Kemenpar Minta Diplomat Ikut Mempromosikan Wisata Indonesia

Kemenpar, CNN Indonesia | Minggu, 16/12/2018 21:11 WIB
Kemenpar Minta Diplomat Ikut Mempromosikan Wisata Indonesia Kemenpar meminta bantuan para diplomat untuk menularkan 'virus' Wonderful Indonesia di luar negeri. (Dok. Kemenpar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Kemenpar I Gde Pitana memaparkan potensi wisata Indonesia dalam Workshop Pengembangan Kapasitas Promosi dan Pemasaran Pariwisata bagi Diplomat RI di Lombok.

"Pariwisata adalah penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja yang paling mudah, murah dan cepat. Dan buih keuntungannya bisa menetes sampai lapisan terbawah," tutur Pitana di depan 41 diplomat Indonesia dari seluruh dunia, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (16/12).

Dia memaparkan dari data The World Travel & Tourism Council (WTTC), yang menyebut pertumbuhan pariwisata Indonesia masuk sembilan besar dunia dan tiga besar di Asia.



Dari periode Januari-Desember 2017 saja, angkanya sukses menembus 22 persen. Angka pertumbuhan ini di atas rata-rata pertumbuhan turisme dunia yang hanya menorehkan 6,4 persen. Presentasenya juga lebih tinggi dari pertumbuhan ASEAN sebesar 7 persen.

"Kita hanya kalah dari Vietnam yang tumbuh lebih di angka 29 persen  karena melakukan banyak deregulasi. Malaysia hanya tumbuh 4 persen, begitu pula dengan Thailand," papar Pitana.

Pertumbuhan ini langsung berimbas ke perolehan devisa. Kini, pariwisata sudah menjadi penyumbang devisa nasional nomor dua terbesar setelah industri kelapa sawit (CPO).

Sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat sejak tahun 2015 dari US$12,2 miliar, pada 2016 menjadi US$13,6 miliar dan pada tahun 2017 naik lagi menjadi US$15 miliar. Diharapkan pada tahun ini sektor pariwisata meraup devisa hingga US$17 miliar. Sedangkan, proyeksi tahun 2019 sebesar US$20 miliar.


Dia menyebut Indeks daya saing Pariwisata Indonesia juga naik fantastis dari peringkat 70 dunia di tahun 2013, melompat ke posisi 50 besar di 2015 dan saat ini 2017 menembus papan 42 besar dunia.

"Ini karena kita perkuat branding Wonderful Indonesia dan memperbaiki 14 pilar yang sudah disusun oleh TTCI (Travel and Tourism Competitiveness Index), World Economic Forum," jelas dia.

Menpar Arief Yahya menyebut pariwisata sudah dilirik sebagai primadona baru bagi perekonomian bangsa karena pertumbuhannya yang sangat bagus.

Dari beragam fakta tadi, selama empat tahun di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla itu, Arief mengatakan masa depan pariwisata akan semakin terbuka.

"Kinerja ini berkat CEO Commitment, yang ditunjukkan presiden selama memimpin kabinet kerja ini," tutur Arief.

Pertama, pariwisata ditetapkan Presiden Jokowi sebagai leading sector dan sekaligus core ekonomi bangsa. Kedua, presiden sendiri sudah hadir dan mendukung pariwisata dengan menetapkan 10 destinasi prioritas, atau yang sering dipopulerkan dengan istilah 10 Bali Baru.

Ke-10 Destinasi Prioritas itu antara lain Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Bangka Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan
Seribu DKI Jakarta, Borobudur di Joglosemar, Bromo-Tengger-Semeru Jawa Timur, Mandalika di Lombok, Komodo Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sulawesi Tenggara dan Morotai Maltara.

Ketiga, presiden sudah hadir langsung di banyak destinasi wisata tersebut, seperti Raja Ampat, Morotai, Labuan Bajo, Larantuka, Mandalika, Borobudur, Tanjung Lesung, dan Danau Toba.

"Semua itu menunjukkan komitmen yang tinggi dari Presiden Jokowi terhadap dunia pariwisata. Dan sekarang, kami meminta bantuan para diplomat untuk menularkan 'virus' Wonderful Indonesia di luar negeri," kata dia. (mle/egp)