Perimenopause mengacu pada periode waktu ketika siklus menstruasi seseorang mulai kacau dan tak beraturan. Pada sebagian orang, fase ini terjadi selama satu dekade. Sayang, kemunculan fase ini kerap tak disadari banyak wanita.
"Transisi biasanya ditandai dengan periode menstruasi yang tiba-tiba absen," ujar pakar ginekologi dari University of Colorado, Nanette Santoro, mengutip Huffington Post. Umumya, hal ini terjadi saat wanita menginjak usia 40-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Membongkar Mitos Vagina Kendor |
Di luar kekacauan siklus menstruasi, ada sederet gejala lain yang menyertai perimenopause. "Gejala akan semakin parah ketika Anda sangat dekat dengan titik di mana siklus menstruasi berhenti sepenuhnya," kata Santoro.
Salah satu masalah yang paling sering dibahas adalah hot flashes alias serangan panas luar biasa yang bergerak naik ke kepala dengan sangat cepat dan membuat Anda berkeringat. Jika keringat ini muncul di malam hari, kondisi ini kerap disebut dengan istilah keringat malam.
Lalu, ada juga fluktuasi suasana hati. Selama fase perimenopause, seseorang akan menjadi mudah marah, cemas, dan stres. "Wanita berisiko mengalami episode depresi pertama ketika mengalami perimenopause," kata Santoro. Sekitar 15 hingga 25 persen wanita akan melaporkan peningkatan gejala depresi selama fase itu.
Pengalaman perimenopause akan berbeda dari setiap orang. Santoro menyarankan Anda untuk melihat sejarah keluarga. Sebab, dalam perimenopause, genetika dan gaya hidup menjadi faktor penting.
Selain itu, berat badan dan etnis juga berperan dalam perimenopause. Disebutkan, kelebihan berat badan terkait dengan hot flash yang lebih parah. Dalam penelitian, Santoro juga pernah menemukan bahwa orang berkulit hitam cenderung mengalami fase hot flash lebih lama dan parah.
Perimenopause memberikan dampak luar biasa pada hidup. Pakar ginekologi lain, Alyssa Dweck, menyarankan Anda untuk mempertimbangkan gaya hidup seperti meningkatkan intensitas olahraga dan berkonsultasi dengan ahli gizi.
Lihat juga:Menolak 'Loyo' di Masa Menopause |
Rute lain yang bisa Anda lakukan adalah terapi hormon. Namun, perlu digarisbawahi, terapi ini menimbulkan beberapa risiko dan efek samping. Terapi ini pada dasarnya menempatkan hormon yang hilang--estrogen dan pregesteron--kembali ke tubuh Anda. (asr)