Kutil Kelamin, Penyakit Seksual Paling Umum di Indonesia

Elise Dwi Ratnasari, CNN Indonesia | Selasa, 04/09/2018 17:38 WIB
Kutil Kelamin, Penyakit Seksual Paling Umum di Indonesia Foto: Istockphoto/Denisfilm
Jakarta, CNN Indonesia -- Potensi berbahaya selalu mengintai perilaku seks bebas alias tak aman. Sederet penyakit menular seksual menunggu di belakangnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari satu juta penyakit menular seksual timbul setiap harinya di seluruh dunia. Setiap tahun, diperkirakan ada 357 juta infeksi baru.

Dari sekian PMS yang ada, penyakit kutil kelamin atau genital warts merupakan yang paling banyak mendera orang-orang Indonesia. Tenaga medis Klinik Angsa Merah, dr Adyana Esti, mengatakan bahwa sebanyak 290 juta wanita di dunia terinfeksi human papilomavirus alias HPV.


"Keluhan kutil kelamin ini lebih banyak dikeluhkan wanita," kata Esti saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa, (4/9), dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Seksual Dunia.


Tak ada gejala-gejala tertentu yang menandai kutil kelamin. Namun, penderita bakal mengalami adanya benjolan mirip daging tumbuh di sekitar kelamin dan anus yang menyebabkan rasa gatal.

Penularan kutil kelamin, dinilai Esti, agak berbeda dengan jenis PMS lainnya. Tak seperti sifilis atau gonore yang tertular melalui luka pada kulit. Virus penyebab kutil kelamin dapat menembus kulit yang utuh atau tanpa luka.

Tidak melakukan pengobatan mandiri

Angsa Merah sebagai klinik yang fokus pada kesehatan reproduksi dan seksual tentu kedapatan banyak pasien dengan gangguan penyakit menular seksual.

Pasien, kata Estu, datang dengan keluhan yang rata-rata mirip seperti keluarnya cairan dari penis atau keputihan yang tak wajar.


"Sebenarnya mereka melakukan aktivitas seksual biasa. Jika seperti ini, saya menganjurkan agar pasangannya diperiksa juga," jelas Esti.

Untungnya, kesadaran beberapa pasien terbilang tinggi terhadap bahaya penyakit menular seksual, Mereka datang dalam kondisi tahap awal hingga penyakit masih dapat ditangani. Namun, di luar itu, ada pula beberapa di antara pasien yang datang setelah nekad melakukan pengobatan mandiri.

Esti menyarankan untuk tidak melakukan pengobatan mandiri. Pasalnya, dalam beberapa kasus, pengobatan mandiri justru bakal membikin keadaan semakin parah. "Jika mulai merasakan gejala, harus segera periksa ke dokter," imbuhnya. (asr/chs)




ARTIKEL TERKAIT