Bukan kebun sembarang kebun, perkebunan tersebut merupakan peninggalan penjajah Belanda, yakni Pabrik Gula Olean (PG Olean) Desa Olean.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelum membawa turis, kereta uap "dipanaskan" terlebih dahulu oleh pengelola, dengan membakar kayu sebagai bahan bakar uapnya hingga lima jam.
Jika tak punya banyak waktu menunggu, turis juga bisa memilih naik kereta bermesin diesel yang tarifnya lebih murah yakni Rp500 ribu per rombongan.
Atraksi wisata ini mulai dikembangkan setelah banyak turis mancanegara yang datang dan meminta pengelola menghidupan kereta uap yang lama terparkir di gudang.
"Kereta uap yang ada buatan tahun 1902 dan sampai sekarang masih beroperasi normal," kata Wulandari, salah satu pemandu wisata seperti yang dikutip dari Antara pada Jumat (11/5).
PG Olean beroperasi sejak tahun 1846. Pabrik gula ini merupakan satu dari sekitar 16 pabrik gula yang dibangun Belanda di Jawa Timur.
Ketika itu industri gula di Jawa Timur merupakan yang terbesar ke-dua setelah Kuba. Hasil produksinya juga dikenal berkualitas baik.
Pada tahun 1957 seluruh aset milik Belanda direbut oleh pemerintah Indonesia. Sayangnya pabrik gula yang ada dibiarkan menua sebagai bangunan bersejarah.
Pemerintah Kabupaten Situbondo menyambut baik paket wisata yang ditawarkan PT Perkebunan Nusantara XI. Bagi mereka, niat tersebut sejalan dengan rencana pemerintah setempat mempromosikan sektor wisata Situbondo.
"Pengembangan pariwisata di PG Olean sudah sejalan dengan pemerintah daerah yang mencanangkan Tahun Kunjungan Wisata 2019," kata Bupati Situbondo Dadang Wigiarto.
[Gambas:Instagram]
(ard)