Kematian Journey dan Berkembangnya Kaum Freebirth AS

CNN Indonesia | Rabu, 07/11/2018 20:18 WIB
Kematian Journey dan Berkembangnya Kaum Freebirth AS Ilustrasi melahirkan (Dok. AKun Twitter @Refinery29)
Jakarta, CNN Indonesia -- Melahirkan dengan kondisi seadanya agak sulit dibayangkan. Jika ini terjadi di wilayah terpencil yang jauh dari akses layanan kesehatan, rasanya maklum. Namun, bagaimana jika melahirkan tanpa bantuan medis dipilih atas alasan gaya hidup sebagaimana yang merebak di negara adidaya Amerika Serikat.

Melahirkan tanpa campur tangan medis tak jarang menimbulkan bahaya. Bahkan, yang fatal sekalipun, termasuk kematian.

Tengok saja kisah Journey Moon, seorang bayi yang lahir dalam kondisi tak bernyawa pada 7 Oktober lalu. Sang ibu, Lisa (bukan nama sebenarnya), melahirkan Journey tanpa bantuan medis. Dia tergabung sebagai anggota Free Birth Society (FBS), sebuah komunitas daring untuk wanita yang ingin memiliki anak tanpa intervensi medis.


Saat proses kelahiran, tak ada tenaga medis yang menemani. Lisa hanya ditemani sang suami dan lebih dari 6 ribu anggota komunitasnya di Facebook.


Lisa menginformasikan kabar terkininya, termasuk rasa sakit, kontraksi, hingga rasa cemasnya. Anggota komunitas, yang 'menontonnya' secara virtual, hanya memberikan dorongan semangat dan menyebutnya sebagai 'wanita ksatria'.

Enam hari dilalui Lisa dengan rasa sakit hebat. Namun, sayangnya sang bayi tak sempat menikmati peluk hangat ibu.

"Journey Moon telah lahir sebagai malaikat pada 7 Oktober dengan berat 3,99 kilogram. Dia meninggal karena infeksi saluran kencing yang saya miliki. Saya terbaring di rumah sakit menuliskan ini dan akan pulang esok hari. Kami akan mengkremasi Journey," tulis Lisa dalam halaman Facebook komunitasnya dikutip dari Daily Beast.

Pengalaman Lisa menimbulkan reaksi beragam. Sebagian memberikan simpati, sebagiannya lagi menuduh Lisa membahayakan sang bayi karena dianggap salah mengambil langkah.

Bagaimanapun, pengalaman Lisa membuka mata anggota komunitas FBS dan mereka yang di luar komunitas bahwa melahirkan tanpa bantuan medis dapat berujung marabahaya.


Apa itu komunitas 'freebirth'?

'Freebirth' merupakan istilah untuk mereka yang melahirkan tanpa bantuan tenaga medis atau tenaga ahli. Bukan karena minimnya akses layanan kesehatan, tapi pilihan hidup.

Di dunia maya, sederet konten berupa tulisan atau video beramai-ramai berbicara soal manfaat melahirkan secara mandiri, baik di rumah atau di hutan. Bahkan, beberapa juga bercerita betapa menyenangkannya melahirkan di tenda ala orang Mongolia atau di pulau terpencil.

Kaum 'freebirth' menganggap proses kelahiran sebagai keajaiban. Kontraksi dianggap sebagai gelombang. Dokter, bagi mereka, tak seharusnya membantu proses persalinan, melainkan si ibu itu sendiri.

Gerakan melahirkan secara mandiri ini muncul atas ketidakpuasan model-model intervensi medis. Mereka melihat bahwa ibu yang kembali dari rumah sakit setelah melahirkan bakal lebih merasa putus asa daripada mereka yang tidak.

Mereka mengklaim, lebih dari 30 persen ibu di AS menjalani operasi sesar dan ribuan lainnya menjalani episiotomi atau pemotongan otot antara vagina dan anus untuk memperbesar jalan lahir yang tak diinginkan. Kaum ini menganggap bahwa prosedur tersebut melanggar apa yang wanita inginkan.


