Sebut Wanita Jadi Daya Tarik Pariwisata, Uganda Dikritik

AFP, CNN Indonesia | Jumat, 08/02/2019 18:24 WIB
Sebut Wanita Jadi Daya Tarik Pariwisata, Uganda Dikritik Ilustrasi. (Pexels/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kelompok aktivis perempuan Uganda pada hari Kamis (7/2) mengecam kampanye pemerintah yang menggunakan promosi "perempuan montok" demi mendatangkan wisatawan ke negara Afrika timur itu.

Menteri Pariwisata Godfrey Kiwanda meluncurkan kampanye pada hari Rabu (6/2) pada sebuah konferensi pers yang dihadiri oleh sekelompok model wanita montok.

"Uganda diberkahi dengan wanita cantik. Keindahan mereka unik dan beragam. Itu sebabnya kami memutuskan untuk menggunakan kecantikan yang unik, yang montok ... untuk menjadikan kecantikan ini produk yang akan dipasarkan bersama dengan apa yang telah kami miliki sebagai negara mulai dari alam, bahasa dan makanan, untuk menjadikannya objek wisata," kata Kiwanda kepada AFP.


Sebagai bagian dari promosi pariwisata, pemerintah juga bakal menggelar kontes kecantikan, Miss Curvy Uganda, pada bulan Juni mendatang.

"Pemenang kontes Miss Curvy akan menjadi bagian dari merek kampanye pariwisata kami menggunakan kecantikan sebagai salah satu produk pariwisata lainnya," kata Kiwanda.

Kaum perempuan Uganda tentu saja geram atas rencana tersebut dan menyerukan pengunduran diri Kiwanda.

"Berpikir kalau wanita dapat digunakan sebagai objek seks di zaman sekarang adalah konsep yang absurd dan kami mengutuknya," kata Rita Aciro, direktur eksekutif Jaringan Wanita Uganda, kepada AFP.

Pengusaha dan aktivis Uganda, Primrose Nyonyozi Murungi, meluncurkan petisi online untuk menghentikan kampanye, yang disebutnya "benar-benar tidak dapat diterima dan merendahkan kami".

"Perempuan di Uganda telah diserang ketika berada di jalan-jalan. Yang terjadi sekarang adalah pemerintah membenarkan stereotip bahwa perempuan adalah objek seksual dan dapat disentuh tanpa peduli dan lebih lagi dijadikan produk pariwisata," katanya kepada AFP.

Dia mengatakan bahwa jika kampanye tidak segera dihentikan, para pembuat petisi akan membawa kasus ini ke pengadilan.

Dia meminta pengunduran diri Kiwanda dan menuntut permintaan maaf dari pemerintah.

Presiden Uganda Yoweri Museveni-yang tahun lalu mengkritik Miss Uganda, Quinn Abenakyo karena "mengenakan rambut India" setelah ia dinobatkan sebagai Miss World Afrika, ikut berkomentar atas masalah ini.

"Kami mendorong Miss World Africa (Abenakyo) untuk memasarkan Uganda. Jika kami melakukannya, apakah kita telah bertindak benar?" dia berkata.

Mantan pemimpin oposisi di parlemen Winnie Kiiza mengatakan kepada AFP, kampanye ini terjadi "pada saat perempuan sedang menghadapi ketakutan dan stigma dalam masyarakat yang didominasi pria".

"Kami sangat marah dengan kampanye ini bahwa pemerintah dapat mengarak perempuan sebagai objek wisata," katanya.

Kiwanda, yang berusaha membendung kemarahan, menegaskan kampanye itu tidak ditujukan untuk merendahkan wanita.

"Keberagaman negara kita, seperti contohnya bentuk tubuh wanita di sini, bisa menjadi daya tarik pariwisata."

(ard)