Serunya Bermain 'Skateboard' di Atap Rumah

hyg & CNN Indonesia, CNN Indonesia | Senin, 16/04/2018 19:20 WIB
Serunya Bermain 'Skateboard' di Atap Rumah Golosor Club di Bandung (CNN Indonesia/Huyogo)
Bandung, CNN Indonesia -- Beberapa waktu belakangan bermain skateboard tengah jadi tren. Banyak anak muda yang tertarik untuk memainkan dan melatih keseimbangan di atas papan beroda ini.

Hobi bermain skateboard memang dianggap mengasyikkan. Mereka yang bermain skateboard menjelajahi berbagai tempat untuk bermain skateboard seperti di jalan raya, skatepark dan halaman kompleks rumah.

Tapi, ada kalanya hobi berseluncur di atas papan tak bisa tersalurkan karena lokasi yang padat dan sempit.



Di Bandung, Jawa Barat, untuk menyiasati arena bermain skate itu kini dapat dilakukan sendiri di atap rumah.

"Karena tempat bermain mereka seperti lapangan voli sering dipakai tempat parkir ketimbang tempat bermain. Jadi, di sini mereka bermain sambil belajar skate," ujarnya.

Berbeda dengan rumah pada umumnya, hunian milik Eko Sulistyo (27), memikili mini ramp di bagian atapnya. Tujuannya, untuk memudahkan dia menyalurkan hobinya.

Rumah Eko berlokasi di Jalan Kawali 3 Nomor 28 Antapani, Bandung. Seorang kawannya, Fian Afandi (30) otak di balik pembuatan mini ramp tersebut.

"Mini ramp ini dibangun pada September 2017. Saya sendiri lagi senang main skate dan kebetulan membangun rumah. Fian yang bikin desainnya," kata Eko saat ditemui di rumahnya, akhir pekan lalu.

Fian yang ahli ilustrasi mengerjakan perancangan mini ramp di atap rumah Eko. Hasil desainnya kemudian diterapkan pada bidang bangunan seluas 84 meter persegi tersebut.

Adapun mini ramp dengan luas 36 meter persegi dengan tinggi 1-1,5 meter dikerjakan dalam waktu tiga bulan. Kedua sahabat itu pun sepakat memberikan nama tempat bermain skate mereka dengan sebutan Golosor Club.

Selain teman dekat, ada pula dari luar kota yang khusus untuk melatih kemampuan bermain skate di atap rumah ini. Terutama setiap hari Sabtu dan Minggu.

"Biasanya kami main dari pagi jam 8 sampai sore," tutur Eko yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai PPAT ini.

Golosor clubFoto: CNN Indonesia/Huyogo
Golosor club

Bikin Penasaran

Kehadiran Golosor Club di Antapani menjadi daya tarik tersendiri. Selain dikenal sebagai arena bermain skate, Golosor Club pun menjelma jadi nama komunitas mereka.

Keanggotaannya pun sangat berangam, mulai dari mereka yang masih duduk di bangku SD, sekitar umur 8 tahun hingga ada yang berumur sekitar 30 tahunan. Selain laki-laki, komunitas ini juga punya anggota perempuan.

Eko mengungkapkan, sejak adanya Golosor Club, tetangganya yang rata-rata masih tergolong anak-anak banyak yang penasaran dan menyaksikan langsung cara bermain skate.

Selain tak ada fasilitas bermain skate di lingkungan mereka tinggal, kehadiran komunitas ini juga ingin memberikan kesempatan bagi para pemula. Namun, sebelum akhirnya mereka ikut bermain skate, khusus anak-anak diberikan teknik dasar.

"Mereka harus membiasakan berlatih di trek datar terlebih dulu. Kira-kira satu sampai dua hari," ujarnya.


Siapa saja yang sudah mahir, kata Fian, diharapkan bisa membimbing anak-anak. Tentunya sebagai fungsi pengawasan terhadap anak-anak yang ikut bermain skate di sini.

"Siapa saja yang sudah bisa main skate ngajarin anak-anak sekalian. Karena pada dasarnya kita ingin memasyarakatkan skateboard," ucapnya.

Ikbal Arifin (27) termasuk yang rajin menyambangi mini ramp milik Eko. Dengan adanya tempat bermain skate ini ia bisa melatih sejumlah trik.

Golosor ClubFoto: CNN Indonesia/Huyogo
Golosor Club

"Alasan saya bermain di sini karena memang sudah kenal sama orang-orangnya. Ini tempat main skate pertama di Antapani," kata Ikbal.

Antusias yang sama juga dirasakan Rizky (9) dan M Raga (13). Rizky yang baru sekitar satu bulan bermain skate tampak sudah mantap melakukan pendulum di atas mini ramp.

"Saya main skate bisa sampai sore. Soalnya senang banyak teman," ujarnya.

Sementara Raga mengaku tertarik bermain skate karena ada papan skate yang disediakan tuan rumah. Terjatuh atau tergelincir saat meluncur sudah jadi hal yang biasa baginya.

"Sakit tapi sudah biasa. Enaknya ada yang selalu ngajarin bermain skate," tukasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Revina (12) pemain skate perempuan. Setelah mendapat teknik dasar, ia kini semakin tertantang untuk belajar teknik baru dari para skater yang sudah berpengalaman.

"Awalnya lihat saja, lama-lama jadi tertarik. Tapi saya harus banyak belajar lagi," ucapnya.

(chs)