Seba Badui, Saat Keluarnya Para Petapa

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 21/04/2018 15:46 WIB
Seba Badui, Saat Keluarnya Para Petapa Suku Badui Dalam dan Luar menggelar prosesi adat Seba. (CNN Indonesia/Yandhi Deslatama)
Lebak, CNN Indonesia -- Sebanyak 1.388 Suku Badui Dalam dan Luar menggelar prosesi adat Seba. Suku Badui Dalam berjalan puluhan kilometer dari desa adatnya, di Leuwidamar, menuju Pendopo Kabupaten Lebak, Kecamatan Rangkasbitung. Sedangkan Suku Badui Luar, menaiki kendaraan roda empat dari Terminal Ciboleger, tak jauh dari lokasi Badui Luar.

Suku Badui yang diwakili oleh Jari Saidi Putra, jaro bagian adat, menyerahkan Laksa, atau saripati hasil terbaik alam, seperti beras, gula aren, hingga kacang-kacangan ke pemerintah Kabupaten Lebak.

Dalam kesempatan ini, mereka meminta agar ada penetapan secara resmi desa adat oleh pemerintah daerah dan pusat.
"Mudah-mudahan seluruh instansi, dari daerah dan pusat. Kami setiap kali melakukan rapat adat, kami belum pernah denger adanya penetapan suku adat. Semoga ke depannya ada," kata Jaro Saidi Putra, di Pendopo Kabupaten Lebak, Jumat (20/4).


Prosesi adat Seba, meski belum ada catatan resmi sejarahnya, diyakini telah berlangsung selama ratusan tahun, sejak 1526 Maeshi. Saat Kerajaan Demak memperluas wilayah kekuasaannya ke Banten dan mendirikan Kesultanan Banten.

Seba Badui, Keluarnya Para PetapaDalam prosesi Seba, Suku Badui menyerahkan hasil panen ke pemerintah. (CNN Indonesia/Yandhi Deslatama)
Upacara adat Seba digelar setelah Urang Kanekes melaksanakan Puasa Kawalu selama tiga bulan dan musim panen tiba. Selama tiga bulan itulah masyarakat luar dilarang memasuki wilayah Badui Dalam, yakni Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana.

Usai puasa, mereka pun menggelar rapat adat untuk menetapkan tanggal kapan dilaksanakannya Seba.

Seba memiliki makna ketaatan dalam melaksanakan amanah leluhur, yang harus tetap dilakukan dalam keadaan apapun. Ketaatan dalam menjaga kelestarian alam, menghormati para leluhur hingga pimpinan.

Ketaatan ini terlihat dari pemberian hasil bumi Suku Badui ke pemerintah di Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten. Selain itu, mereka pun bersilaturahmi ke pemerintah Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang.
Bagi Suku Badui Dalam sendiri, biasanya mereka berangkat sebelum fajar menyingsing. Sebelum berjalan kaki, mereka akan nginang atau makan Rajah yang telah didoakan pada malam sebelum keberangkatan.

Dengan berjalan kaki tanpa alas, para pertapa ini menelusuri sawah dan hutan di Kabupaten Lebak, hingga sampai di hulu Sungai Cigolear. Mereka melakukan upacara adat Damarwilis atau bersuci.

Tujuannya, agar kesalahan yang telah dilakukan dan kekurangan di setiap diri warga Badui peserta Seba, dapat dimaafkan oleh Yang Maha Kuasa.

Setelah bersih-bersih, para Suku Badui Dalam ini melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju Kecamatan Leuwidamar untuk bersilaturahmi dengan pihak kecamatan, lalu di lanjutkan menuju Pendopo Kabupaten Lebak.

Mereka menginap semalam di Pendopo Kabupaten Lebak, dengan hiburan wayang golek semalam suntuk. Hari ini Sabtu (21/4), mereka melanjutkan perjalanan menuju Pendopo Lama Gubernur Banten, untuk melakukan Seba di Kota Serang. (yan/stu)


ARTIKEL TERKAIT