Yang Harus Diperhatikan Sebelum Unggah Foto Anak di Medsos

CNN Indonesia | Jumat, 23/11/2018 10:20 WIB
Yang Harus Diperhatikan Sebelum Unggah Foto Anak di Medsos ilustrasi media sosial (Unsplash/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Punya anak yang pandai, lucu, dan menggemaskan memang jadi kebanggaan tersendiri untuk orang tua.

Kebanggaan ini pun kerap diabadikan dan dibagikan dengan orang lain melalui unggahan media sosial. Berbagai publik figur pun kerap mengunggah aktivitas anak-anaknya di akun media sosialnya.

Tingkah polah yang lucu itu pun membuat banyak pengikut akunnya tak segan membagikan double click tanda 'cinta.'



Salah satunya adalah keluarga kecil artis Gading Marten, Gisella Anastasia dan sang puteri Gempita Nora Marten atau Gempi. Pemberitaan tentang perceraian orang tuanya membuat foto Gempi banyak dibagikan oleh warganet di media sosial. Tak cuma itu, tagar #SaveGempi juga menggema di media sosial.

Psikolog anak Monica Sulistiawati mengungkapkan ada bahaya yang tersembunyi ketika mengunggah foto anak di media sosial. Beberapa di antaranya adalah bahaya paedofil sampai kemungkinan penculikan.

Untuk mengamankan anak-anak dari bahaya tak terduga di media sosial, Monica mengungkapkan bahwa orang tua perlu berhati-hati ketika mengunggah foto anak ke media sosial.

Sebelum unggah foto anak ke media sosial, berikut beberapa hal yang harus dicermati.

1. Amankan identitas anak

"Pertama (perhatikan) apa di foto mengandung identitas anak yang (berpotensi) mengganggu keselamatan dia," kata Monica saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (22/11). 

Ia mencontohkan orang tua mengunggah foto hari pertama anak masuk sekolah. Foto akan mengandung identitas anak saat orang tua mengambil gambar anak di depan sekolah lengkap dengan papan nama sekolah. Kalaupun tidak menampilkan papan nama sekolah, dalam foto unggahan menampilkan identitas sekolah atau nama anak yang biasa menempel pada seragam. 

"Kalau misal dia pakai seragam A, oh anaknya si A sekolahnya di X ya. Nah kita pasti ingin menghindarkan anak dari hal-hal yang tidak diinginkan," imbuhnya. 

Monica pun menyarankan agar orang tua menutupi terlebih dahulu identitas yang menempel pada tubuh anak, atau mengambil gambar di lokasi yang tidak mengandung identitas apapun yang bisa mengancam keselamatan anak. 


2. Perhatikan kelayakan anak

Orang tua perlu melihat kelayakan anak saat difoto atau diambil videonya. Monica menjelaskan kelayakan yang dimaksud adalah kondisi anak. Menurut dia, tiap orang memiliki persepsi berbeda saat melihat unggahan di media sosial. Ada hal yang menurut orang lain pantas, ada hal yang menurut orang lain tidak pantas. 

Contohnya, orang tua mengambil video anak-anak mereka yang bertengkar dan salah satu anak menangis. Sang ibu menganggap anaknya yang menangis ini tampak menggemaskan. Namun belum tentu netizen berpendapat serupa. 

"Belum tentu belum tentu pesan yang kita maksudkan akan ditangkap (sama oleh) orang lain. Akan muncul mommy shamming, misal dengan berkomentar bukannya dilerai kok difoto sih," jelas Monica. 

Sebelum mengunggah foto atau video anak, ibu bisa berdiskusi dengan ayah apakah foto atau video mereka anggap layak untuk diunggah. "Pasangan di sini menjalin kekompakan. Kalau ada mommy shamming, pasangan bisa mendukung," imbuhnya. 

3. Anak berpakaian layak

Selain soal kelayakan tingkah polah anak, Monica mengingatkan orang tua juga mempertimbangkan pakaian yang dikenakan anak. Orang tua disarankan untuk tidak mengunggah foto atau video anak saat mengenakan pakaian serba minim. 

"Misal anak kita tiga tahun, dia terlihat lucu nih pakai baju renang. Anak nanti takutnya dijadikan objek seksualitas sehingga orang tua perlu berhati-hati," kata dia. 

4. Minta pendapat anak

Monica mengatakan untuk anak usia tertentu bisa ditanyakan pendapatnya sebelum orang tua mengunggah foto. Menurutnya, dari usia 8 tahun anak bisa dimintai pendapat meski belum tentu ia memberikan pendapat yang logis. Meski demikian, pendpaat anak perlu didengarkan sekaligus meminta pendapat pasangan. 

Ini untuk menghindari rasa malu serta rasa tidak nyaman anak saat beranjak remaja dan dewasa.

"Jadi memang harus mempertimbangkan, kira-kira anak akan malu enggak ya. Kalau malu, anak merasa tidak nyaman, bisa mengganggu psikologisnya," kata Monica.

(els/chs)


ARTIKEL TERKAIT