Sebelum teknologi maju seperti sekarang, pengamatan masih dilakukan secara manual.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian pada tahun 2011, seiring majunya teknologi, penelitian mulai menggunakan kamera trap, yang bisa mengambil foto dan video secara otomatis berdasarkan sensor gerak.
Kamera itu dipasang di area yang biasa dilintasi badak.
Berdasarkan hasil pengamatan melalui 40 kamera trap, di tahun 2012 diperoleh data terbaru populasi Badak Jawa yang mencapai 51 ekor, 29 jantan dan 22 betina.
Hingga tahun 2016, jumlah Badak Jawa yang berhasil dimonitoring melalui kamera trap sebanyak 67 ekor, yang terdiri dari 37 jantan dan 30 betina.
Pengamatan yang dilakukan pada tahun lalu juga telah menggunakan kamera video.
Dalam pengamatan tersebut, juga didapat video kegiatan pembalakan liar.
"Dari hasil identifikasi klip video badak jawa pada tahun 2017, badak jawa yang terekam kamera video trap sebanyak 57 ekor," kata Mamat.
Walau ada dalam pengamatan, namun jumlah Badak Jawa masih terancam punah.
Pada Februari kemarin, TNUK sempat geger karena ada sepuluh badak yang tak terekam oleh sekitar 100 kamera trap yang terpasang.
Mamat mengaku tidak menemukan adanya tanda-tanda kematian badak.
"Kemungkinan, dari sepuluh individu badak tersebut berpindah jalur, sehingga berada diluar jangkauan pengamatan kamera," kata Mamat.
Data yang dirilis oleh International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) mencatat Badak Jawa masuk dalam Zona Merah fauna langka di dunia karena hampir punah (critically endangered).
Merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar, Badak Jawa juga diklasifikasikan sebagai jenis satwa yang dilindungi.
Ada lima jenis badak di dunia, yakni Badak Putih, Badak Hitam, Badak Jawa, Badak Sumatera, dan Badak India. Dari sekian banyak jenis badak, tak ada yang benar-benar selamat dari kepunahan.
[Gambas:Video CNN]
(yan/ard)