Afrika Selatan Beri Alat Periksa Mandiri untuk Atasi HIV

AFP, CNN Indonesia | Kamis, 29/03/2018 17:54 WIB
Afrika Selatan Beri Alat Periksa Mandiri untuk Atasi HIV Untuk mengatasi stigma dan kekhawatiran orang dengan HIV/AIDS, Afrika Selatan mempergunakan alat periksa mandiri. (AFP Photo/Mujahid Safodien)
Jakarta, CNN Indonesia -- Alat periksa mandiri dan mesin penjual obat adalah dua cara pengobatan HIV yang disarankan untuk mengurangi stigma penyakit HIV dan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Afrika Selatan.

Tak dimungkiri bahwa Afrika Selatan adalah negara epidemik HIV terbesar di dunia dengan 7,1 warga penderita HIV.

Langkah mengurangi intervensi manusia yang dilakukan di negara itu membantu para pakar untuk menyasar kelompok yang sulit disentuh seperti pemuda. Kelompok ini seringkali tidak mau antre di klinik pengobatan umum.


Pelajar, buruh angkut dan pekerja kasar beramai-ramai mendatangi alat periksa mandiri HIV yang berada di satu toko serba ada di Hillbrow, wilayah kumuh di Johannesburg.
Proyek ini pertama kali diterapkan di Malawi, Zambia dan Zimbabwe pada 2015 dan tahun lalu mulai diperkenalkan di Afrika Selatan yang memiliki tingkat rata-rata pengidap HIV sebesar 18,9 persen di kalangan orang dewasa.

Satu tim kecil yang terdiri dari "pendidik sebaya" berpakaian necis mencoba meyakinkan pemuda berusia 18-30 tahun untuk memeriksa tubuhnya secara mandiri.

"Program ini menyasar pemuda dan jika kami mempekerjakan pemuda sebaya, jumlah warga yang berpartisipasi pun bertambah," kata Lynne Wilkinson, pakar Institute Kesehatan Reproduksi dan HIV, Universitas Witwatersrand.
Mulai bulan Mei mendatang, proyek ini akan diperluas ke pangkalan bus kecil Johannesburg yang dilalui oleh ratusan ribu komuter setiap hari.

Setelah warga mengisi formulir pendek, mereka diberi satu paket alat periksa dan memeriksa diri di dalam tenda yang tidak menyolok mata.

Pembelajaran

Warga yang akan memeriksa diri kemudian mengikuti satu panduan ringkas mengenai cara mengoleskan alat kecil ke gusi dan memasukkannya di satu tempat khusus.

"Panduan dibuat dalam enam bahasa dan sebagian besar warga bisa mengikuti panduan itu dengan benar," kata Mokgadi Mabuela, anggota tim yang bertugas membagi alat periksa mandiri dan memberi contoh penggunaannya.
Alat periksa mandiri HIV dilengkapi dengan petunjuk sederhana sehingga pengguna bisa memeriksa diri dengan tepat.  (AFP Photo/Mujahid Safoiden)
"Mereka bisa mengerti dengan cepat ketika mendapat penjelasan soal pemeriksaan mandiri - tapi banyak juga pemuda yang kemudian mengajak saya berkencan," ujarnya.

Dua puluh menit kemudian hasil pemeriksaan selesai, berupa garis yang mengindikasikan positif atau negatif.

Warga yang mendapat hasil positif kemudian ditawari untuk menjalai pemeriksaan konfirmasi, jika ternyata benar-benar positif mereka akan mendapat rujukan pengobatan.

Bagi warga yang tidak mau memeriksa di tempat, mereka bisa membawa pulang alat periksa mandiri itu.

"Minggu lalu saya lewat sini dengan saudara lelaki yang kemudian menjalani pemeriksaan. Sekarang saya lewat lagi. Ternyata sangat mudah dan saya periksa tubuh saya agar saya bisa tahu," ujar seorang pemuda yang menolak disebut namanya.

Alat yang dibagikan secara gratis itu, berisi petunjuk terkait langkah yang harus dilakukan jika hasil pemeriksaan mandiri di rumah menunjukkan hasil positif.
Ini merupakan proyek Unitaid, organisasi berbasis di Jenewa yang mengatakan bahwa satu dari 10 orang dengan HIV di dunia ini tidak tahu mereka terpapar virus tersebut.

Organisasi ini menyebarkan ratusan ribu alat periksa mandiri ke Afrika Selatan dan negara-negara tetangga. Secara total nanti jumlah alat periksa mandiri yang disebarkan itu akan mencapai 4,8 juta.

Salah satu yang mendapat hasil positif setelah diperiksa adalah Oscar Tyumre, musisi berusia 45 tahun dari Johannesburg Timur.

"Saya dinasehati pergi ke klinik mereka dan mengkonsumsi obat secepatnya," ujar Oscar.

"Saya dalam keadaan lemah saat itu, tetapi saya segera pergi ke klinik."

Tak takut

Oscar mengatakan bahwa dia merasa lega setelah tahu kondisi kesehatannya.

"Nasehat saya, jangan putus asa. Ini bukan akhir dari semua, kalian bisa langsung mendapat pengobatan dan hidup hingga 100 tahun," katanya seperti dikutip kantor berita AFP.
Pemeriksaan dan mesin obat mendiri dirancang agar identitas dan kerahasiaan pengguna terjaga dan tidak mendapat stigma terkait HIV.(AFP Photo/ Mujahid Safoiden)
Minggu lalu, lembaga nirlaba Afrika Selatan bernama Right ePharmacies meluncurkan mesin penyedia obat HIV yang bisa digunakan oleh orang dengan HIV mendapatkan pengobatan mereka tanpa harus bertemu muka.

Pasien bisa memanfaatkan mesin ini dengan menggunakan kartu anggota dan nomor rahasia untuk obat yang sesuai resep yang telah dibuat oleh dokter mereka sebelumnya.

Peraturan di Afrika Selatan mewajibkan obat dengan resep harus diberi oleh apoteker, untuk itu pasien melakukan pembicaraan lewat video sebelum obat dikeluarkan dari mesin. Proses ini hanya memakan waktu lima menit.

"Ini jauh lebih mudah dan lebih cepat," kata Philda Dladla yang dua bulan sekali mengambil obat lewat mesin itu.

"Sebelumnya, kami harus menunggu sepanjang hari di klinik. Ini mudah dan semua bisa memanfaatkannya, asalkan ingat nomor PIN!"
Ruang kecil tertutup tempat mesin itu diletakkan membuat warga bisa menjaga kerahasiaan kondisi kesehatan mereka.

"Satu-satunya cara orang tahu kondisi kesehatan anda adalah jika obat itu terlihat," kata Thato Mathabathe, manajer operasi program ini.

Saat ini ada empat mesin robot buatan Jerman ini di Afrika Selatan dan masing-masing berharga US$170 ribu.

Sekitar 200 pasien mempergunakan sistem ini setiap hari dan sejauh ini terdapat 16 ribu jenis obat seperti obat HIV/AIDS, diabetes, epilepsi, asma dan tekanan darah tinggi yang telah dikeluarkan mesin ini sejak September.

Tiga mesin tambahan akan segera ditempatkan di wilayah lain di kota Johannesburg. (yns/chs)