Balas Email di Luar Jam Kantor Ancam Produktivitas Karyawan

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Minggu, 02/09/2018 08:58 WIB
Balas Email di Luar Jam Kantor Ancam Produktivitas Karyawan Ilustrasi. (REUTERS/Lucas Jackson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecanggihan teknologi bisa membuat pekerjaan sehari-hari menjadi lebih mudah atau malah lebih memusingkan.

Bagi pekerja yang tak bisa lepas dari aplikasi email (surat elektronik) atau aplikasi pesan singkat setiap harinya, tenang saja karena Anda tidak sendirian.

Dikutip dari Metro pada Minggu (2/9), studi dari University of West England (UWE) di Bristol, Inggris, mengungkapkan bahwa sebanyak 5.000 orang di London mengaku membuka dua aplikasi tersebut selama menempuh perjalanan kereta dari kantor dan rumahnya, tentu saja jika jaringan telekomunikasi tersedia.


Sebanyak 54 persen dari jumlah tersebut "menggantungkan kariernya" terhadap jaringan wi-fi di kereta, sementara sisanya mau berkorban dengan data pulsa.

Sebagian besar penumpang kereta yang membuat aplikasi pekerjaan selama perjalanan mengaku kalau mereka "terpaksa" melakukan hal tersebut untuk membunuh waktu atau meringankan beban pekerjaan sesampainya di kantor atau di rumah.

Salah satu peneliti sosial dari Centre for Transport and Society, Dr Juliet Jain, mengatakan bahwa fenomena bekerja dalam perjalanan ini menjadi budaya baru bahwa konsep karier dan kehidupan pribadi sudah semakin bias.

"Pekerjaan yang dilakukan di luar kantor, seperti membalas email atau pesan singkat yang berhubungan dengan pekerjaan, sebaiknya mulai dihitung sebagai jam kerja sehingga bisa mengurangi tingkat stres para pekerja yang mungkin khawatir akan nilai kariernya di mata perusahaan," kata Jain.

Tapi, Jamie Kerr, dari Institute of Directors, berpendapat lain.

Ia merasa kalau bekerja di luar jam kantor bisa mengurangi tingkat produktivitas pekerja yang sebenarnya merupakan investasi sebuah perusahaan.

"Beban yang berlebihan, karena harus tetap siaga membalas email atau pesan singkat, bisa membuat kadar stres meningkat dan menurunkan produktivitas seorang karyawan," kata Kerr.

"Batas antara beban dan kesenangan akan menjadi bias sehingga muncul stres berbentuk rasa khawatir yang meningkat jika terlambat merespon pekerjaan," lanjutnya.

(ard)