Meski belum memasuki acara puncak Sail Sabang 2017, dua kapal latih milik TNI AL itu sudah bersandar dan menyediakan diri untuk dinaiki pengunjung.
Meski tidak bisa masuk ke kabin, mereka cukup puas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sama seperti Rohani, warga Sabang lainnya, Hananan juga baru pertama kali melihat KRI Bima Suci. Atas rasa penasaran, Hananan mengaku dirinya kecewa tak bisa masuk dan melihat-lihat ke dalam kabin kapal.
KRI Bima Suci berada di Sabang selama lima hari dalam rangka mengkuti kegiatan Sail Sabang 2017. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru) |
Lihat juga:Menanti Kemeriahan Karnaval Malam Pulau Weh |
Ia menjelaskan, kapal-kapal memang biasa dipamerkan dalam parade militer tiap 5 Oktober. Namun, di luar agenda tersebut, kapal lebih ditonjolkan sisi wisatanya bukan militernya.
"Open ship harus dibuat tourism friendly. Masyarakat senang, anak kecil punya kesan luar biasa. Bisa pegang taruna, bertanya, melihat kapal dari dekat Jadi, pariwisata itu punya nilai komersil selain nilai budaya," kata Arief pada CNNIndonesia.com pada Kamis (30/11) malam.
Di tempat yang sama, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agus Purwoto berharap kehadiran Dewa Ruci dan Bima Suci bisa menginspirasi dan menumbuhkan entitas serta jiwa kebaharian.
"Kalau pun tidak terinspirasi jadi pelayar, generasi muda tahu dan bangga akan negerinya," kata Agus.
Di sisi lain, Arief mengatakan gelaran Sail Sabang merupakan gelaran nasional yang ke-9 dan diharapkan jadi gelaran terbesar.
"Arahan dari Pak Presiden, (gelaran) harus menghasilkan sesuatu yang nyata memberikan sesuatu," kata dia.
Menpar Arief Yahya saat meninjau lokasi acara puncak Sail Sabang 2017 di pelabuhan CT-3, Sabang, Rabu (30/11). (CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari) |
Free diving merupakan selam tanpa bantuan alat. Free diving dijadikan sebagai kompetisi dalam Sail Sabang. Training master atau dive master (guru selam) nantinya diharapkan dari warga lokal.
"Jadi saat Sail Sabang sejahtera, setelah Sail juga sejahtera," ujar Arief. (kid)

