Tiga Negara Turun Tangan Membangun Hutan Kalimantan

ANTARA, CNN Indonesia | Jumat, 07/12/2018 08:59 WIB
Tiga Negara Turun Tangan Membangun Hutan Kalimantan Ilustrasi. (Adrian Pelletier via Free Nature Stock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi internasional yang menangani masalah konservasi, penelitian dan restorasi lingkungan, World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, mengatakan kawasan Jantung Kalimantan (Heart of Borneo) akan menjadi model pembangunan hijau inklusif.

Heart of Borneo adalah inisiatif pemerintah dari Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia untuk melestarikan salah satu hutan hujan tropis dan tangkapan air terbaik di pedalaman Borneo untuk kesejahteraan generasi saat ini dan akan datang.

"Konservasi penting tapi tidak bisa dilepaskan juga bahwa pembangunan wilayah dan ekonomi harus sejalan, seiring," kata Iwan Wibisono, selaku Heart of Borneo Leader dari WWF, seperti yang dikutip dari Antara pada Rabu (5/12).


Pembangunan hijau inklusif yang dimaksud mengedepankan upaya konservasi sembari mengembangkan wilayah dan ekonomi untuk perlindungan dan kelestarian alam serta peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam kawasan itu.

Iwan mengatakan upaya konservasi dan pengembangan kegiatan ekonomi dapat dilakukan dengan pembangunan berkelanjutan di ruang yang tepat dan khusus di areal aktivitas pembangunan.

Sementara, kegiatan konservasi yang dilakukan tetap bisa memberi kontribusi ekonomi kepada masyarakat melalui pengembangan aktivitas ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, seperti perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dan kegiatan budidaya yang memperhatikan aspek lingkungan.

Dia mengatakan kegiatan konservasi di kawasan Jantung Kalimantan berarti meningkatkan manajemen dan tata kelola kawasan lindung seperti taman nasional, suaka margasatwa dan suaka alam.

Pengembangan konservasi juga dilakukan dengan pendekatan secara lanskap dan ekosistem sebagai dasar untuk perencanaan tata guna lahan terutama dalam lanskap-lanskap prioritas dan sub-lanskap di Jantung Kalimantan, serta kawasan yang berdekatan yang sangat penting untuk konektivitas ekologi, aliran spesies dan genetik.

"Kita tidak bilang bahwa hanya konservasi penting dan pembangunan 'stop' (berhenti), atau pembangunan saja tapi aspek konservasi dan perlindungan alam tidak dilakukan, itu juga bukan pembangunan yang tepat," tuturnya.

Pemerintah Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia telah mendeklarasikan komitmen mereka untuk melestarikan dan mengelola secara berkelanjutan kawasan Heart of Borneo pada 12 Februari 2007 di Bali.

Kawasan Heart of Borneo mencakup sekitar 23 juta hektare hutan yang terhubung secara ekologis di tiga negara.

Sebagian besar dari kawasan ini yakni 71 persen atau sekitar 16,890 juta didominasi oleh hutan hujan tropis di Indonesia.

Sejak 2008, kawasan Heart of Borneo di Indonesia telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional oleh pemerintah Indonesia dan hingga saat ini mencakup empat provinsi dan 17 kabupaten.

(ard)