Kontroversi Metode 'Cuci Otak' Dokter Terawan

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Selasa, 03/04/2018 19:15 WIB
Kontroversi Metode 'Cuci Otak' Dokter Terawan Kepala RSPAD Gatot Subroto, Terawan Agus Putranto dipecat sementara dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ada dugaan karena metode 'cuci otak'. (Foto: CNN Indonesia/Rahman Indra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia kesehatan Indonesia gempar berkat berita pemecatan terhadap Kepala RSPAD Gatot Subroto, Terawan Agus Putranto. Berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), dokter spesialis radiologi ini melakukan pelanggaran kode etik berat (serious ethical misconduct).

Surat yang ditandatangani Ketua MKEK, Dr Prijo Sidipratomo bertanggal 23 Maret 2018 itu merupakan tindak lanjut keputusan MKEK PB IDI terhadap putusan Sidang Kemahkamahan Etik atas nama Terawan, dan telah berkekuatan putusan tetap.

Dengan bobot pelanggaran etik serius, MKEK PB IDI menetapkan sanksi berupa pemecatan sementara sebagai anggota IDI selama 12 bulan dari 26 Februari 2018 hingga 25 Februari 2019, dan diikuti pernyataan tertulis pencabutan rekomendasi izin praktiknya.


Aburizal Bakrie lewat akun Twitternya menyebutkan, Terawan dipermasalahkan karena metode 'cuci otak'-nya.



Dari informasi yang dihimpun CNNIndonesia.com, Terawan memang pernah memperkenalkan metode cuci otak untuk pengobatan stroke. Metode yang terkenal disebut brain flushing ditulis dalam disertasinya berjudul 'Efek Intra Arterial Heparin Flushing Terhadap Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Fungsi Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Kronis'.

Metode ini cukup menuai pro dan kontra di kalangan medis karena latar belakangnya sebagai seorang radiolog. Radiologi merupakan ilmu kedokteran yang menggunakan radiasi untuk diagnosis maupun pengobatan penyakit.


Dalam sebuah wawancara yang tertuang dalam situs Good To Know, Terawan disebut mengobati penyanyi veteran Benny Panjaitan, anggota grup Panbers. Benny lumpuh selama setahun akibat stroke. Keberhasilan pengobatan ala Terawan ini pun menyebar dan menuai berbagai reaksi termasuk anggapan bahwa ini hanyalah hoax.

"Bagi sebagian orang, saya adalah dukun," kata Terawan dikutip dari Good to Know.

Tindakan cuci otak atau Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) adalah modifikasi dari penggunaan teknik pencitraan dengan Digital Substraction Angiography (DSA). Kemudian tindakan dilanjutkan dengan flushing heparin dengan panduan kateter.

Ia menjelaskan pada otak penderita stroke terdapat bagian inti atau bagian otak yang mati dan penumbra atau bagian yang mati sebagian. Bagian yang rusak tidak bisa diperbaiki, tetapi bagian penumbra masih bisa. Menurut Terawan, intervensi radiologi dapat memperbaiki penumbra.


Pada kasus Benny, terdapat arteri yang terhambat sehingga membuatnya lumpuh. Brain flushing alias cuci otak mampu membersihkan sesuatu yang menyumbat arteri dan ia bisa berjalan lagi.

Dari sini, Terawan pun menangani pasien dari berbagai kalangan termasuk selebriti dan politikus, sebut saja di antaranya Dahlan Iskan, Yusril Ihza Mahendra, Abu Rizal Bakrie hingga Inggrid Kansil.

Temuannya yang 'tidak biasa' ini pun membuatnya diganjar berbagai penghargaan antara lain dari Hendropriyono Strategic Consulting (HSC) dan Penghargaan Achmad Bakrie XV yang diadakan oleh Yayasan Achmad Bakrie.

[Gambas:Instagram]

Namun hingga kini, PB IDI belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi pemecatan Terawan. Di sisi lain, Ketua IDI Daeng Muhammad Faqih justru menyayangkan bocornya surat keputusan MKEK ke publik.

"Yang perlu digarisbawahi hal ini adalah sebenarnya masalah ini adalah masalah internal organisasi terkait aturan-aturan etika, kepantasan dan kepatutan dalam rumah tangga profesi dokter. Dan sebenarnya bukan untuk konsumsi publik," kata dia saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (3/4). (rah/rah)


ARTIKEL TERKAIT