Persepsi Wajah Cantik 'Zaman Now' yang Mengganggu

CNN Indonesia | Jumat, 31/08/2018 12:26 WIB
Persepsi Wajah Cantik 'Zaman Now' yang Mengganggu Ilustrasi swafoto. (Splitshire)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjadi cantik adalah impian setiap wanita. Apa saja bisa dilakukan seorang wanita ketika 'kegilaan' akan kecantikan itu semakin mengganas. Namun, apa itu 'wajah cantik'? Bagaimana kita mendefinisikan 'wajah cantik' seorang wanita itu sendiri?

Selama berabad-abad, definisi 'wajah cantik' bagi wanita jelas relatif. Tak ada yang kuasa mengeneralisir definisi 'wajah cantik' bagi seorang wanita. Definisi 'wajah cantik' itu terus mengawang di antara kecenderungan persepsi yang beragam.

Namun, zaman kiwari tampaknya menemukan apa itu definisi 'wajah cantik'. Abad digital membawa kita pada satu persepsi tentang apa yang disebut sebagai 'wajah cantik'. Itu adalah wajah yang dipulas dengan teknologi atau biasa kita sebut 'foto editan'.



Beragam fitur 'pemulas' wajah itu hadir berbungkus teknologi, baik dalam aplikasi edit foto mandiri atau fitur 'penyulap' wajah di media sosial seperti Snapchat dan Instagram. Fitur-fitur itu banyak digunakan wanita zaman kiwari untuk menghadirkan mata kucing, membuat pipi lebih merah, dagu lebih tajam, atau kulit yang makin kinclong di laman media sosial. Jauh dari kata cacat.


Ibarat kegilaan yang semakin menjadi-jadi, apa lacur, kebiasaan itu berujung pada persepsi baru tentang apa yang dimaksud dengan 'wajah cantik'. Kebiasaan mengedit foto ini berujung pada pemikiran yang mengatakan bahwa itulah (foto yang telah diedit) yang seharusnya Anda lihat.

Hal itu terbukti dengan adanya peningkatan orang-orang yang membawa hasil retouch foto mereka dan meminta para ahli bedah plastik untuk mengubah wajahnya menjadi sebagaimana gambaran foto yang dibawa. Kondisi itu disebut para ahli sebagai 'snapchat dysmorphia'.

"Secara keseluruhan, aplikasi media sosial memberikan realitas kecantikan baru bagi masyarakat saat ini," tulis penelitian teranyar yang dipublikasikan pada JAMA Facial Plastic Surgery. "Aplikasi memungkinkan seseorang untuk mengubah penampilannya dalam sekejap dan sesuai dengan standar kecantikan yang tidak realistis dan seringkali tak bisa dicapai."

Fenomena itu, sebut penelitian, dapat mengacaukan kepala dan menumbuhkan beberapa ide tidak sehat tentang apa yang benar-benar kita lihat di layar gawai.


Direktur Departemen Plastik dan Rekonstruksi Wajah Universitas Johns Hopkins, Patrick Byrne menyebut bahwa akar masalahnya cukup sederhana. Pada era swafoto, orang melihat wajah mereka berkali-kali lebih sering dibandingkan sebelumnya.

"Dulu, tentu kita juga punya foto diri. Tapi kita jarang memandangi dan memikirkan foto diri itu. Sekarang, kita berada di dunia di mana orang-orang terpapar oleh gambar wajah mereka sendiri ribuan kali per tahun," kata Byrne mengutip CNN.

Data statistik anyar dari American Academy of Facial Plastic and Reconstructive Surgery menyebut sebanyak 55 persen ahli bedah plastik wajah melaporkan adanya pasien yang ingin meningkatkan kecantikan mereka sebagaimana yang ada pada foto selfie-nya pada tahun 2017 lalu. Angka itu meningkat 13 persen dari tahun sebelumnya.

Ketika seseorang memandangi wajahnya lusinan kali sehari, ada banyak peluang bagi mereka untuk terobsesi pada 'wajah palsu' itu. Hal tersebut, kata Byrne, dapat menyebabkan perasaan tidak puas, bahkan gangguan dismorfik.

Gejala lain yang menguatkan fenomena ini adalah adanya perubahan jenis prosedur operasi plastik yang diminta. Sebelum popularitas swafoto naik daun, permintaan paling umum adalah rhinoplasty, dengan hanya memancungkan dan membikin bentuk simetris hidung.

"Anda bisa menemukan ketidaksempurnaan di wajah bagian mana pun. Pertanyaannya adalah seberapa jelas dan seberapa penting ketidaksempurnaan itu bagi penampilan Anda secara keseluruhan," ujar Byrne.


Kesenjangan persepsi ini dikombinasikan dengan kecenderungan alami seseorang untuk mengkritik wajahnya atau wajah siapa pun yang sering dilihat. Hal itu dapat menyebabkan masalah psikologis serius yang tidak dapat diatasi di klinik bedah plastik.

JAMA menggambarkan gangguan dismorfik tubuh bak gangguan obsesif-kompulsif. "Gangguan ini lebih dari ketidakamanan atau kurangnya kepercayaan diri," tulis JAMA. Orang-orang dengan gangguan dismorfik tubuh kerap berusaha keras untuk menyembunyikan ketidaksempurnaan mereka dan berharap adanya perbaikan dari kecacatan yang dimilikinya itu.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam International Journal of Eating Disorders pada 2015 lalu juga menyebutkan bahwa gangguan dismorfik tubuh juga berpengaruh pada gangguan makan dan depresi.

Ditemukan bahwa remaja perempuan yang berbagi foto diri secara daring melaporkan tingkat ketidakpuasan pada tubuh. Hal itu membuat mereka ogah makan lantaran ingin membuat bentuk tubuhnya lebih sempurna.

"Satu-satunya wajah di dunia yang tidak pernah Anda lihat adalah milik Anda sendiri," kata Byrne. Kita mungkin hanya benar-benar bisa melihat bentuk anggota tubuh kita ketika menutup satu mata. Bahkan, kita juga mungkin tak tahu persis seperti apa sebenarnya penampilan kita.

Alhasil, 'snapchat dysmorphia' ini bukan cuma urusan menjadi lebih cantik sempurna sebagaimana yang ada pada hasil edit foto, tapi juga tentang gambaran nyata wajah yang sebenarnya tak pernah kita ketahui. (asr/chs)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA