Tak Hanya Anak-anak, Difteri Juga Serang Orang Dewasa

Dhio Faiz, CNN Indonesia | Jumat, 08/12/2017 21:11 WIB
Tak Hanya Anak-anak, Difteri Juga Serang Orang Dewasa Berbeda dengan anak-anak yang umumnya tertular karena sistem imun masih lemah, orang dewasa tertular karena kontak yang intens dengan pengidap difteri. (Foto: Thinkstock/yacobchuk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyakit menular difteri tak hanya menyerang anak-anak, tapi juga orang dewasa. Jika anak-anak umumnya tertular karena sistem imun masih lemah, orang dewasa tertular karena kontak yang intens dengan pengidap difteri.

Dokter Spesialis Anak, Dedet Hidayati mengatakan difteri umumnya diidap anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih lemah. Namun menurutnya bukan berarti orang dewasa tidak bisa tertular sama sekali.

"Memang umumnya menyerang anak karena daya tahan tubuh anak tidak sebaik orang dewasa. Tapi tidak jarang juga menyerang orang dewasa," ungkapnya saat ditemui di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Suliyanti Saroso, Jumat (8/12).



Dedet menyampaikan, dalam catatan RSPI Suliyanti Saroso, pada 2017 ada 13 dari 54 kasus difteri dengan pasien orang dewasa. Bahkan ada pasien difteri yang sudah berusia 65 tahun.

Menurut Dedet, biasanya orang dewasa tertular difteri karena adanya kontak yang intens dengan pengidap difteri. Berbeda dengan pasien anak-anak yang umumnya tertular karena sistem imunnya masih lemah.

Kontak intens yang dimaksud Dedet seperti orang tua yang menjaga anaknya yang diopname karena difteri. Hal ini terjadi dalam beberapa kasus yang ditangani RSIP Suliyanti Saroso. Selain itu, faktor lingkungan juga berpengaruh pada penyebaran difteri, termasuk pada orang dewasa.


Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Firmansyah mengatakan kepadatan wilayah bisa jadi faktor percepatan penyebaran difteri. Apalagi jika dalam wilayah tersebut masih minim kesadaran akan imunisasi.

"Tapi kalau dari imunisasinya kurang, artinya banyak di daerah itu yang tidak terlindungi. Begitu muncul, akan mudah menyebar," ujarnya. 

Menurutnya, penting untuk meningkatkan kesadaran mengenai imunisasi difteri. Selain itu, harus ada perlakuan khusus bagi orang-orang yang intens melakukan kontak dengan pengidap difteri.

Di RSPI Suliyanti Saroso, pasien difteri diisolasi dan pengunjung pasien difteri dibatasi. Pasien anak hanya boleh dikunjungi dan didampingi oleh kedua orang tuanya. Adapun pasien dewasa, hanya boleh ditunggui satu anggota keluarganya. Pendamping pasien juga harus memakai masker dan mengonsumsi antibiotik tiga kali sehari untuk meminimalisir penularan.


RSPI Suliyanti Saroso menjadi rumah sakit rujukan untuk penanganan difteri di Jakarta. Saat ini ada sepuluh pasien difteri yang ditangani di  ruang isolasi. Tiga di antaranya adalah pasien dewasa.

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan RI, sejak Oktober hingga November 2017, ada 11 provinsi yang menganggap difteri berstatus kejadian luar biasa (KLB). Kesebelas provinsi itu, yakni Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. (rah/rah)