Inggris Terancam Kekurangan Sperma Impor Gara-gara Brexit

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Rabu, 29/08/2018 14:46 WIB
Inggris Terancam Kekurangan Sperma Impor Gara-gara Brexit Ilustrasi. (Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Prosedur inseminasi atau pembuahan di luar rahim bukan hal baru, termasuk di Inggris. Namun, para pasangan suami istri di Inggris harus menghadapi kenyataan pahit jika Inggris benar-benar keluar dari Uni Eropa (brexit).

Selama ini, Inggris bergantung pada sperma impor dari negara-negara Uni Eropa untuk menjalankan prosedur inseminasi. Namun, kini hal itu kemungkinan tak lagi bisa dilakukan jika tak ada aturan atau perjanjian tertulis yang mengatur impor sperma.

Pemerintah melaporkan bahwa Inggris mengimpor sekitar 3 ribu sampel sperma dari sebuah bank sperma komersial di Denmark. Selain Denmark, Inggris juga mengimpor sperma dari Amerika Serikat sebanyak 4 ribu sampel. Bank sperma Denmark, Cryos, menyebutkan bahwa jumlah itu merupakan impor sperma terbanyak di dunia.


Jika Inggris keluar dari Uni Eropa, maka peraturan terkait impor sperma tak akan berlaku lagi, termasuk EU Organ Directives dan EU Tissues and Cell Directives.


Dalam publikasinya, pemerintah juga menyebut bahwa bank kesuburan akan memerlukan perjanjian baru yang relevan dengan Uni Eropa.

"Instansi Inggris berlisensi yang telah memegang lisensi untuk mengimpor jaringan dan sel dari negara ketiga akan dapat menggunakan perjanjian tertulis yang mereka miliki dengan organisasi negara ketiga sebagai contoh," tulis pemerintah dikutip dari AFP.

Selama ini, impor menjadi jawaban kebutuhan sperma di Inggris. Hal ini disebabkan donasi sperma yang menurun drastis karena pendonor kehilangan hak untuk memberikan sperma secara anonim sesuai peraturan yang dirilis pada 2005 lalu.

Selain sperma, Inggris juga mengimpor sejumlah kecil sel telur dan embrio dari negara-negara Uni Eropa lain.


Direktur Klinik Kesuburan Harley Street, Geetha Venkar mengatakan bahwa para pasangan suami istri di Inggris panik menanggapi publikasi tersebut.

Dalam sebuah wawancara, Geetha berkata bahwa pengalihan impor dari Amerika Serikat bisa memakan waktu hingga tiga bulan. Hal ini jelas memakan waktu lebih lama. Pasalnya, impor dari Denmark hanya memerlukan waktu selama satu pekan.

Tak cuma soal waktu yang bakal jadi masalah, Geetha juga mengingatkan perkara biaya tambahan yang kemungkinan bakal dikenakan bagi pasangan.

"Jika Brexit (British exit) tidak pasti, kami tak tahu apa yang akan terjadi. Ini adalah prosedur yang penuh tekanan," kata Geetha. (asr/chs)


ARTIKEL TERKAIT