Tenun Pringgasela dari NTB Bakal Unjuk Gigi di Tokyo

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Sabtu, 17/03/2018 10:55 WIB
Tenun Pringgasela dari NTB Bakal Unjuk Gigi di Tokyo Desainer Wignyo Rahadi mengolah kain tenun Pringgasela, khas Nusa Tenggara Barat untuk ia kenalkan pada publik di Tokyo, Jepang. (Ilustrasi/Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wilayah Nusa Tenggara dikenal lewat keindahan kain tenunnya seperti songket serta ikat. Namun, rupanya masih ada kain tradisional yang patut diangkat keluar daerah dan di mata internasional yakni, tenun Pringgasela. Desainer sekaligus penggiat tenun, Wignyo Rahadi mengatakan dirinya bakal memperkenalkan tenun Pringgasela dari Nusa Tenggara Barat pada publik Tokyo, Jepang.

"(Kain) ini pernah saya angkat sekali. Setelah ini, saya ingin angkat kain di Tokyo, Jepang nanti pada 3 April di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia)," kata Wignyo saat ditemui usai peragaan busana di gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta Selatan, Rabu (14/3).

Sebanyak 10 look busana akan ia tampilkan dalam gelaran 'Indonesia Kain Party'. Kain memiliki motif yang cukup simpel dan warna-warna kalem seperti krem dan coklat.



Mengusung konsep etnik modern, Wignyo pun akan membawa koleksi ready-to-wear dengan sentuhan 'taste' busana tradisional Jepang. Dalam peragaan busana di gedung Kementerian Perindustrian, ia menampilkan 8 look. Beberapa di antaranya memiliki siluet kimono dan sentuhan detail berupa obi atau ban pinggang besar khas Jepang.

Kata 'modern' memang bisa disandingkan pada koleksi Wignyo yang bertema 'In Line' ini. Koleksi top berupa blus, blus berpotongan asimetris yang loose, blus serupa dengan cape, blus lengan panjang, juga terdapat outer berbentuk bolero. Untuk koleksi bawahan, terdapat celana 7/8 yang unik dengan sentuhan motif di ujungnya, rok pendek, serta celana kulot.

"Saya ingin menyentuh konsumen Jepang. Mereka (orang Jepang) sangat suka dengan warna kalem, pewarna alam. Desain ya ada sentuhan kimono, obi," katanya beralasan.

Tenun Pringgasela dari NTT Bakal Unjuk Gigi di TokyoPeragaan tenun Pringgasela, dari Tenun Gaya. (Foto: CNN Indonesia/Elise Dwi Ratnasari)

Khas tenun Pringgasela

Melihat tenun Pringgasela, tentu publik tak akan menyangka tenun ini turut hidup dan masih dilestarikan di wilayah Nusa Tenggara. Pilihan warna dan motif berbeda jauh dengan songket maupun ikat.

Wingnyo berkata, keserderhanaan motif tenun Pringgasela ini disebabkan oleh kondisi alam Lombok Timur. Wilayahnya didominasi sungai sehingga muncul inspirasi motif garis-garis. Motif garis atau lazim disebut motif Sundawa ini jadi ciri khas tenun Pringgasela.

"Saya dari awal sudah sangat tertarik dengan motif dan pewarna. Perwarnanya dari alam dan (pembuatan dengan) mesin gedogan. Pewarna dari kulit pohon, kunyit, tarung, daun mangga, kulit nangka," tambahnya.

Motif yang sederhana membuat pengerjaan kain memakan waktu relatif lebih cepat daripada tenun daerah lain. Wignyo berkata satu lembar kain berukuran 300 centimeter x 90 centimeter rata-rata bisa dikerjakan selama 2-3 minggu. Sedangkan tenun songket atau ikat bisa memakan waktu lebih lama tergantung dari kerumitan motif.

"Untuk persiapan ke Jepang dari Januari. Kami sempat ada kendala alam karena kan hujan terus jadi proses pengeringan lama," ujarnya. (rah/rah)