ANALISIS

Oleh-oleh: Antara 'Hak' dan Kewajiban

CNN Indonesia | Minggu, 13/01/2019 12:48 WIB
Oleh-oleh: Antara 'Hak' dan Kewajiban ilustrasi oleh-oleh (Istockphoto/Marcus Lindstrom)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Jangan lupa oleh-olehnya ya," "Wah enak banget liburan terus, oleh-oleh yaa.."

Ungkapan semacam itu kerap mampir saat ada seseorang yang dikenal tengah berlibur.

Sekali dua kali mungkin masih tak masalah, namun bagaimana kalau tiap kali Anda pergi liburan, selalu saja ada yang nagih oleh-oleh dari Anda. Bahkan, beberapa di antaranya mungkin bukan keluarga dan teman dekat.


Kadang bagi beberapa orang, 'tagihan' oleh-oleh ini kerap dianggap sebagai sebuah kewajiban pascaliburan dan bukannya sebuah hak seseorang.

Lama-kelamaan, tradisi ini pun 'beranak pinak.' Oleh-oleh menjadi sebuah kewajiban saat berwisata. Namun mencari jejak awal mula oleh-oleh jadi kewajiban ini bagaikan mencari lebih dulu mana antara telur atau ayam, tak ada yang tahu.

Bukankah memberi oleh-oleh bisa disamakan dengan hak seseorang untuk memberi kepada siapa pun yang dia inginkan dan memberikan apa pun yang dia mau? Namun mengapa tampaknya memberi oleh-oleh jadi sebuah kewajiban bagi orang-orang yang sedang liburan?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, oleh-oleh adalah sesuatu yang dibawa dari bepergian, buah tangan.

"Oleh-oleh itu tanda mata dari destinasi liburan ke orang-orang yang kita kasihi," kata traveller Kenny Santana kepada CNNindonesia. com, Kamis (10/1).

Jika ditilik arti secara harafiah, oleh-oleh ini seharusnya bukan sebuah kewajiban. Tak ada unsur paksaan di dalamnya yang mengharuskan memberi sesuatu kepada orang lain.

Bicara soal oleh-oleh, seharusnya hal ini menjadi sebuah pemberian 'ikhlas' tanpa paksaan. Kenny mengungkapkan bahwa oleh-oleh adalah tanda mata dari destinasi liburan ke orang-orang yang kita kasihi.

"Saya enggak pernah merasa wajib, kalau lihat sesuatu dan kayaknya cocok buat yang dikasih, saya belikan," kata Kenny kepada CNNIndonesia.com, Kamis (10/1).

Meminta dan berharap diberi oleh-oleh kepada yang baru balik liburan ini memang sudah jadi 'tradisi.' Tak cuma itu, usai diberi oleh-oleh, ada juga anggapan dan harapan untuk mendapat balasan oleh-oleh dari orang tersebut ketika mereka pergi.

Dua petualang Indonesia, Kenny Santana yang dikenal lewat akun instagramnya @kartupos dan Claudia Kaunang lewat akun @claudiakaunang sama-sama sepakat kalau membeli oleh-oleh bukanlah sebuah kewajiban.

"Enggak ada keharusan untuk ngasih oleh-oleh," kata Claudia.

"Di kamusku enggak ada kata wajib untuk oleh-oleh," ucap Kenny.

Keduanya juga mengungkapkan bahwa sebenarnya membeli buah tangan atau kenang-kenangan usai liburan ini biasanya dilakukan ketika melihat sesuatu yang memang sesuai untuk teman atau keluarga.

"Kalau lihat sesuatu yang cocok untuk yang dikasih, saya beli," kata Kenny.

Ungkapan itu pun juga dibenarkan oleh Claudia.

Urusan membeli oleh-oleh seharusnya jadi hal yang menyenangkan karena buah tangan ini adalah bentuk perhatian dan kasih dari si pemberi. Namun dalam beberapa kasus, oleh-oleh ini justru jadi beban berat bagi orang yang akan liburan.

Bukan cuma beban untuk memberi kepada banyak orang tapi juga beban soal harga atau nilai oleh-olehnya. Ada perasaan takut dan tak enak jika hanya memberi suvenir dengan harga yang murah atau ukuran yang kecil.

Padahal, lagi-lagi, tak ada aturan minimal nominal oleh-oleh. Sama seperti tak adanya kewajiban untuk memberi oleh-oleh untuk semua orang.

"Bagi pemberi: jangan merasa ini jadi kewajiban. Bagi penerima: jangan meminta oleh-oleh sebelum si traveller jalan-jalan," ucap Kenny.

Pengaruh hormon

Tradisi memberi oleh-oleh sendiri pascaliburan pun diakui menjadi sebuah kebiasaan tersendiri bagi orang Indonesia. Ada anggapan kalau hal ini terjadi karena orang Indonesia yang dikenal ramah dan gemar berbagi untuk orang lain, khususnya kepada orang-orang dekat.

"(Pada dasarnya) Orang Indonesia itu senang memberi," kata Claudia.

Dia menambahkan bahwa ada kemungkinan bahwa tradisi memberi oleh-oleh ini disinyalir berangkat dari tradisi mudik. Saat pulang kampung, banyak orang bakal membawakan buah tangan untuk orang-orang di kampung sebagai oleh-oleh.

ilustrasi oleh-olehFoto: Istockphoto/Imgorthand
ilustrasi oleh-oleh


Hanya saja, dalam urusan oleh-oleh. Dibanding urusan gemar berbagi (yang bisa jadi masih jadi faktor utama), alasan tak enak kalau tak kasih oleh-oleh, sampai ingin pamer juga jadi faktor lain yang memengaruhi orang-orang saat memberi oleh-oleh.

Jauh sebelum ada perdebatan dan beban moral soal harus tidaknya memberi oleh-oleh untuk kerabat, teman, bahkan tetangga, kebiasaan memberi sesuatu ini ternyata memang memberikan efek 'kecanduan' tersendiri.

Claudia mengungkapkan bahwa memberi oleh-oleh akan memberikan kesenangan sendiri bagi si pemberi.

"Ketika membeli oleh-oleh untuk orang-orang ada hormon oksitosin dan dopamin yang bekerja. Hormon inilah yang membuat Anda merasa bahagia ketika membeli oleh-oleh," ucapnya.

"Efek ini sama seperti yang dihasilkan oleh efek saat shopping."

Hormon oksitosin dikenal juga sebagai hormon cinta, sedangkan dopamin dikenal sebagai hormon yang membuat Anda merasa bahagia.

Selain memberikan rasa bahagia, memberi oleh-oleh kepada orang-orang terkasih dengan iklas juga akan memberi sebuah perasaan yang menyenangkan.

Ada orang-orang yang memberi oleh-oleh karena mereka suka dengan perasaan saat mereka bisa memberi hadiah kepada orang lain.

Apapun alasan Anda ketika memberi oleh-oleh, pastikan kalau yang pasti, memberi oleh-oleh bukan karena kewajiban habis liburan, bukan karena ingin pamer, atau bahkan mengharapkan balasan.

"Yang pasti belilah oleh-oleh sesuai dengan kemampuan badan dan keuangan Anda," pungkas Claudia. (chs/chs)




ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA