Kota Terlarang Mulai Batasi Jumlah Wisatawan

ANTARA, CNN Indonesia | Sabtu, 04/08/2018 12:55 WIB
Kota Terlarang Mulai Batasi Jumlah Wisatawan Ilustrasi wisatawan di Kota Terlarang, Beijing, China. (Foto: AFP PHOTO / WANG ZHAO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kota Terlarang atau Forbidden City yang terletak di Beijing, China, selama ini hanya berwujud ekspektasi dalam daftar kunjungan saja. Namun saat ada kesempatan untuk mengunjunginya, ekspektasi itu pun seketika berubah menjadi realita.

Bisa dipatikan, setiap wisatawan ketika sampai lokasi ini akan selalu ingin menikmati semua yang ada di setiap sudut Kota Terlarang. Namun karena luasnya wilayah dan ramainya pengunjung, membuat prioritas tujuan adalah hal yang paling masuk akal dan ramah di betis.

Dengan luas sekitar 720.000 meter persegi atau 80 kali lapangan sepak bola berstandar internasional, nampaknya tidak ada orang normal yang mampu menjelajahi tempat ini secara detil dalam waktu satu hari.


Belum lagi, lorong dan jarak antar pintu gerbang di sisi kiri dan kanan lokasi kerajaan ini cukup luas dan lebar.

Demi menjaga keaslian tempat wisata yang telah ditetapkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia, tidak disediakan alat transportasi untuk menjangkau setiap pintu. Wisatawan hanya diperkenankan jalan kaki dari satu lokasi ke lokasi lain. Sungguh melelahkan.

Kota Terlarang merupakan satu dari sekian banyak destinasi wisata yang ada di China. Kini lokasi itu murni dijadikan sebagai tempat wisata, dan menjadi tujuan utama wisatawan mancanegara selain Tembok Besar China.

Secara geografis, Kota Terlarang berada di sebelah utara Lapangan Tiananmen. Kota ini dikelilingi tembok setinggi 10 meter, di dalamnya terdapat pembatas antar gerbang setinggi lima meter serta terdapat koleksi struktur kayu kuno terbesar di dunia.

Untuk masuk kawasan Kota Werlarang, wisatawan hanya perlu membayar 40 Yuan (sekitar Rp85 ribu) untuk hari biasa, dan 60 Yuan (sekitar Rp125 ribu) untuk hari libur.

Pengawasan dan pembatasan

Meskipun saat ini turis bisa bebas berseliweran di Kota Terlarang, namun para tentara tetap menjaga setiap sudutnya dengan ketat.

Tentara itu berdiri tegap tanpa geming, meskipun sesekali mereka melirik aktivitas wisatawan dengan tujuan keamanan.

Tujuan penjagaan yang terkesan 'membatasi gerak' wisatawan ini adalah agar tidak sampai menjamah beberapa situs dan barang peninggalan di istana tersebut. Karena di lokasi itu terdapat 800 bangunan, dan lebih dari 8.000 ruangan peninggalan Dinasti Ming dan Dinasti Qing.

Saat ini, pengelola Kota Terlarang pun sudah menerapkan pembatasan jumlah wisatawan ke lokasi itu dalam satu hari.

Lokasi wisata yang terletak di Distrik Dongcheng itu, membatasi diri untuk 80 ribu orang per hari. Sebelumnya jumah kunjungan wisatawan perharinya bisa mencapai 100 hingga 180 ribu orang per hari.

Pembatasan jumlah pengunjung bertujuan agar barang-barang peninggalan tetap lestari dan pengunjung tetap nyaman.

"Kami akan meningkatkan pola manajemen dan menjalankan mekanisme penjualan tiket pada periode tertentu mulai tahun depan," kata Direktur Museum Istana Kota Terlarang, Shan Jixiang, seperti yang dikutip dari Antara.

Pada tahun 2017, Kawasan Kota Terlarang telah kedatangan pengunjung sejumlah 16,7 juta orang. (agr/ard)