HUT ke-73 RI

Makna Tumpeng Megono dan Punar di HUT RI

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Jumat, 17/08/2018 15:06 WIB
Makna Tumpeng Megono dan Punar di HUT RI Ilustrasi (Istockphoto/Cindy Carissa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehadiran tumpeng seolah tak pernah ketinggalan di berbagai hajatan besar, termasuk di hari ulang tahun Republik Indonesia (HUT RI). Boleh dibilang, sajian tumpeng yang sudah ada sejak zaman Hindu-Budha itu, kini jadi santapan wajib saat Kemerdekaan RI.

Tumpeng pada 17 Agustus ini juga terbilang spesial karena berbeda dibandingkan dengan tumpeng untuk hajatan lain.

Ahli pangan Murdijati Gardjito menjelaskan keberadaan tumpeng di Indonesia sudah ditemukan sejak masuknya agama Hindu dari India di dataran Jawa. Ini pula yang menjadi alasan tumpeng berbentuk kerucut seperti Gunung Mahameru.


"Tidak diketahui pasti asal-usulnya, tetapi karena orang Jawa berasal dari migrasi orang India Selatan bentuk kerucut dianggap tiruan Gunung Mahameru, tempatnya penguasa alam semesta," kata Murdijati saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, belum lama ini.
Bentuk kerucut itu lalu bermakna sebagai hubungan atau pengharapan terhadap penguasa di puncak Mahameru.

Setelah agama Islam datang, tumpeng tak ditinggalkan begitu saja. Alih-alih, makna tumpeng, kata Murdijati, bergeser sebagai bentuk simbolisasi umat manusia dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu, di puncak kerucut hanya terdapat satu butir nasi saja.

"Di puncak tumpeng hanya ada satu butir nasi, makin ke bawah makin banyak. Artinya, makin ke atas makin sempurna, yang di bawah orang-orang biasa seperti kita ini," tutur Murdijati.

Sejak saat itu, masyarakat Jawa selalu menyajikan tumpeng di berbagai hajatan. Murdijati berpendapat, kehadiran tumpeng merupakan bentuk manusia mencapai keselarasan dengan alam, termasuk yang gaib.

Guru besar ilmu dan teknologi pangan Universitas Gadjah Mada ini mencatat di Jawa terdapat 18 macam jenis tumpeng yang dibuat dengan maksud dan tujuan berbeda.

Makna Tumpeng Megono dan Punar di HUT RIIlustrasi. (Istockphoto/Hanafichi)

Diantaranya tumpeng megono yang berarti daur hidup atau kelahiran, tumpeng robyong dengan pengharapan mendapatkan dukungan orang banyak dan tumpeng punar sebagai bentuk kesyukuran. Ada pula tumpeng kapuranto khusus untuk permintaan maaf hingga tumpeng pungkur untuk saat kematian.

Dari sekian banyak tumpeng itu, menurut Murdijati, tumpeng yang cocok digunakan untuk merayakan Kemerdekaan RI hanya tumpeng megono dan tumpeng punar.

"Hanya ada dua yang bisa untuk 17 Agustus. Pertama, tumpeng dauh hidup atau megono dari segi peringatan ulang tahunnya. Dari segi kesyukuran bisa menggunakan tumpeng punar," ucap Murdijati.
Tumpeng megono merupakan hidangan kerucut dengan nasi putih yang dikeliling oleh lauk pauk dan tujuh macam sayuran yang memiliki tiga macam warna.

Diantaranya, ada sulur kangkung yang melambangkan pertumbuhan dan warna hijau berarti kesegaran. Ada pula kecambah toge yang juga bermakna kemajuan. Ada bayam dan kacang panjang sebagai pengharapan panjang umur. Selain itu, terdapat wartel yang berwarna kemerahan simbol kemantapan hati.

Tujuh macam sayuran itu diramu dengan parutan kelapa agar rasanya lebih nikmat.

"Maknanya, segala sesuatu yang disimbolkan sayuran berbagai macam itu merupakan masalah kehidupan. Kalau pandai mengelola rasa dan masalah itu, rasanya jadi nikmat dan menyenangkan," ungkap Murdijati.

Sedangkan lauk pauk tumpeng megono terdiri dari telur rebus bulat yang melambangkan kebulatan tekad. Warna kuning pada telur berarti kekuatan, warna putih berarti kesucian dan warna hijau kebiruan berarti kesetiaan.

Ada pula tempe dan tahu simbol dari kesederhanaan. Serta rempeyek teri yang bermakna kebersamaan dan ayam opor atau goreng sebagai sumber kenikmatan.
Sementara itu, tumpeng punar sebagai ucapan syukur terbuat dari nasi kuning nan gurih. Tumpeng ini memiliki lauk pauk berupa telur dadar, kacang goreng, kedelai goreng, pecel, sambal pentok, kentang kering dan abon.

"Nasi kuning lambang kesyukuran sedangkan tujuh macam lauk pauk itu menggambarkan rasa yang dialami orang dalam hidup dan tidak harus menyesal melainkan bersyukur," kata Murdijati.

Untuk menikmati tumpeng ini di Hari Kemerdekaan, Murdijati menyebut harus memakannya dari bawah. Bukan seperti yang selama ini banyak dilakukan yakni memotong puncak tumpeng.

Menurut Murdijati, selama ini orang salah kaprah dalam memotong tumpeng. Padahal, tumpeng bukan kue ulang tahun yang mesti dipotong. Memotong tumpeng dapat merusak makna hubungan manusia dan Pencipta yang dilambangkan pada puncak tumpeng.

"Secara filosofis, (memotong) itu tidak benar. Harusnya makan tumpengnya dari bawah, lauk pauk di bawah. Makin diambil, nasinya makin turun daari puncak sampai ke dasar.

"Filosofinya, manusia pada akhirnya akan bersatu dengan Tuhan," tutur Murdijati. (stu)