Saat menemui dokter, pasien akan diminta untuk menceritakan keluhan yang dialami pada tubuhnya terlebih dahulu. Apakah mengalami gejala-gejala yang nantinya diindikasikan ke beberapa penyakit tertentu atau tidak.
Namun, tahukah Anda, dalam beberapa kasus, tidak semua dokter memberikan waktu yang cukup kepada para pasien untuk mengungkapkan keluhan-keluhan yang dirasanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kegiatan ini--mengungkapkan keluhan pada dokter--penting dilakukan di awal pemeriksaan guna memberikan perawatan yang fokus, efisien, dan terpusat. Tanpa komunikasi itu, pasien kemungkinan besar tak dilibatkan dalam pengambilan keputusan medis.
Tak semua dokter mengabaikan waktu bagi pasien untuk mengungkapkan keluhannya. Tapi, jikapun ada, beberapa dokter hanya memberikan waktu bagi pasien selama 11 detik untuk berbicara.
Padahal, penelitian sebelumnya mencatat bahwa pasien membutuhkan waktu rata-rata selama 30 detik pada dokter umum dan 92 detik untuk dokter spesialis.
Para peneliti menjelaskan bahwa kurangnya waktu yang diberikan kepada pasien untuk berbicara bisa jadi terkendala oleh waktu, keterampilan komunikasi pasien, atau faktor kelelahan dokter. Kendati demikian, peneliti menegaskan bahwa pasien tak akan mendapatkan perawatan yang baik apalagi komunikasi tak berjalan sebagaimana mestinya.
Para ahli dari Harvard Medical School memberikan saran agar pasien mencatat poin-poin penting yang akan disampaikan pada dokter sebelum bertemu. Selain itu, pasien juga bisa mengajak seseorang untuk memastikan apakah komunikasi yang terjadi di antara keduanya berjalan efektif atau tidak.
Terakhir yang perlu diingat, jangan menahan informasi apapun. Sebaiknya beritahukan secara detail kepada dokter apa yang selama ini dirasakan. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah deteksi dini penyakit sebelum terlambat. (bel/asr)