Ahli Gizi: Mi Instan, Sumber Kalori Praktis Saat Bencana Alam

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 30/09/2018 20:10 WIB
Ahli Gizi: Mi Instan, Sumber Kalori Praktis Saat Bencana Alam Korban gempa dan tsunami yang menerjang Donggala dan Palu. (Foto: AFP PHOTO / MUHAMMAD RIFKI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mi instan merupakan solusi pangan bagi mereka yang berada dalam kondisi darurat seperti korban bencana alam. Kendati demikian konsumsi mi instan dalam waktu lama dikhawatirkan menimbulkan masalah baru.

Pakar gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dr. Ari Fachrial Syam sulit menampik sifat praktis mi instan yang cocok dalam penanggulangan bencana. Mudah disimpan dan mudah dimasak menurut Ari menjadi penyebab mi instan selalu jadi pilihan pertama untuk membantu korban bencana.

"Pertama soal kepraktisan itu, mi instan ini bisa disimpan di ruang terbuka dengan suhu kamar, juga praktis memasaknya cukup dengan air panas," ucap Ari melalui telepon kepada CNNIndonesia.com, Minggu (30/9).


Dalam kondisi bencana yang kerap berimbas pada putusnya jalur pasokan pangan menempatkan mi instan sebagai pilihan pertama bagi para korban maupun para pemberi bantuan. Ditambah harganya yang relatif terjangkau, sifat praktis dari mi instan tersebut sulit disaingi.

Namun dalam aspek nilai gizi, Ari menjelaskan bahwa mi instan tidak mencukupi kebutuhan gizi seseorang. Dominan dengan kandungan karbohidrat saja, Ari khawatir konsumsi mi instan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan masalah kesehatan baru.

Padahal idealnya, manusia setiap hari membutuhkan makro nutrien yang seimbang, tidak hanya karbohidrat, tapi juga protein, dan lemak. Beberapa orang yang memiliki riwayat gangguan kesehatan dianjurkan lebih berhati-hati dalam konsumsi mi instan ini.

"Seumpama yang sakit hipertensi itu sebaiknya pakai bumbu setengahnya saja, begitu pula dengan mereka yang menderita penyakit lambung," imbuh Ari.

Perlu asupan protein dan mineral

Untuk mengakali kurangnya gizi dalam mi instan, menambah komposisi pelengkap menjadi opsi paling mudah menurut Ari. Guna menambal kandungan protein dan lemak misalnya, ia menganjurkan konsumsi mi instan ditambah dengan telur. Sementara untuk kandungan mineral atau vitamin pun juga bisa diakali dengan konsumsi sawi atau timun yang relatif mudah ditemui dibanding sayuran lain.

Upaya lain juga bisa dilakukan oleh pemberi bantuan pangan. Ari menyarankan masyarakat tidak terus memberikan mi instan untuk para korban bencana. Sebagai gantinya, ia menganjurkan makanan kaleng yang awet dan mudah disimpan seperti sarden dan kornet. Abon, ikan kering, atau rendang juga bisa jadi pilihan bijak.

"Yang penting tidak perlu disimpan dalam lemari es dan bisa bertahan di suhu kamar," lanjut Ari.

Pada akhirnya Ari mewajarkan konsumsi mi instan dalam kondisi darurat. Namun hal itu menurutnya harus berubah ketika dapur-dapur umum sudah berdiri di lokasi bencana. Ia berharap setidaknya ada kombinasi pangan agar gizi yang masuk ke tubuh para korban tak melulu karbohidrat saja.

"Sebagai sumber kalori ya silakan daripada tidak ada yang bisa dikonsumsi, karena mi instan ini paling terjaga kondisinya, mudah disimpan," pungkas Ari.

Sebelumnya gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 SR mengguncang Donggala dan Palu pada Jumat (28/9) petang sekitar pukul 18.02 WITA disusul tsunami. BNPB mencatat hingga Sabtu (29/9) sudah ada 384 orang meninggal dunia di Palu. Sementara di Donggala, BNPB belum bisa memberi data termutakhir karena keterbatasan akses.

Beberapa korban mengaku bantuan belum mereka terima. Jenis bantuan yang menjadi kebutuhan mendesak mereka meliputi makanan, susu, dan popok bayi. (bin/evn)


ARTIKEL TERKAIT