampir ke area kantin. Jangan lupa cicipi kopi Doi Tung yang khas.

Puas di Doi Tung, saya beranjak menuju Golden Triangle, jalur emas penjualan opium di masa lampau. Sekitar pukul 13.00 saya sudah di pinggir dermaga utama Chiang Rai untuk naik perahu kayu menyusuri Sungai Mekong. Melihat langit berwarna abu-abu dan perjalanan hanya bermodalkan perahu kayu membuat hati jadi was-was. Saya memeluk erat jaket pelampung yang diberikan nahkoda kapal.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiPerjalanan ke Golden Triangle. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Byur! Air sungai langsung menyiprat ke badan begitu perahu kayu membelah Sungai Mekong. Kadar was-was semakin bertambah, begitu melihat debit air sungai sama tingginya dengan perahu kayu. Anan sedikit menghibur dengan mengatakan kalau perjalanan dari dermaga di Chiang Rai menuju dermaga di Laos hanya berlangsung sekitar 20 menit.

Hampir menuju dermaga Laos, ajaibnya cuaca langsung berubah cerah. Serasa masuk ke negara baru, padahal hanya beberapa menit berlayar. Sampai di dermaga Laos, saya mampir ke pasar yang menjual barang oleh-oleh khas Thailand, mulai dari tas rajut sampai wiski ular kobra. Bagi yang tak suka ular kobra mungkin bisa mencoba wiski kalajengking.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiWiski ular kobra yang dijual. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Karena sulit meloloskan wiski berisi jasad binatang di bandara, jadi saya memutuskan untuk berfoto di depan papan dermaga Laos sebagai oleh-oleh.

Sebenarnya perahu bisa berhenti tepat di aliran Sungai Mekong seberang Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort. Sayangnya, hari itu debit air semakin tinggi, sehingga nahkoda memutuskan untuk kembali ke dermaga ujung Chiang Rai.

Tiga pojok negara yang berdiri di samping Sungai Mekong memberi pemandangan tersendiri dalam perjalanan perahu saya siang itu. Meski hanya dipisahkan air sungai berwarna cokelat, masyarakat yang tinggal di Golden Triangle tidak boleh sembarangan berkunjung, karena butuh surat izin. Saya jadi membayangkan repotnya malam mingguan jika terlanjur naksir tetangga di negara seberang.

Sampai di dermaga ujung Chiang Rai, saya disambut oleh stupa Buddha berwarna emas dan berukuran besar yang menghadap ke “pertigaan” Golden Triangle. Sayangnya, saya tak sempat mampir untuk berfoto di sana, karena hujan sudah mulai turun.

Karena masih penasaran dengan sejarah perdagangan opium yang diceritakan Anan, saya memutuskan untuk mampir ke Museum Opium yang berdiri di seberang Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort. Tarif masuknya sama, Rp20 ribu per turis non-Thailand.

Sebaiknya kunjungi museum ini selagi tenaga masih prima, karena pintu masuknya yang lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi jika Anda merupakan tamu dari salah satu hotel yang bekerjasama dengan museum, ada layanan antar jemput yang disediakan.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang Rai"Kreatifitas" penyelundupan opium yang dipajang di Museum Opium. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Museum Opium berupa bangunan megah yang berdiri di lahan luas. Sekilas pemandangannya seperti salah satu fakultas di komplek Universitas Indonesia. Saat masuk, turis akan disambut dengan asal usul perdagangan opium.

Sebagai objek wisata sejarah, museum ini memberikan banyak informasi. Hanya saja semuanya ditulis dalam bentuk teks yang rasanya membosankan untuk dibaca. Tapi, bagi yang malas membaca, bisa tetap menambah wawasan dengan beragam instalasi yang dipajang di dalamnya. Saya sempat menjerit ngeri begitu melihat seonggok manusia yang sedang tiduran di lantai, sebelum tahu itu adalah instalasi yang menunjukkan kondisi korban opium.

Terkesan atau tidak, berkunjung ke Museum Opium pasti langsung menggugah semangat anti-narkoba dalam diri Anda, begitu juga dengan saya.

Selesai mandi sore dan bersiap makan malam, ternyata saya diberi kejutan untuk makan malam dekat kandang gajah. Agak terkejut, karena saya harus naik mobil jeep sambil mengenakan abju terusan.

Mobil jeep yang saya tumpangi melindas bebatuan dari jalanan hutan yang tak rata. Gelap tak berujung yang terlihat di mata, sementara perut sudah mulai keroncongan.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiMakan malam mewah bersama gajah. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Tak lebih dari 15 menit, mobil jeep sampai mengantar saya di kandang gajah yang kemarin saya datangi. Untuk makan malam, ada rumah tingkat tak berdinding yang dijadikan lokasinya.

Selain pelayan, saya disambut tiga gajah yang terlihat sangat kelaparan. Mahout dan petugas hotel menyerahkan keranjang berisi potongan batang pohon tebu untuk diberikan kepada gajah. Saya jadi ikut lapar melihat mereka lahap memakannya.

Menu makan malam saya juga istimewa, dengan menu pembuka, tengah, dan penutup ala Italia. Tak ketinggalan sajian BBQ juga dihidangkan.

Ke pasar dan kelas masak

Pesawat yang membawa saya pulang ke Jakarta baru akan berangkat dari Bandara Internasional Chiang Rai pukul 14.00. Jadilah setelah sarapan dan menitipkan barang di lobi hotel pukul 08.00, lalu saya ikut salah satu petugas hotel untuk berbelanja ke pasar pagi.

Tak jauh dari dermaga utama Chiang Rai, pasar pagi berada. Pasar basah ini buka dari dini hari sampai tengah hari, tergantung barang yang dijual. Kalau sayur dan hasil laut biasanya lebih cepat habis.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiSuasana pasar pagi di Chiang Rai. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Berkeliling pasar pagi memberi pengalaman menarik, plus membuat perut kembali lapar, karena ada banyak makanan masak dan buah-buahan segar yang dijual.

Usai menemani petugas hotel berbelanja, saya diajak mampir ke sebuah kedai kopi di sudut pasar. Pemiliknya serius meracik kopi sambil sesekali menyapa pengunjung setianya.

Walau kedainya lebih mirip warkop, namun rasa kopinya tak kalah dengan kedai kopi kekinian.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiKedai kopi di pasar pagi. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Tak sendirian, ia menjagai kedainya setiap hari bersama seekor jangkrik yang ditempatkannya di dalam toples bening. Selain sebagai peliharaan, jangkrik itu juga digunakannya untuk bertarung dan bertaruh dengan jangkrik lain. Demi mengenang yang kalah di atas ring, sang pemilik kedai kopi memajang jasad jangkrik di langit-langit kedainya. Pemandangan yang cukup mengharukan.

Di Tiga Negara Sekali Waktu via Chiang RaiKelas memasak yang digelar. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Sesampainya lagi hotel, tanpa buang waktu saya langsung diajak mengikuti kelas memasak bersama tamu hotel yang lain. Namun karena keterbatasan waktu, saya hanya menyicipi cara membuat menu khas Thailand, Mango Sticky Rice.

Rasanya berat meninggalkan Chiang Rai dan Anantara Golden Triangle Elephant Camp & Resort, terutama soal kesejukan hawa dan keramahan orang-orangnya. Tapi, harga tiket pesawat juga yang memisahkan waktu, sehingga saya harus buru-buru sampai ke Bandara Internasional Chiang Rai menuju Bangkok lalu Jakarta.

(ard)