KOMUNITAS UNIK

Melawan Kebotakan Alam Pakidulan Sukabumi

CNN Indonesia | Minggu, 18/11/2018 10:40 WIB
Melawan Kebotakan Alam Pakidulan Sukabumi Kondisi alam di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu sempat berada di titik nadir. (Foto: CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Sukabumi, CNN Indonesia -- Pada tahun 2012, tepatnya saat memasuki musim kemarau, tiga orang lelaki dari Desa Tamanjaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, merasa gundah melihat kondisi alamnya yang semakin memprihatinkan.

Satu dari ketiga orang itu bernama, Endang Sutisna, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi (PAPSI).

PAPSI adalah organisasi masyarakat bersifat non-profit yang didirikan dalam rangka melestarikan alam pakidulan Sukabumi, khususnya dalam pengembangan kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu.


"Dulu saya bekerja di PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia), uangnya cukup banyak. Setelah saya fokus menggarap PAPSI, saya lebih sering tidak punya uang," kata Endang sembari tertawa, saat ditemui CNNIndonesia.com, di Sekretariat PAPSI.

"Tapi saat menggarap PAPSI saya merasa hidup jadi lebih nikmat, karena ketika saya sudah menyatu dengan alam jadi saya merasa luar biasa tenang. Mungkin itu anugerah yang lain dari Allah."

Endang mengaku tidak mudah mengenalkan visi dan misi PAPSI ke masyarakat sekitar, bahkan ada juga kelompok yang hendak melakukan demonstrasi untuk menolak PAPSI.

Menurutnya dulu tidak sedikit pemuka agama yang menentang konsep Geopark, karena berpikirnya langsung ke konsep pariwisata sehingga mereka khawatir akidah warga sekitar akan tercemar.

Padahal, ia menambahkan, Geopark itu justru lebih banyak aspek keilmuannya.

"Ada salah seorang tokoh agama di sini yang berpikiran luas, ia berkata kepada masyarakat 'Memang apa salahnya kalau kita ke Panenjoan pakai peci, kerudung, bahkan sorban? Kalau yang ditakutkan adalah tercemarnya akidah, maka fondasi justru kita harus lebih kuat'," ujar Endang, mengikuti apa yang diucapkan oleh sang pemuka agama.

Namun hal itu akhirnya tidak menjadi batu sandungan yang besar, justru tantangan beratnya adalah mengubah pola pikir masyarakat terkait pentingnya konservasi.

Endang menargetkan setiap destinasi di kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu memiliki lahan hijau. Untuk mencapai targetnya, saat ini PAPSI melaksanakan beberapa program seperti penanaman pohon non produksi di sepanjang jalur baru menuju Ciletuh.

"(Program) yang saat ini sedang berlangsung adalah penanaman pohon di Sungai Ciletuh, sepanjang sepanjang 50 kilometer atau lebih tepatnya 100 kilometer, karena yang ditanami kedua sisi," ujarnya.

"Selain itu ada juga program adopsi pohon-pohon, khususnya yang endemik, yang dikenakan biaya Rp20 ribu per pohon per orang. Hal ini bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa harus ke Ciletuh terlebih dulu. Jadi sebelum jalan-jalan ke Ciletuh, ada baiknya mengadopsi pohon dulu."

Menurutnya biaya sebesar Rp20 ribu digunakan untuk perawatan pohon selama satu tahun, karena setelah satu tahun pohon sudah bisa bertahan. Sebagai pertanggungjawabannya pohon-pohon tersebut akan diberi nama dan dilaporkan perkembangannya kepada donatur.

Selain penanaman pohon, Endang melanjutkan, PAPSI juga melakukan penebaran bibit ikan Nila dan Nilem sebanyak 30 ribu ekor ke Sungai Ciletuh. Ia menuturkan program ini didukung oleh Dinas Perikanan.

Program penebaran bibit ikan ini, dimaksudkan agar air Sungai Ciletuh bisa kembali layak dikonsumsi.

"Karena kan dulu suka dikasih potasium sama masyarakat pesisir, jadi dampaknya juga sampai ke sungai. Pengawasan di tempat ini terbilang mudah karena dilakukan oleh para pemancing, jadi para pemancing itu yang akan marah kalau ikannya hilang karena tercemar zat berbahaya," katanya sembari terkekeh.

(agr/ard)