Kisah 'Priyayi' dan Kicau Burung Pendulang Prestasi

Elise Dwi Ratnasari | CNN Indonesia
Kamis, 16 Agu 2018 11:03 WIB
Memelihara burung bukan hobi baru, melainkan tradisi turun temurun yang diperkenalkan para bangsawan. Ilustrasi burung lovebird. ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Jakarta, CNN Indonesia -- Layaknya musik, kicau burung begitu menghibur hati Wasis Gunadi. Pria yang berprofesi sebagai pengajar di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma ini mengaku senang betul pada puluhan burung yang dipeliharanya.

"Mendengarkan suara burung itu memberikan ketenangan. Happines," kata Wasis saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/8).

Bagi sebagian orang, kicauan burung itu menggoda. Konon, kicauan burung mampu meningkatkan hormon dopamin seseorang. Beberapa penelitian telah menyebutkan adanya keterkaitan antara kicauan burung dengan otak manusia. Menurut penelitian, otak manusia memberikan respons positif saat mendengarkan kicauan burung.



"Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kita merespons positif kicauan burung," ujar salah seorang peneliti dari University of Surrey, Eleanor Ratcliffe, mengutip The Guardian. Beberapa penelitian sebelumnya juga menyebutkan bahwa kicauan burung membuat derau bising jalanan lebih ramah di telinga manusia.


Lima dekade sudah Wasis hidup bersama burung-burungnya. Hobi memelihara burung ini sudah dilakoni Wasis sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Berbagai kompetisi pernah dilakoninya, berbagai kemenangan pernah diraihnya. Kini, total ada 50 burung yang dirawatnya. Mulai dari murai batu, cucok ijo, dan lovebird.

Beberapa tahun ke belakang, burung-burung yang berkicau itu mendadak laku. Burung naik pangkat, menjadi hewan peliharaan yang dicari banyak orang. Ada prestasi dan rupiah yang menunggu di balik burung-burung yang berkicau merdu itu.

Sederet burung diperlombakan. Mana di antara mereka yang memberikan kicauan paling cantik adalah yang layak menang. Jika sudah berprestasi dan memenangi kompetisi, si burung bisa menyombong dengan banderol harga tinggi yang 'tertempel' di dadanya.

Tengok saja Wasis. Meski telah beralih menjadi seorang peternak, tapi berbagai kompetisi telah dilakoni burung-burung kesayangannya. "Sudah tak terhitung lagi," kata Wasis ketika ditanya soal berapa kompetisi dan prestasi yang pernah diraih burung-burungnya. Yang jelas, lanjut dia, umumnya gelar juara pertama dan kedua selalu berhasil disabet burungnya.


"Saya ingat ikut kompetisi pertama tahun 1996. Waktu itu yang ikut lomba anis merah dan menang," kenang Wasis.

Namun, tak seperti pencinta burung lainnya, yang mencari pundi-pundi rupiah dengan melombakan burungnya untuk kemudian dijual dengan harga tinggi. Wasis malah enggan menjual burung-burung berprestasi yang dimilikinya. Kata dia, burung-burung itu belum tentu bakal mendulang prestasi ketika bersama pemilik yang lain.

'Bukan Cerita Baru'

Meski terdengar seperti hobi baru, tapi memelihara burung ini telah hadir mengisi sendi-sendi kehidupan masyarakat Indonesia sejak lama. Hobi memelihara burung dimulai sebagai sebuah tradisi masyarakat suku Jawa. Konon, burung perkutut menjadi simbol kebangsawanan seseorang.

Tengok saja kisah Pak Sastro dalam novel Koong (1975) karya Iwan Simatupang. Pak Sastro adalah seorang kaya raya di seantero kampung. Dia punya peliharaan burung perkutut. Pak Sastro senantiasa menunggu burung perkututnya mengeluarkan suara 'koong'. Kisah itu menggambarkan budaya Jawa yang lekat pada masanya.

Pada CNNIndonesia.com, sosiolog Universitas Gajah Mada, Sunyoto Usman, menjelaskan bahwa dahulu kala, burung dengan kicauan merdu tak ubahnya ponsel spesifikasi canggih yang dimiliki orang di zaman kiwari.

"Metheki (membunyikan jari untuk menciptakan bunyi) supaya burung perkututnya manggung (berkicau). Itu simbol priyayi," kata Sunyoto.


Lebih jauh lagi, kebiasaan memelihara burung ini dimulai sejak masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Saat itu, burung perkutut dianggap prestisius dan hanya dimiliki kalangan ningrat.

Kegemaran memelihara burung kemudian turun-temurun hingga ke kalangan nonbangsawan sebagaimana yang tampak saat ini. Siapa pun bisa memelihara burung-burung dengan kicauan cantik. Asal pandai-pandai merawatnya, niscaya burung bakal naik pangkat.

Sunyoto melihat, awetnya hobi memelihara burung ini didorong oleh semakin beragamnya jenis burung yang dipelihara. Jika dulu hanya perkutut, kini sederet jenis burung mewarnai berbagai kompetisi. Misalnya saja lovebird, cucok ijo, murai batu, kacer, dan kenari.

Kini, para penghobi burung itu tengah berkicau resah. Mereka memprotes terbitnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor 20 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Pasalnya, sejumlah jenis burung--yang kerap dipelihara dan dilombakan--diklasifikasikan sebagai hewan langka, seperti burung murai batu, jalak suren, dan anis kembang.

(asr/chs)
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER