Sakitnya Patah Hati Mirip dengan Serangan Jantung

CNN Indonesia | Kamis, 28/02/2019 10:00 WIB
Sakitnya Patah Hati Mirip dengan Serangan Jantung ilustrasi patah hati (Ichirino/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Reino Barack dan Syahrini resmi menikah dan menjadi suami istri. Ini jadi hari bahagia mereka berdua tetapi mungkin sebaliknya bagi Luna Maya, mantan kekasih Reino. Para netizen pun ramai 'berkicau' di kolom komentar unggahan Instagram aktris ini. 

[Gambas:Instagram]

"Strong ya kak Luna, we love you"


"Ah sakit hati banget gila"

"Jagain jodoh orang thanks ya"

Selain itu juga terdapat aneka komentar dengan nada memberikan semangat dan mengingatkan Luna untuk bersabar nicaya jodoh akan datang. Meski tidak menyinggung apapun soal pernikahan mantannya, patah hati tampaknya bukan hal yang bisa dielakkan begitu saja. 

Ada sebuah lirik lagu yang menyatakan 'lebih baik sakit gigi daripada sakit hati.' Potongan lirik ini ada benarnya sebab patah hati rupanya berhubungan dengan sakit fisik. 


Hubungan timbal balik antara depresi kehilangan cinta dan tekanan emosional yang ekstrem memicu gejala-gejala menyakitkan yang menyerupai serangan jantung. 

"Patah hati menyerang area otak yang sama seperti rasa sakit secara fisik. Rasa sakit berhubungan dengan baik depresi maupun pelemahan fungsi imun," kata Craig Malkin, instruktur dan psikolog klinis di Harvard Medical School dikutip dari Psychology Today

Rasa sakit karena patah hati dipicu oleh hormon yang keluar setelah mengalami kehilangan orang yang dikasihi, trauma akibat hubungan cinta yang berakhir maupun karena perceraian. Adrenalin mempengaruhi kemampuan pompa jantung sehingga membuatnya berada dalam kondisi 'beku' dan ventrikel (ruang jantung yang bertugas untuk memompa darah) kiri pun membesar. 

Jika fatal, rasa sakit ini bisa menghantarkan seseorang ke ruang unit gawat darurat. Namun kondisi yang disebut sebagai 'broken heart syndrome' ini tidak akan mengancam nyawa. 

Untuk pasangan berusia lanjut kondisi yang lebih familiar terjadi adalah pasangan yang meninggal dalam waktu hampir bersamaan atau dalam jarak waktu yang tak begitu lama. Elizabeth Mostofsky, mahasiswa postdoktoral di unit riset epidemiologi kardiovaskular di Beth Israel Deaconess Medical Center, Boston berkata risiko serangan jantung meningkat 21 kali lipat dalam 24 jam setelah pasangan meninggal. 


Dia bersama tim melakukan wawancara dengan hampir dua ribu pasien yang mengalami infark miokardial (terhentinya aliran darah sesaat yang berakibat pada matinya sebagian sel jantung). Temuan ini pun diterbitkan dalam jurnal Circulation

"(Rasa kehilangan) meliputi peningkatan rasa depresi, cemas dan marah dan itu semua ditunjukkan dengan peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan kecenderungan pembekuan darah yang semua ini mengarah pada serangan jantung," kata Mostofsky. (els/chs)