Dikutip dari AFP, festival tahun baru umat Buddha versi Kerajaan Thailand ini sudah dimulai sejak Rabu (11/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya penduduk Thailand, turis mancanegara yang sengaja datang untuk Festival Songkran juga terlihat berbasah-basahan.
Selama berada di tengah keramaian, kawanan gajah tetap dipandu oleh mahout atau para penjaganya.
Mereka naik ke punggung gajah dan mengarahkan gajah untuk menyemprotkan air melalui belalainya.
"Hari ini anak-anak kami (gajah) merasakan kegembiraan bersama para pengunjung Festival Songkran di Ayutthaya. Mereka seakan ikut senang merayakan tradisi turun temurun ini," kata salah satu juru bicara festival, Tawan Sudso.
Tahun baru umat Buddha ini jatuh pada Jumat (13/3). Sebelum dan setelah tahun baru itu sejumlah kawasan mulai menggelar Festival Songkran.
Saling menyiram air menjadi tradisi dalam festival ini yang berarti mengusir karma buruk dan mendatangkan karma baik.
Tak hanya manusia, patung-patung di kuil juga ikut "dimandikan" selama festival berlangsung.
Diperkirakan akan ada 60 ribu lebih orang yang turun ke jalanan hingga puncak Festival Songkran pada akhir pekan ini.
Tapi ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Festival di tahun ini terasa lebih kaku, lantaran pihak berwajib ikut turun ke jalanan demi mengamankan suasana.
Kepemimpinan militer menjadi alasan banyaknya polisi dan tentara yang berjaga di setiap sudut Thailand saat ini.
Bahkan penjualan minuman alkohol ikut dibatasi saat Festival Songkran, karena ditakutkan ada keributan yang terjadi.
Selain di Thailand, Festival Songkran juga bakal digelar di negara tetangganya yang mayoritas Buddha, yakni Myanmar dan Laos.
(ard)