Nilai tersebut, menurutnya, lebih rendah ketimbang bekerja di sektor lainnya seperti perbankan, pertambangan minyak dan gas, serta telekomunikasi. Selain itu, ia juga mengatakan lulusan sekolah pariwisata 100% terserap oleh pasar meski dengan gaji yang tak selalu besar.
"Jauh jika dibandingkan Telco yang CEO-nya bisa Rp10 M sampai Rp12 M setahun. Karena itu harus dengan entrepreneur, angka itu bisa dikejar," jelas Arief dalam keterangan tertulis, Selasa (25/9/2018).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadilah entrepreneur. Jangan khawatir, saya akan dampingi kalian agar bisa bersaing dalam bisnis di bidang pariwisata. Kemenpar telah membuat inkubator buat anak-anak yang serius mau merintis bisnis. Karena hanya dengan cara ini bisa menaikkan kesenahteraan pelaku industri pariwisata," katanya.
Selain itu ia juga mengungkap lulusan politeknik pariwisata juga bisa berbangga sebab saat ini sektor wisata RI telah mendapatan penghargaan dunia luar.
Meski demikian Arief mengatakan, untuk mempertahankan hal itu dibutuhkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Sebab SDM menjadi hal mendasar untuk menjaga sustainabilitas pariwisata sebagai core business. Ia mengingatkan, meski investasi SDM tidak kelihatan wujudnya, tapi sangat terasa dampaknya.
"Sejak di PT Telkom saya paling komit soal SDM. Investasi SDM itu paling penting untuk win the future customers. Poltekpar ini adalah jawaban untuk membentuk SDM pariwisata terbaik. Ingat yang membedakan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain adalah manusianya. Yang membedakan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah karakter dan kompetensinya," pungkasnya. (egp/stu)