Perpaduan Budaya dan Religi di Festival Tabut 2018

Kemenpar, CNN Indonesia | Kamis, 30/08/2018 17:54 WIB
Perpaduan Budaya dan Religi di Festival Tabut 2018 Arief Yahya mengatakan Festival Tabut Bengkulu merupakan magnet bagi para wisatawan. (Dok. Kemenpar)
Bengkulu, CNN Indonesia -- Festival Tabut 2018 tahun ini akan digelar pada 10-20 September (1-10 Muharram) di Bengkulu.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Bengkulu memiliki kekuatan wisata religi yang sarat budaya. Festival Tabut 2018 yang berpusat di Lapangan Merdeka Kota Bengkulu ini ia yakini bisa menjadi magnet bagi wisatawan.

"Festival Tabut ini menjadi festival utama di Bengkulu sekaligus Top 100 event wisata skala nasional. Jadi harus benar-benar dibikin meriah dan semenarik mungkin agar bisa mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya," ujar Menpar Arief Yahya, Rabu (29/8).


Namun, Arief Yahya mendorong Pemprov Bengkulu untuk menambah jumlah agenda wisatanya. Sebab, jumlah yang ada sekarang terhitung kalah jauh dengan jumlah agenda wisata yang digelar di provinsi lain. Apalagi pada 2018, Bengkulu menargetkan jumlah wisatawan yang berkunjung meningkat 40 persen dari dua tahun sebelumnya.
"Solo saja punya 58 agenda. Seharusnya Bengkulu bisa lebih karena skalanya provinsi dan kaya akan budayanya," tutur Menpar Arief Yahya.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu Yudi Satria mengatakan ritual Tabut diadakan sebagai manifestasi kecintaan sekaligus mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Husein meninggal dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).

"Bila melihat sejarahnya, perayaan ritual Tabut di Bengkulu pertama kali diperkenalkan dan dilaksanakan pada 1685 oleh Syeh Burhanuddin atau dikenal sebagai Imam Senggolo, seorang penyebar Islam di Bengkulu. Ia menikahi seorang perempuan Bengkulu dan keturunannya disebut keluarga Tabut," jelas Yudi.

Ritual tersebut kemudian diadakan tiap tahun secara turun-temurun oleh anggota Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) Bengkulu. Ritualnya digelar dari tanggal 1 sampai 10 Muharram sebagai upaya memperingati sekaligus menyemarakkan Tahun Baru Islam.

"Tradisi ini berawal dari keturunan Husein. Saat Husein meninggal, yang tersisa adalah 1 anak laki-laki dan ada beberapa yang perempuan. Zainal Abidin inilah yang beranak pinak," terang Yudi.

Dia menjelaskan, inti dari upacara selama 10 hari itu adalah simbol mengumpulkan semua bagian tubuh Husein, lalu diarak dan dimakamkan di Padang Karbala.

"Ini juga menjadi simbol keprihatinan sosial menyoal praktik kehidupan manusia yang kerap menghalalkan segala cara seperti pengkhianatan untuk mencapai kekuasaan," tuturnya.
Ada pun tahapan ritual Tabut sesuai urutan, yakni mengambik (mengambil) tanah, duduk penja, meradai, merajang, arak penja, arak serban, gam yang berarti masa tenang atau berkabung, dan arak gedang serta Tabut terbuang.

Festival Tabut juga menawarkan kegiatan lain selain sekedar prosesi. Ada sejumlah kontes yang harus dimenangkan setiap tahun. Di antaranya lomba kereta kuda tradisional, pertunjukan tarian Tabut dan aktivitas seni dan budaya lainnya.

"Sebagian besar kegiatan festival diadakan di sekitar Balai Raya Semarak Bengkulu, tempat tinggal gubernur dan lapangan Polda Bengkulu," ungkap Yudi.

Yudi menambahkan, Festival Tabut 2018 bukan hanya menjadi ajang promosi pariwisata, tapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah. Festival ini yang mampu menyedot ratusan ribu orang Bengkulu untuk menyaksikan puncak acara yaitu arak-arakan tabut.

"Festival ini tidak hanya ritual budaya dan religi, tapi juga bagian dari modal pembangunan sektor pariwisata. Festival ini juga bisa mendatangkan para perantau asal Bengkulu untuk kembali ke kampung halaman karena Festival Tabut sudah melegenda bagi masyarakat lokal," ujar Yudi.

Pembangunan pariwisata tersebut juga untuk mendukung program unggulan daerah dalam mewujudkan Tahun Kunjungan Wisata pada 2020 atau "Visit Wonderful Bengkulu 2020".

Bila ingin menyaksikan festival ini, Anda tidak perlu khawatir soal aksesnya. Sebab menuju Bengkulu sudah tersedia penerbangan langsung setiap hari dari Jakarta sebanyak enam kali sehari dengan Lion Air, Sriwijaya Air, Citilink dan Garuda Indonesia.

Jika Anda ingin melakukan perjalanan melalui jalur darat, dapat dilakukan dengan bus antar provinsi dari lintas barat dan timur. Untuk jalur lintas barat dari Jakarta ke Bandar Lampung melalui hutan tropis yang lebat dari Liwa, Taman Nasional Bukit Barisan Selatab dan Krui.

Begitu juga untuk amenitas, sedikitnya ada 50 hotel dan penginapan di Bengkulu. Ada homestay hingga hotel berbintang yang kebanyakan lokasinya berada dekat dengan destinasi wisata. (stu)