Hal tersebut menjadi topik dalam forum PB IDI yang dilaksanakan di Sekretariat PB IDI. Dalam forum tersebut, PB IDI menekankan pentingnya menambahkan vitamin A pada minyak goreng sawit (MGS).
"Masalah kekurangan vitamin A merupakan masalah yang membawa dampak buruk bagi kualitas sumberdaya manusia, pemerintah perlu diberi peringatan bahwa negara harus hadir mencegah kondisi yang memprihatinkan ini," ujar Ketua Umum PB IDI, Ilham Oetama Marsis, Jumat (23/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Semarak Hari Gizi Nasional 2018 |
"Salah satu unfinished agenda dalam bidang kesehatan di Indonesia adalah penanggulangan masalah kekurangan zat gizimikro atau hidden hunger," tambah Ilham.
Dengan demikian, PB IDI menilai strategi penanggulangan dengan cara fortifikasi adalah yang paling efektif. Sebab, strategi ini paling efektif dari segi biaya dibandingkan empat strategi lainnya. Empat lainnya itu adalah suplementasi, gizi seimbang, air bersih dan sanitasi, serta biofortifikasi.
Hasil survey pasar KFI Minyak Goreng Sawit Fortifikasi di Jabodetabek, Surabaya, Malang dan Lampung, yang dilakukan pada bulan September sampai dengan Desember 2017 ditemukan sebanyak 48 merk, diantaranya 35 merk difortifikasi dan telah memenuhi standar (kadar vitamin A lebih dari 20IU per gram).
Lihat juga:Puluhan Juta untuk Bujuk Dokter Ke Papua |
Forum menyampaikan bahwa sebelumnya Indonesia pernah melakukan fortifikasi wajib terhadap garam yodium tahun 1994, kemudian terigu dengan Fe, zinc, Asam Folat, vitamin B1 dan B12 tahun 2001.
Pakar gizi dan pangan akhirnya melahirkan wajib fortifikasi minyak goreng sawit dengan Vitamin A pada Maret 2015. Namun, pemberlakuan SNI yang seharusnya berlaku pada Maret 2015 diundur pertama kali ke Maret 2016, kemudian diundur lagi ke Desember 2018. (eks)