Isu Selingkuh, Pasangan Harus Saling Terbuka Sebelum Cerai

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Senin, 08/01/2018 22:24 WIB
Isu Selingkuh, Pasangan Harus Saling Terbuka Sebelum Cerai Pasangan suami istri mesti saling jujur dan terbuka saat menghadapi isu perselingkuhan. Bagaimanapun, masing-masing punya andil hingga perselingkuhan terjadi.(Thinkstock/Deagreez)
Jakarta, CNN Indonesia -- Isu perselingkuhan kerap menjadi alasan ketika ada kabar pasangan yang berpisah. Meski kadang, hal itu tidak mutlak, karena berbagai persoalan lain bisa saja menjadi faktor pemicu. 

Namun, bagaimana jika pasangan ketahuan selingkuh? Harus dimaafkan atau memilih berpisah? Psikolog Erfiane Cicillia mengungkapkan bahwa hal pertama yang mesti dilakukan adalah mengajak pasangan bicara.

"Dimaafkan atau dicerai itu nomor ke sekian. Ajak bicara. Pada saat diomongin, lalu ada kesempatan untuk memperbaiki, maka sebaiknya pasangan juga turut andil. 'Aku bisa bantu apa supaya kamu tidak berhubungan dengan dia, supaya tidak ketemu dia lagi'," katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui telepon, Senin (8/1). 



Lebih lanjut, psikolog yang akrab disapa Fifi ini berkata, pada saat mengetahui bahwa pasangan berselingkuh, seharusnya ada kesadaran bahwa ia punya andil mengapa pasangan berselingkuh. Hidup bersama sebagai pasangan suami istri membuat masing-masing punya posisi yang mendukung untuk pasangan jadi positif atau sebaliknya. Apapun yang suami atau istri lakukan, ada hubungannya dengan pasangan. 

Bila isu perselingkuhan terdengar dari orang sekitar atau lingkungan, hal pertama yang dilakukan adalah mengecek kebenarannya. Kemudian, kata Fifi, melihat pasangan, sejauh mana keseriusannya. Ia mengatakan, ada beragam tipe-tipe perselingkuhan. 

Rumah tangga yang tidak harmonis memang rawan perselingkuhan karena orang ingin mencari yang lebih baik dan membuat dirinya nyaman. Rumah tangga yang harmonis pun bisa saja suami atau istri berselingkuh. Diawali dengan iseng-iseng semata, tapi kemudian malah 'nagih'. 

"Ini nih, mautnya 'Selamat pagi', 'Sudah makan apa belum', 'Lagi ngapain?', sapaan-sapaan ini sangat sederhana. Rumah tangga baik-baik saja, rutinitas dijalankan seperti biasa. Namanya rutinitas, pasti 'monoton'. Hal sederhana yang tidak dilakukan itu jadi spesial, itu manusiawi. Lucu juga tuh dijawab. Lama-lama ada kerinduan untuk disapa," jelasnya. 


Mungkin bagi yang sadar ada ketidakberesan, kemudian memutuskan untuk berhenti. Namun, ada pula yang merasa tidak rela kalau berhenti. Sesuatu yang nyaman, bahkan bisa dibilang hanya kenikmatan kecil, secara psikologis memang tidak serta merta bisa dihentikan. Fifi mengibaratkan hal ini dengan pola pikir orang yang sedang diet. 

"Orang diet, dia ngomong ke orang, terus kan tidak bebas makan lagi. Nah enggak usah diet lagi deh," tambahnya. 

Rasa aman, kata Fifi, mempermudah perilaku selingkuh. Rumah tangga yang baik-baik saja serta rutinitas yang berjalan seperti biasa membuat pasangan merasa aman berselingkuh. Namun, kalau sampai terjadi perselingkuhan, secara psikologis artinya ada titik hampa pada diri seseorang. 

"Apa yang dia inginkan belum terpenuhi, tapi dalem banget. Kalau ngulik dan diterapi pasti ada kekosongan. Kekosongan ini tidak disadari karena tertutup rumah tangga dan rutinitas yang dirasa baik-baik saja," ujarnya. 


Perlu update dengan perubahan

Rumah tangga dirasa baik-baik saja, harmonis dan segala rutinitas berjalan lancar. Namun, sebaiknya pasangan tidak terlena dengan situasi serba baik ini. Fifi mengingatkan para pasangan untuk senantiasa beradaptasi dengan perubahan. 

"Saya suka dia, hubungan baik-baik saja, menikah tahun 2016, tapi kan segala sesuatu berubah. Teman berubah, bos di kantor berubah, anak berubah, dulu baik-baik saja, sekarang gimana?" lanjut Fifi. 

Obrolan-obrolan kecil di rumah digunakan sebagai kesempatan untuk melakukan evaluasi serta membangun kesadaran adanya perubahan-perubahan di lingkungan sekitar, misalnya membicarakan anak yang mulai beranjak remaja, kondisi kantor suami setelah pergantian kepemimpinan atau harga barang kebutuhan yang mulai merangkak. Dari sini, bila nanti ada perubahan yang lumayan besar, pasangan bisa siap karena selalu sadar akan perubahan-perubahan kecil. 

Pasangan perlu saling terbuka dan mengungkapkan hal-hal yang dirasa tidak membuat nyaman. Fifi memberikan contoh pasangan suami istri yang harmonis. Sang suami merupakan pria yang bertanggung jawab dan mau membantu pekerjaan rumah. Pakai gadget atau gawai memang jadi hal biasa karena istri juga menggunakannya. 

Namun, sang istri menyampaikan bahwa ia merasa tidak nyaman dengan suaminya yang 'nyandu' gawai. Kecurigaan muncul karena jika hanya membaca berita, tentu tak akan sesering itu. Ini kemudian ditindaklanjuti istri dengan menyampaikan rasa tidak nyamannya pada sang suami. ia berkata, cara menyampaikan tergantung kebiasaan komunikasi dengan pasangan. 


"Hindari menyindir pasangan, misal dengan berkata 'terus tuh, terus', ini malah membuat orang makin melakukan. Orang dewasa tidak bisa dengan disindir, kalau anak kecil bisa ya. tapi kalau orang dewasa bisa sebel, marah," kata Fifi. 

"Waktu tahu pasangannya selingkuh, lalu menyindir 'iya sih, cowok zaman sekarang'. Orang yang salah pun enggak akan suka. Lebih baik panggil baik-baik, ngomong, 'aku ngerasa ya ma atau pa, kamu agak beda dari biasanya'. Kemudian tambah dengan 'maaf kalau aku salah' jika tidak punya data. Kalau ada data, bisa dengan 'boleh enggak aku tahu tentang si ini, atau kabar dari si itu'."

Perselingkuhan memang punya dampak terhadap sebuah hubungan, termasuk psikologis pasangan. Salah satu dampaknya ialah pasangan jadi bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya. Fifi berkata, yang salah jika orang merana dengan 'aku kenapa', kemudian langsung berubah menjadi pasangan yang sangat peduli. Ini sangat annoying alias mengganggu. 

"Orang berubah perlu, tapi perubahan seperti apa, jangan-jangan bukan itu. Tapi cara dia mengasuh anak atau apa," tambahnya. (rah/chs)