Surat dari Rantau

Menahan Lapar 17 Jam di Turki

Didid Haryadi, CNN Indonesia | Minggu, 27/05/2018 16:47 WIB
Menahan Lapar 17 Jam di Turki Pemandangan matahari terbenam di Istanbul, Turki. (Anadolu/Berk Özkan)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam bahasa Turki, Ramadan disebut Ramazan. Sementara puasa mendapat sebutan oruç.

Tahun ini Ramadan datang di musim semi. Suhu yang hangat cukup berdamai dengan kami yang harus berpuasa selama 17 jam, mulai dari sahur pukul 03.30 pagi sampai berbuka puasa pukul 20.30 malam.

Selama di Turki saya bermukim di Istanbul. Walau 99 persen penduduknya beragama Islam, namun negara ini merupakan negara sekuler.


Di ibukota Turki ini keberagaman sangatlah terasa, mirip dengan Jakarta, hanya saja berbatasan langsung dengan Eropa.

Ada empat masjid besar yang menjadi pusat beribadah masyarakat di Istanbul, yakni Masjid Eyüp, Masjid Sultanahmet, Masjid Fatih dan Masjid Suleymaniye.

Selama Ramadan, keempat masjid itu selalu menggelar acara buka puasa dan salat Tarawih.

Karena bertepatan dengan musim semi, banyak masyarakat yang datang untuk berbuka sambil piknik bersama keluarga atau teman-temannya.

Penduduk Turki bisa dibilang gemar kumpul-kumpul. Bahkan saya pernah bertemu satu kelompok yang berbuka, Tarawih sampai sahur di Masjid Eyüp. Masjid ini memang buka selama 24 jam selama Ramadan.

Saya dan teman-teman biasanya berbuka puasa di Meydan. Di sini ada pasar kaget yang menjual berbagai macam makanan dan minuman untuk santapan.

Pemerintah juga biasanya menggelar tenda kuliner gratis yang selalu diserbu pengunjung.

Berbeda dengan Indonesia, tidak ada larangan untuk menutup tempat makan minum di Turki selama bulan puasa.

Meski ada yang tutup tapi lebih banyak yang beroperasi, terutama untuk menjamu turis non-Islam.

Menahan Lapar 17 Jam di TurkiMasjid Eyüp di Istanbul. Turki. (Thinkstock/metindogan1967)

Rerata bilangan shalat Tarawih di Turki adalah 21 rakaat. Bagaimana dengan bacaan shalatnya? Apakah lantunannya juga cepat seperti yang jamak kita jumpai di Indonesia? Jawabnya, beberapa masjid ada yang demikian.

Bahkan ada yang hanya sekali tarikan napas untuk membaca Basmallah.

Masjid Eyüp menjadi masjid favorit di Istanbul. Masjid ini juga menjadi salah satu objek wisata religi di Turki karena ada makam sahabat Nabi Muhammad SAW, Abu Ayyub al-Anshari.

Nama masjid ini juga dinamakan dari nama panggilan beliau, Eyup. Salat Tarawih di Turki dimulai pukul 22.30 atau 15 menit setelah salat Isya.

Rentang waktu antara Tarawih, Isya dan makan sahur terbilang singkat sehingga banyak yang menunggunya sambil melakukan itikaf.

Turki juga menggelar lomba membaca dan menghafal Al Quran tingkat internasional selama Ramadan.

Peserta dari Indonesia tak pernah absen bahkan sempat menjadi juara satu pada tahun 2016.

Salah satu hal yang juga berkesan bagi saya selama Ramadan di Turki ialah penduduknya saling memberi ucapan saat malam Lailatul Qadar tiba.

Ucapannya berupa 'Kadir geceniz mübarek olsun, Dualarda buluşalım' atau yang berarti 'Selamat malam Laitlatul Qadar yang diberkati. Kita berjumpa dalam doa'.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ardita@cnnindonesia.com, ike.agestu@cnnindonesia.com, vetricia.wizach@cnnindonesia.com.

Kami tunggu!

(ard)