NASA Teliti Pengaruh Gravitasi terhadap Sperma

CNNIndonesia, CNN Indonesia | Rabu, 04/04/2018 02:47 WIB
NASA Teliti Pengaruh Gravitasi terhadap Sperma NASA mengumumkan bahwa mereka tengah meneliti kemungkinan reproduksi manusia di luar angkasa. (Ilustrasi NASA/Foto: REUTERS/NASA/Handout)
Jakarta, CNN Indonesia -- NASA mengumumkan bahwa mereka tengah meneliti kemungkinan reproduksi manusia di luar angkasa, Senin (2/4).

Untuk melakukan hal tersebut, NASA telah mengirim sampel sprema manusia dan banteng yang telah dibekukan ke stasiun luar angkasa internasional Micro-11 dengan roket Falcon 9 dari SpaceX milik Elon Musk. Falcon 9 telah meluncur dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat pada Senin.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari bagaimana keadaan tak berbobot berpengaruh terhadap kemampuan sperma menembus dinding sel telur. Nantinya, para astronot yang berada di stasiun luar angkasa akan mencairkan sperma tersebut, dan merekam gerakan sperma tersebut di luar angkasa.



Sampel sperma tersebut kemudian akan dikirim kembali ke bumi agar bisa dibandingkan dengan sperma yang ada di bumi, setelah ditambahkan bahan pengawet.

Sperma banteng dipilih untuk penelitian ini karena gerakan sperma banteng memiliki kemiripan dengan sperma manusia. Oleh karenanya, sperma banteng digunakan sebagai kontrol kualitas yang nantinya akan dibandingkan dengan sperma manusia.

"Kami belum tahu bagaimana penerbangan luar angkasa durasi lama memengaruhi kesehatan reproduktif manusia, dan investigasi ini akan menjadi langkah pertama dalam memahami kemungkinan reproduksi dalam kondisi gravitasi rendah," sebut NASA dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip The Register.


Ini bukan pertama kalinya sebuah agensi luar angkasa bereksperimen dengan mengirim sperma ke luar angkasa. Pada 1988, agensi luar angkasa dari Eropa pernah mengirim sperma bulu babi bersama roket. Tahun lalu, peneliti dari University of Yamanashi, Jepang juga menemukan bahwa anak tikus yang sehat dapat lahir dari sperma yang pernah dibekukan dan dikirim ke luar angkasa.

Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tidak adanya gravitasi di luar angkasa membuat sperma bergerak lebih cepat, namun lebih lama untuk menyatu dengan sel telur. (ast/rah)


ARTIKEL TERKAIT