Panitia perlombaan yang digelar tahunan oleh Natural History Museum di London, Inggris, memiliki dugaan kuat bahwa fotografer asal Brasil itu memotret trenggiling mati yang sudah diawetkan (taxidermy), bukan trenggiling sungguhan, untuk kebutuhan fotonya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fotonya diberi judul 'Penjarah di Malam Hari (The Night Raider).'
Ironisnya, pajangan trenggiling tersebut terlihat mirip dengan yang dipajang di pusat kunjungan turis di sana.
"Kami membatalkan kemenangannya dalam kontes pada tahun lalu setelah ada saksi yang membuktikan kalau binatang yang difotonya hanyalah trenggiling yang diawetkan," tulis juru bicara Natural History Museum, seperti yang dikutip dari AFP pada Minggu (30/4).
"Setelah dilakukan investigasi, kami sepakat membatalkan kemenangannya, karena sang juara harus memotret kehidupan alam liar yang asli," lanjut keterangan tersebut.
Juru bicara museum tak memberi keterangan lebih lanjut mengenai saksi mata yang melaporkan kecurangan tersebut. Ia hanya menyebutkan bahwa saksi mata memberi pengaduan pada bulan Maret kemarin.
Tak tanggung-tanggung, pihak Natural History Museum langsung mendatangkan ahli pengawetan binatang untuk membuktikannya.
Hasilnya terbukti bahwa gerak-gerik trenggiling yang asli tidak "sesempurna" yang ada di foto Cabral.
Pihak Natural History Museum sudah menghubungi Cabral terkait dugaan ini, namun sang fotografer mengelak karyanya disebut curang.