Para Pemberontak 'Penyerang' Kantong Plastik

Asri Wulandari, CNN Indonesia | Rabu, 15/08/2018 10:50 WIB
Para Pemberontak 'Penyerang' Kantong Plastik Ilustrasi. Foto: REUTERS/Navesh Chitrakar
Jakarta, CNN Indonesia -- Apa jadinya jika sekelompok pelanggan mendatangi supermarket untuk berbelanja bersama, kemudian--bersama-sama pula--menggunting semua kemasan plastik dari barang-barang yang dibeli dan menyimpannya begitu saja di depan toko?

Bagi pemilik toko, itu menyebalkan. Namun, para 'pemberontak plastik' ini senang dengan apa yang dilakukannya.

Sekitar 25 pelanggan di salah satu supermarket di Inggris, merobek kemasan plastik dari barang-barang yang telah dibelinya dan meninggalkannya begitu saja di tempat penampungan dekat toko.



"Kami memutuskan sudah waktunya menunjukkan kepada supermarket betapa banyak pembeli yang khawatir tentang jumlah kemasan plastik pada makanan mereka," jelas Alex Morrs, orang yang membantu mengatur acara 'serangan plastik' pertama dikutip dari CNN

'Penyerangan' ini juga berlanjut di supermarket lainnya. Para pelaku penyerangan bukanlah sekumpulan orang-orang kurang kerjaan, tapi sekelompok orang yang peduli akan masifnya penggunaan plastik di supermarket. Apa yang mereka lakukan adalah bentuk protes terhadap semakin banyaknya sampah plastik di dunia.

Gerakan ini dikenal dengan sebutan "plastic attack" atawa "serangan plastik". Dimulai sejak awal 2018 di Inggris, kini gerakan itu telah mendunia. Sekarang, ada lebih dari 100 aksi serangan plastik di dunia seperti di beberapa negara Eropa, Hong Kong, Korea Selatan, Kanada, Peru, dan Amerika Serikat.


Gerakan itu semakin meningkat ketika sejumlah video serangan plastik pertama mulai dibagikan di media sosial. Tak lama kemudian, orang-orang di seantero dunia mulai turut serta melakoni aksi yang sama di tempat tinggalnya masing-masing.

Di Belgia, Christopher Steyaert terinspirasi dari aksi serangan plastik generasi pertama di Inggris. Dia kemudian memulai pergerakan itu melalui laman Facebook bernama Plastic Attack Global. Di sana, dia menyarankan warga dunia untuk melakukan hal yang sama. Saat ini, dia tengah membantu mengatur serangan plastik di Belgia, Kolombia, dan Spanyol.

"Ini adalah gerakan yang terdesentralisasi. Kami mencoba menjangkau orang sebanyak mungkin. Tak hanya pelanggan, tapi juga toko-toko, industri yang menciptakan plastik, dan pemerintah," ujar Steyaert.

Steyaert mengatakan, di negaranya, aksi serangan plastik ini telah menarik perhatian ratusan orang. "Kami hanya orang biasa yang sadar akan permasalahan dan ingin melakukan sesuatu," kata dia. Cara terbaiknya adalah cukup dengan berusaha mengubah kebiasaan diri sendiri dan menyebarkan informasi bahwa mengurangi sampah plastik tak sulit untuk dilakoni.

Usaha Sederhana Kurangi Sampah Itu Bernama Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika

Perdebatan soal plastik tengah memasuki arus utama. Wajar saja, sebab kondisi sampah plastik di dunia telah berada pada kondisi yang mengkhawatirkan. Produksi global dan konsumsi plastik terus mengalami peningkatan.

Menyitat laman resmi Plastic Pollution, sebuah penelitian yang dilakukan oleh kelompok kerja ilmiah di Pusat Analisis dan Sintesis Ekologi Nasional UC Santa Barbara (NCEAS) mencatat adanya 8 juta metrik ton plastik yang berakhir di lautan.

Aksi ini bergerak melalui media sosial. Di sana, sejumlah relawan atau aktivis akan bertemu dan bersepakat untuk melancarkan aksi serangan plastik. Di Hong Kong, misalnya, James-Marlow Smith, pria asli Inggris yang telah menetap di Hong Kong sejak 2015 lalu, mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam gerakan ini melalui sebuah laman Facebook.

"Selama beberapa tahun terakhir, masyarakat Hong Kong kian sadar akan kebutuhan untuk mengurangi sampah plastik," kata Marlow-Smith, mengutip South China Morning Post. Hong Kong, kata dia, telah kehabisan tempat pembuangan sampah.

Marlow-Smith tidak melarang semua penggunaan plastik. "Orang-orang berpikir bahwa plastik akan membuat buah dan sayuran lebih aman. Saya paham itu," katanya. Dia lebih menyasar penggunaan polystyrene atau kotak plastik yang kerap digunakan untuk membungkus makanan.


Sebelumnya, Marlow-Smith sempat menginisiasi gerakan membersihkan bibir pantai di Tsuen Wan, Hong Kong. Setelah itu, dia mengalihkan perhatiannya pada aksi serangan plastik di supermarket. "Saya memperhatikan berita tentang serangan plastik di London. Saya bertanya-tanya, mengapa itu tidak bisa terjadi juga di sini," kata Marlow-Smith.

Data Pemerintahan Hong Kong menunjukkan, sebanyak 2.132 ton plastik dibuang ke TPA setiap harinya dengan hanya 7% di antaranya yang didaur-ulang. Pemerintah sebenarnya telah membuat beberapa kebijakan, seperti meniadakan minuman kemasan yang biasa dijual di mesin-mesin otomatis di sejumlah gedung pemerintahan dan menerapkan biaya 50 sen untuk satu tas belanja plastik. "Tapi tak ada undang-undang yang membatasi penggunaan plastik tunggal," kata Marlow-Smith.

Marlow-Smith adalah contoh seorang konsumen yang mencoba mengambil tindakan nyata atas permasalahan sampah plastik ini. Melalui grup Facebook bernama Letter Day to Keep the Plastic Away, dia mendorong semua anggotanya untuk mengirimkan surel ke sejumlah supermarket untuk meminta mereka memberikan opsi yang sifatnya berkelanjutan.

"Tapi rata-rata kami mendapatkan tanggapan normatif. Mereka (supermarket) bilang, plastik dihadirkan karena alasan kebersihan," kata Marlow-Smith.


Memang, sejumlah ilmuwan mengatakan bahwa penggunaan plastik bermanfaat bagi makanan. Selain menjamin kebersihan dan mencegah risiko terkontaminasi, plastik juga dapat membuat makanan lebih tahan lama.

Namun, para pegiat aksi serangan plastik ini punya pendapat lain soal itu. Mereka berpikir ada cara lain untuk membuat makanan tahan lama.

"Toko-toko dapat menyimpan buah dan sayurannya dalam wadah tertutup. Atau, pembeli juga bisa membeli buah dan sayuran dengan wadah yang dibawa sendiri dari rumah, lalu tinggal memindahkannya ke lemari es," ujar Moors.

Moors mengatakan bahwa plastik tidak boleh digunakan untuk membenarkan argumen soal kebersihan dan memperpanjang waktu simpan makanan.

"Sudah waktunya untuk menunjukkan kepada supermarket betapa banyaknya pembeli yang khawatir soal jumlah kemasan plastik yang membungkus setiap produk yang dijual di supermarket," ujar Alex.

"Kami cukup punya suara, dan mereka harus mendengarkan." (asr/chs)