Sebuah penelitian membuktikan bahwa anak yang rutin sarapan memiliki nilai rata-rata akademik yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang sarapan.
Penelitian ini dilakukan oleh spesialis konsultan gizi dan metabolik, dr I Gusti Lanang Sidiartha. Dia mengambil sampel sebanyak 178 siswa SD 1 Taro, Gianyar, Bali. Para siswa ditanya mengenai kebiasaan dan menu sarapan mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Studi: Sarapan Bantu Tekan Risiko Diabetes |
Menurut dia, sarapan sangat penting sebab tubuh tidak memperoleh asupan apa pun saat tidur. Tubuh memiliki mekanisme mengeluarkan enzim leptin agar timbul rasa kenyang sehingga tidur tidak terganggu.
Anak rata-rata sebaiknya tidur selama 6-8 jam. Saat bangun, maksimal 1-2 jam tubuh harus diberi asupan.
Untuk anak, sarapan akan menyediakan energi yang cukup, mencegah rasa lapar, menambah konsentrasi belajar, menambah daya serap, dan memberikan ketersediaan glukosa untuk menunjang aktivitas otak, khususnya saraf neurotransmiter.
Bahan makanan untuk sarapan dapat dikelompokkan jadi tujuh yakni, makanan pokok (biji-bijian, akar-akaran), kacang-kacangan, produk susu, daging, telur, makanan yang mengandung vitamin A, serta sayuran dan buah. Lanang berkata, dari tujuh kategori ini, paling tidak menu sarapan meliputi empat jenis termasuk makanan pokok.
Lihat juga:Sarapan Sehat dan Enak dengan Salad |
Taufiq berkata bahwa seorang anak tak boleh melewatkan pagi tanpa sarapan. Sarapan, kata dia, harus bersifat rutin. Jika kebiasaan sarapan dimulai sejak dini, maka kebiasaan itu akan terbawa hingga dewasa.
"Sarapan itu berpengaruh pada walking memory [memori jangka pendek]. Selain itu, sarapan berpengaruh pada emosional dan kewaspadaan. Dengan sarapan, orang bisa tenang," kata dia dalam kesempatan serupa. (els/asr)