Menelisik Sisi Unik Perayaan Cap Go Meh

CNN Indonesia | Selasa, 19/02/2019 15:03 WIB
Menelisik Sisi Unik Perayaan Cap Go Meh Ilustrasi perayaan Cap Go Meh (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kemeriahan perayaan Cap Go Meh mewarnai berbagai daerah di Indonesia seperti Bogor, Jakarta, dan Singkawang. Cap Go Meh sendiri merupakan penutup dari rangkaian perayaan tahun baru Imlek.

Secara harfiah, 'cap go' berarti lima belas dalam dialek Hokkien. Perayaannya jatuh pada 15 hari setelah perayaan Imlek atau bertepatan dengan munculnya bulan purnama.

Budayawan Jongkie Tio menjelaskan, secara garis besar, perayaan tahun baru Imlek dibagi menjadi tiga bagian. Di antaranya Imlek, sembahyang Tuhan Allah dan Cap Go Meh. Imlek, lanjut dia, lekat dengan festival naga dan barongsai. Naga, barongsai, tetabuhan, dan petasan dipercaya bisa mengusir roh jahat dan mengusir hawa buruk.


Kemudian, pada pekan pertama, warga keturunan Tionghoa melakukan sembahyang Tuhan Allah. Jongkie berkata, semua vihara maupun klenteng bakal ramai dikunjungi mereka yang bakal melakukan sembahyang di muka pintu pada pukul 12 malam. Sembahyang dimaksudkan untuk berterimakasih pada Tuhan.

"Nah, minggu kedua [adalah perayaan] Cap Go Meh. Ini perayaan menyambut musim semi. Seperti kalau habis panen [ada] syukuran, ungkapan terima kasih, lalu supaya hasil panen berikutnya baik, usaha dagang juga baik," jelas Jongkie saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (19/2).

Selain tiga rangkaian besar itu, kebanyakan rumah tangga juga menggelar jamuan makan untuk para leluhur. Keluarga menyiapkan makanan favorit leluhur dan meletakkannya di dalam mangkuk terpisah.

Jamuan dimulai dengan sembahyang pada Tuhan, kemudian memanggil roh leluhur lewat Dewa Bumi. Pasalnya, mereka percaya bahwa para leluhur 'ditanam' di bumi.

"Jelang Imlek ada makan bersama leluhur. Setelah 2-3 jam, kita tanya [pada leluhur] sudah selesai makan apa belum. Terus diuncalno [dilemparkan] dua keping [koin]," jelas Jongkie. Jika dua keping menunjukkan gambar berbeda, artinya leluhur telah selesai menikmati jamuan makan.

Selain jamuan, banyak juga keluarga yang melakukan tradisi ciswak atau upacara buang sial di klenteng. Menurut Jongkie, ini mirip saat jelang peringatan Sura (tahun baru Jawa).

Orang-orang percaya, dengan memotong sedikit bagian rambut dan membuang pakaian lama ke laut, maka kesialan akan hilang.

Beda Cap Go Meh Indonesia dan China

Meski sama-sama berdarah Tionghoa, perayaan Cap Go Meh di China daratan berbeda dengan di Indonesia.

Di China, seluruh anggota keluarga berkumpul dan menggelar pesta besar. Jamuan diwarnai oleh makanan mewah dan istimewa demi menghantar pada handai tolan kembali ke rumah masing-masing.

"Makanannya harus mewakili tiga unsur darat, laut dan udara, seperti ikan, ayam untuk unsur udara, darat, ya, babi kalau di sana atau sapi," kata Jongkie.

Tak hanya itu, malam sebelum Cap Go Meh di China pun terasa ramai. Keramaian itu diisi dengan kegiatan bergadang atau 'lek-lekan' dalam bahasa Jawa. Kegiatan ini biasa dilakukan di klenteng dan diisi dengan sembahyang. Bahkan, ada pula yang menghabiskan malam dengan menikmati arak dan berjudi.

Tak lupa pula festival lampion yang kerap mewarnai setiap perayaan Cap Go Meh, baik di Indonesia maupun China. Lampion memberi makna penerangan dan kelancaran rezeki.

Gambaran kemewahan yang sama nampaknya tak terlalu kentara di Indonesia. Pasalnya, warga keturunan Tionghoa yang tinggal di luar China kebanyakan tinggal di kawasan perkampungan. "Penutup Imlek di kawasan peranakan Tionghoa enggak bisa pesta besar," kata Jongkie.

Oleh karenanya, konsep perayaan Cap Go Meh di warga keturunan Tionghoa disalurkan dengan cara yang lebih sederhana. Di Indonesia, misalnya, yang dinilai cukup melalui kehadiran lontong Cap Go Meh.

[Gambas:Video CNN] (els/asr)


ARTIKEL TERKAIT