Alasan Atlet Selalu Menggigit Medali Emas Saat Difoto

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Senin, 19/03/2018 18:32 WIB
Alasan Atlet Selalu Menggigit Medali Emas Saat Difoto Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon, pasangan pebulutangkis asal Indonesia berhasil menjadi juara All England 2018 setelah mengalahkan pasangan Denmark di final. (Reuters/Peter Cziborra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon, pasangan pebulutangkis asal Indonesia berhasil menjadi juara All England 2018 setelah mengalahkan pasangan Denmark di final.

Pasangan Kevin/Marcus ini mendapatkan medali emas dan trofi. Namun dalam setiap momen penghargaan dan penobatan juara, selalu ada hal yang sama. Bukan cuma di pertandingan bulu tangkis, tapi juga di pertandingan lainnya.

Pemenang yang mendapat medali emas selalu berpose dengan mengigit emas yang tergantung di lehernya.


Apa sebenarnya alasan atlet selalu menggigit medali emasnya?

Ada beberapa alasan di baliknya. Namun yang paling menonjol adalah karena pose tersebut dianggap fotogenik, dan para fotografer senang mengabadikan gaya ini.

"Ini menjadi sebuah obsesi para fotografer," kata David Wallechinsky, presiden dari International Society of Olympic Historians dan juga rekanan penulis The Complete Book of the Olympics kepada CNN.

"Saya rasa mereka berpikir ini adalah sebuah pose ikonik, dan sesuatu yang menjual."

Mengutip Washington Post, menggigit sebongkah emas di medali ini juga dianggap sebagai langkah atlet untuk memastikan apakah emasnya asli atau hanya sebongkah 'batu' yang dicat emas atau pirit (batu mineral berwarna kekuningan dengan kilap logam).


Tak dimungkiri, gigi manusia lebih kuat jauh lebih kuat daripada emas namun lebih lembut dari pirit. Dengan kata lain, untuk menandai keaslian emas, terkadang menggigit akan meninggalkan identitas goresan di permukaannya. Sedangkan pirit yang keras akan merusak gigi.

Mengutip Pop Sugar, sebenarnya dalam pesta olahraga khususnya Olimpiade, medali emas yang diberikan kepada pemenang bukanlah emas murni 100 persen. Medali emas yang diberikan hanya mengandung 1,34 persen emas dan sisanya perak. Medali emas murni tak lagi diberikan sejak Olimpiade di Stockholm pada 1912 lalu. (chs/chs)


ARTIKEL TERKAIT