Diinisiasi oleh Emile Saldaya, mantan bidan yang banting setir menjadi 'bidan radikal', FBS bergerak mengampanyekan proses kelahiran tanpa bantuan media. Saldaya dan ribuan wanita lainnya memiliki trauma serupa setelah melahirkan di RS.

Saat proses kelahiran Journey, mereka seolah hadir menemani Lisa, mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Bahkan Saldaya mengirim pesan via Facebook Messenger untuk memberikannya semangat.

Kenyataannya, semua tak baik-baik saja.

Setelah tiga hari rasa sakit tak tertahankan, air ketuban Lisa pecah. Ia mencium bau tak sedap dan nampak air berwarna aneh di antara kedua kakinya. Perut terasa sakit, Lisa tak mampu membuang air kecil. Menyerah pada keadaan, dia memutuskan untuk mencari pertolongan medis.

Lisa mengingat sepotong dua potong memorinya selama di rumah sakit. Dokter memintanya untuk terus mengejan. Sudah tiga jam tapi tak ada pertanda baik. Vakum pun dikerahkan dan Lisa harus dibius sementara. Dia masih ingat bagaimana ia berteriak dan bagaimana sang suami berkata kepala bayi mereka perlahan keluar.

"Saat saya bangun saya berlumuran darah dan semuanya begitu. Begitu sunyi," kata dia.


Pro dan kontra bermunculan. Dia mendapat dukungan sekaligus hujatan. Lisa pernah menerima 30 pesan yang berbunyi bahwa dia seharusnya mati. Akun Facebook miliknya pun tak lepas dari sasaran perundungan.

Tanggapan cukup ekstrem datang dari Katie Paulson, penulis blog yang tak sepakat dengan pemahaman Lisa. Dia menulis sembilan unggahan di blog dengan headline 'Ibu Memutuskan untuk Melahirkan secara Mandiri dan Membunuh Bayinya'.

Apa yang dilakukan Paulson jelas tak ujug-ujug. Anaknya, Von, lahir dengan kondisi gangguan produksi hormon. Setelah mencari berbagai informasi, dia menyimpulkan bahwa banyak kesalahpahaman di dunia kelahiran natural.

Melahirkan secara mandiri = bahaya

Penganut 'freebirth' memiliki visi yakni melahirkan di rumah, dikelilingi orang-orang terkasih, dengan kebebasan untuk bergerak dan berteriak. Segala sesuatu akan baik-baik saja saat wanita 'mendengarkan' suara tubuh mereka. Namun, ini dianggap naif oleh para pelaku medis.

Pihak American College of Obstetricians and Gynecologists enggan berkomentar soal ini. mereka hanya merekomendasikan untuk merekrut tenaga profesional jika memang ingin melahirkan di rumah. Menurut mereka, merencanakan kelahiran bayi di rumah jelas-jelas berhubungan dengan risiko tinggi akan kematian saat proses melahirkan.


Di sisi lain, Bruce Young, profesor dan ginekolog di NYU School of Medicine berkata, rata-rata wanita bisa memiliki 80 persen kemungkinan melahirkan secara aman di rumah. Sementara 20 persen lainnya kemungkinan mengalami komplikasi yang mengancam nyawa baik bagi ibu maupun bayi. Risiko ini dapat diturunkan hingga kurang dari satu persen jika proses persalinan dilakukan di rumah sakit.

"Jika Anda melakukan proses sesar, risiko itu bisa berkurang 20-25 persen. Jadi itu yang harus dibayar," kata Young.

Kendati demikian, meski dirundung oleh berbagai ancaman dan fakta medis, Lisa tetap pada keyakinan yang dipilihnya: ingin melahirkan secara mandiri.

"Tubuh saya mampu melahirkan. Saya tercipta untuk melahirkan. Saya bisa dan akan melahirkan lagi. Saya akan hamil lagi dan melahirkan lagi dan hasilnya akan berbeda. Saya percaya itu," kata Lisa. (els/asr)


ARTIKEL TERKAIT