Perempuan 'Pencium' Aroma Kematian Manusia

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Senin, 04/06/2018 09:32 WIB
Perempuan 'Pencium' Aroma Kematian Manusia ilustrasi makam (Thinkstock/Ablestock.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kematian adalah hal yang bisa datang tiba-tiba. Tak ada manusia satu pun yang bisa memprediksi datangnya kematian.

Hanya saja, seorang perempuan berusia 24 tahun bernama Ari Kala dari New South Wales, Australia mengklaim kalau dirinya punya kemampuan tersebut. Kala mengklaim dirinya bisa mengetahui kematian seseorang hanya dengan menciumnya. Kala mengungkapkan dia bisa mencium aroma kematian seseorang.

Perempuan asal Australia ini mengungkapkan kalau dia menemukan bakat uniknya ini ketika berusia 12 tahun, saat dia mengunjungi pamannya yang sakit keras.



Dia berusaha mengingat kembali saat dia mencium aroma aneh dari rumah pamannya di malam sebelum pamannya meninggal. Namun tak seorang pun selain dirinya yang bisa menicumnya. Dia pun berpikir kalau itu adalah pertanda.

"Setahun sebelum saya mulai sekolah menengah, saya mengunjungi paman agar bisa menemaninya sebelum meninggal. Malam sebelum meninggal, saya mencium aroma aneh di rumahnya. Saya pikir ini hanyalah bau biasa yang tak pernah saya cium sebelumnya," kata Kala dikutip dari Oddity Central.

"Tapi tak ada orang lain yang bisa menciumnya. Saya sadar bahwa itu adalah aroma kematian yang bisa saya cium."

Kala menggambarkan aroma itu sebagai aroma yang aneh, seperti bau busuk yang lebih menyengat. Tak cuma sekali, selama hidupnya, berkali-kali dia mencium aroma itu.

Aroma tersebut akhirnya dikenalinya sebagai aroma kematian seseorang, khususnya di antara orang dengan penyakit kronis atau pun orang tua.


Hanya saja, mengklaim diri bisa memprediksi kematian seseorang bukan hanya mengerikan buatnya, tapi juga dianggapnya tak berguna. Masalahnya, saat dia mengatakan bisa mencium aroma kematian dari tubuh seseorang, orang itu sudah tak bisa lagi ditolong. Jadi memberitahu orang-orang itu bahwa mereka akan meninggal dunia dianggap tak berguna dan tak masuk akal.

"Terkadang itu jadi seperti beban. Saya sejak dulu ingin mengatakan sesuatu, namun saya sadar itu bukan tugas saya," katanya.

"Saya merasa hal ini bisa mengganggu nasib mereka."


(chs/chs)


ARTIKEL TERKAIT