Kala Sampah Jadi Uang di Bandung

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Senin, 22/01/2018 14:15 WIB
Kala Sampah Jadi Uang di Bandung Sejumlah warga Cipaganti, Bandung menggelar Bazaar Belanja dengan Sampah yang masing-masing bisa mendapatkan keuntungan menukar sampah dengan uang. (Foto: CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Bandung, CNN Indonesia -- Meski tampak sepele, mengelola sampah bisa jadi aktivitas yang menyenangkan. Setidaknya itu yang dialami warga RW 5, Cipaganti, Bandung beberapa waktu lalu saat menggelar Bazaar Belanja dengan Sampah.

Di kawasan yang dilewati Sungai Cikapundung ini, bazaar dilaksanakan dengan cukup sederhana namun unik dan berbeda dari biasanya. Kaum ibu berdatangan sambil membawa sampah kering seperti kardus, botol plastik, gelas plastik dan sebagainya untuk ditimbang.

Sementara petugas timbangan mengepakkan sampah, para ibu menuju ke loket untuk mendapatkan voucher. Hasil penjualan sampah itu kemudian ditukar dengan sembako. Bahkan, mereka bisa menukarkan voucher dengan baju, sepatu dan sendal. Tentu dengan harga yang sangat terjangkau.



Gelaran aksi peduli akan sampah itu diinisiasi forum Gerakan Masyarakat Peduli Cikapundung yang menjalin kerjasama dengan sejumlah dosen dari beberapa universitas di Bandung. 

Ketua Gemericik, Ratna Lubis Nugroho mengatakan, delapan bulan lalu, masyarakat sekitar sudah diperkenalkan bank sampah. Konsep ini adalah salah satu cara menangani masalah pengelolaan sampah namun juga bisa menjadi alternatif untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.

"Awalnya kita gelar bazaar 17 Januari 2017 lalu. Dengan dana urunan kita bikin bazaar yang mana masyarakat kita ajak tukar sampah kering jadi sembako," ujar Ratna, pada Kamis (18/1).

Melihat animo masyarakat cukup besar saat itu, Ratna bersama forum dosen ini kemudian menggelar pertemuan dengan warga RW 05 pada bulan Mei tahun lalu. Dalam pertemuan tersebut, warga diberi wawasan soal pemilahan sampah.


Dia pun menggandeng Bank Sampah Bersinar (BSB) untuk mendampingi warga. Sejak Juli 2017, warga mulai rutin menyetor sampah setiap minggu kedua tiap bulannya.

"Bukan hanya setor timbang, tapi juga bagaimana mengepak dan menyusun agar rapi. Sampai sekarang sudah ada 8 RT yang ikut dan jumlahnya ratusan orang," kata dia.

Aktivitas bazaar belanja dengan sampah di Bandung. (Foto: CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)

Adapun penghasilan warga dari penjualan sampah disimpan dalam rekening bersama sehingga bisa diambil kapanpun. Bagaimanapun, kata dia, ibu-ibu terutama ingin mencari penghasilan alternatif. Jadi tak cukup untuk memberikan penyadaran. Agar partisipasi warga terus bertambah, dia pun menggelar bazaar kedua yang dilaksanakan tahun ini.

"Nah, untuk bazaar kedua ini kita ingin melakukan pengabdian lagi. Yang membedakan kita juga sediakan kebutuhan sandang selain sembako tentunya," ucapnya.

Kampung Daur Ulang

Pendiri BSB Fifie Rahardja mengungkapkan, untuk mengatasi permasalahan sampah di masyarakat salah satunya harus melibatkan masyarakat itu sendiri.


"Penting untuk mengajarkan masyarakat tentang memahami pertukaran ekonomi. Dari sampah yang dianggap masalah ternyata bisa ditukar dengan sembako," ujarnya.

Dalam riset yang dilakukan BSB, volume sampah di Kota Bandung saat ini bisa mencapai 1.600 ton/hari dengan jumlah penduduk sekitar 2,7 juta. Sedangkan sampah yang terangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir sampah (TPA) sebesar kurang lebih 1.100 ton/hari, dengan komposisi sampah organik sebesar 57% dan anorganik sebesar 43%.

Mengelola sampah dengan cara kreatif di Bandung. (Foto: CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)

Sebagai wilayah yang terletak di perkotaan, menurut Fifie, warga RW 05 Cipaganti kini telah mampu menangani persampahan yang kerap menjadi masalah utama.

"Di sini sudah ada 8 kelompok, masing-masing 10-20 orang. Itu juga yang menjadi pertimbangan kami melakukan pendampingan di sini. Melihat kesiapan dan antusias warga untuk jadi kampung daur ulang ke depannya," ucapnya.

Menurut dia, sampah plastik dihargai BSB lebih tinggi dibanding tempat lain sehingga hal itu pula yang menjadikan warga tertarik mengumpulkan sampah plastik.

"Marginnya lumayan. Satu warga bisa untung sekitar Rp30-50 ribu jika mengumpulkan dalam jumlah banyak," ungkapnya.

Selain menciptakan harga yang bersaing, BSB juga menjadi tempat menampung sampah plastik tersebut. Hingga saat ini, kata Fifie, masyarakat diajarkan tahap press barang. Nanti diajarkan juga bagaimana menjual ke pabrik sampai ke daur ulang.

Dia pun berharap, dengan adanya bank sampah di Cipaganti ini akan merambah pada sektor lainnya. Namun, hal itu harus dibantu stakeholder dan masyarakat.

"Harapannya tempat mereka jadi lokasi pariwisata. Turis bisa nonton, bahkan mungkin terlibat langsung cara mendaur ulang. Lihat antusias ini saya yakin bisa," jelasnya.


Tidak sedikit masyarakat yang merasakan manfaat dari hasil mengikuti kegiatan bank sampah ini. Menurut Tia Septia (54), dirinya mendapat uang hasil penjualan sampah sebesar 8.500 rupiah saat bazaar digelar.

"Saya belikan kebutuhan pokok seperti minyak, gula. Tadinya mau beli beras tapi sampah yang saya jual kebetulan masih sedikit jadi kurang uangnya," kata Tia yang baru satu bulan mengumpulkan sampah.

Eka Sari (28) mengaku senang karena sampah yang dikonversikan bernilai Rp9 ribu. Menurut dia, bukan cuma nilai pendapatan yang dikejar. Melainkan kebiasaan hidup yang kini lebih positif.
 
"Saya tadi cuma bawa kardus dan botol plastik. Kalau ingat saya simpan sampahnya di rumah. Kadang saya sampai mencari juga dibantu anak," tuturnya. (hyg/rah)