Data ini digunakan WHO untuk menunjukkan bahwa tren negatif campak kembali muncul di tingkat global, termasuk di antaranya negara-negara kaya di mana penyebaran vaksin terkendali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
WHO sendiri masih menunggu hingga April laporan beberapa negara lain yang belum melaporkan jumlah kasus campak yang terjadi sepanjang 2018.
Meski pendataan terbilang belum rampung, tapi angka itu bisa disebut sebagai penanda meningkatnya kasus campak. Sejauh ini, data yang telah diterima menunjukkan sekitar 229 ribu kasus campak. Angka itu jauh di atas 170 ribu keseluruhan kasus campak yang terjadi pada 2017.
Campak merupakan penyakit menular yang menyebabkan diare parah, radang paru-paru, dan kehilangan penglihatan. Dalam beberapa kasus, campak bisa berakibat fatal hingga menyebabkan kematian.
Lihat juga:WHO: Kasus Campak Meningkat 30 Persen |
Sementara di negara-negara lainnya, peningkatan kasus campak dikaitkan dengan informasi yang salah mengenai vaksin. Hal ini berkaitan dengan klaim tidak mendasar yang mengasosiasikan campak dengan autisme. Klaim itu digerakkan oleh mereka yang tergabung dalam kelompok anti-vax atau anti-vaksin.
"Kami mundur dari kemajuan yang telah dibuat. Kami mundur karena tidak memiliki alat untuk mencegah ini. Kami mundur karena kegagalan vaksinasi," jelas O'Brien. (asr/asr)