Senja Ungu dalam Koleksi Baru Defrico Audy

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Sabtu, 09/03/2019 17:08 WIB
Senja Ungu dalam Koleksi Baru Defrico Audy Semburat matahari senja menjadi sumber inspirasi koleksi baru Defrico Audy yang dipamerkan dalam Jogja Fashion Festival 2019. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terpesona cantiknya semburat cahaya matahari di peraduan senja, membuat Defrico Audy merancang koleksi busana terbarunya bernuansa keunguan.

Desainer yang akrab disapa Audy ini mengaku cahaya yang timbul ketika matahari menghilang itu jadi inspirasinya untuk koleksi yang dipamerkan di Jogja Fashion Festival (JFF 2019). 
Warna keunguan dibuat pada bahan yang mengkilat-kilat seolah punya banyak pantulan cahaya.

"Pantulan cahaya ini filosofinya adalah bahwa kita manusia harus baik dari luar, baik pula dari dalam," kata Audy kepada media usai tampil JFF 2019 di Plaza Ambarrukmo, Yogyakarta, Jumat (8/3).


Audy menunangkan inspirasi itu dalam sembilan look busana yang terdiri dari beragam gaun, atasan seperti jubah, jumpsuit, celana longgas, dan coat. Audy banyak menggunakan bahan shimmer, Prancis, glitters, dan tafeta.


Seperti kala senja, Audy memotret burung phoenix yang pulang ke kandang sebagai salah satu detail di busananya. Corak phoenix itu salah satunya terlihat di bagian belakang coat.

Menemani phoenix, ada pula detail bunga-bunga yang mekar di China. Detail khas negeri tirai bambu itu juga terlihat lewat beberapa kerah Shanghai dalam koleksi Audy.

Senja Ungu dalam Koleksi Baru Defrico AudySalah satu tantangan Audy dalam koleksi kali ini adalah komunikasi dengan pengrajin di Solo. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman)

Detail-detail ini dibuat dengan teknik bordir krancang gunting yang dilakukan oleh pengrajin dari Kudus, Jawa Tengah. Teknik ini membuat bordir dengan cara membolongi kain dengan jarum. Pengerjaan ini membutuhkan waktu yang lama. Total Aundy menyelesaikan koleksi ini dalam tiga bulan.


Bekerja dengan pengrajin di Kudus merupakan tantangan tersendiri bagi desainer lukusan Lassale Singapura tahun 2000 ini. Audy kesulitan berkomunikasi dengan para pengrajin tersebut lantaran terpisah jarak yang jauh antara Jakarta dan Kudus.

Belum lagi para pengrajin itu semuanya berusia tua atau lebih dari 40 tahun. Teknologi seperti aplikasi pesan instan juga tak membantu.

"Tantangannya adalah waktu saya di Jakarta, mereka di Kudus. Kadang kami memberikan arahan A dikerjakannya B," ungkap Audy.


Namun, Audy tak mempermasalahkan itu karena para pengrajin pada akhirnya tetap dapat membuat busana yang sesuai dengan harapan.

Selain memperkerjakan ibu-ibu, Audy juga melatih murid SMK di Kudus untuk melestarikan teknik bordir.

Koleksi Audy ini jadi show penutup pada sesi pertama di hari pertama JFF 2019. Sebelum penampilan Audi terdapat parade dari 11 desainer dan label yakni Liza Supriadi, deeJe Batik, Sakamade Boutique, Rumah Gaun, Anis Saskia, Dewani Batik, Prasojo, Rumah Batik Jinggar, Gee Batik, Uzy Fauziah, dan Owens Joe.

JFF 2019 merupakan ajang tahunan yang sudah digelar sejak tujuh tahun lalu. Tahun ini JFF menampilkan 616 look dari 68 desainer dan label yang tampil pada 8-10 Maret di Plaza Ambarrukmo. (ptj/stu)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA