Met Gala 2018, Arti dan Tema Kontroversial Fesyen dan Katolik

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Selasa, 08/05/2018 08:15 WIB
Met Gala 2018, Arti dan Tema Kontroversial Fesyen dan Katolik ilustrasi Met Gala 2017 (REUTERS/Eduardo Munoz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ajang Met Gala 2018 diselenggarakan pada Senin (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art, Amerika Serikat.

Di tahun ini, Met Gala yang diselenggarakan oleh Costume Institute ini akan mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and teh Catholic Imagination.

Sama seperti ajang bergengsi lainnya di Amerika, Met Gala akan dihadiri oleh sejumlah selebriti dalam balutan busana unik dan cantik.



Namun, apa sebenarnya Met Gala?

Met Gala adalah acara terbesar dalam kalender penggalangan dana untuk dunia mode. Ajang ini diinisiasi oleh Eleanor Lambert, seorang penerbit AS.

Hasil penggalangan dana ini pertama kali dirasakan pada 1948 dan menyebabkan meningkatnya antusiasme masyarakat kelas atas New York untuk berdonasi.

Dalam perkembangannya sampai saat ini, wajah-wajah terkenal dari dunia selebriti, musik, film, dan seni berkumpul dalam satu tempat dan mengumpulkan dana. Bersamaan dengan penggalangan dana ini, sebuah pameran seni, fesyen, musik dan lainnya juga digelar.

Met Gala modern

Sejak tahun 1995, ajang ini dipimpin oleh kepala editorial Vogue Amerika Anna Wintour.

Met Gala 2018 menandai perayaan ke-70 tahun ajang penggalangan dana ini. Untuk menandai istimewanya tahun ini, Wintour menggandeng Amal Cloonery, Rihanna, dan Donatella Versace sebagai rekanan 'ketua panitia.'

Di tahun sebelumnya, tema yang pernah diangkat adalah Manus X Machina and Punk, Chaos to Couture to China, Through the Looking Glass. Dan di tahun ini, tema yang sedikit menyentuh ranah religius adalah Heavenly Bodies: Fashion and the Catholic Imagination.


Tema yang bernuansa keagaaman ini disinggung-singung menyebabkan selebriti tak terlalu antusias dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018.

Mengutip Vogue, tema ini jadi kontroversial karena memposisikan mode bersama dengan artefak atau benda suci Vatikan.

"Beberapa orang mungkin berpikir bahwa fesyen tak cocok atau tak pantas bersanding dengan ide atau hal-hal lain yang dianggap sakral atau suci. Tapi pakaian adalah pusat dari segala diskusi tentang agama," kata Andrew Bolton, kurator pameran dalam konferensi persnya di Roma.

"Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama."

Dalam pameran mode ini, ada sekitar 40 pakaian dan aksesori yang mencakup 15 benda. Barang-barang seperti jubah putih Paus Benediktus XV yang disulam dengan benang emas, topi uskup Paus Leo XIII akan dipajang bersama dengan Coco Chanel, John Galliano, Cristobal Balenciaga, dan Donatella Versace. (chs/chs)