Demi Olimpiade Tokyo, Nenek 80 Tahun Belajar Bahasa Inggris

REUTERS, CNN Indonesia | Selasa, 12/03/2019 14:10 WIB
Demi Olimpiade Tokyo, Nenek 80 Tahun Belajar Bahasa Inggris Ilustrasi. (morgueFile/cohdra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nenek Setsuko Takamizawa bertekad untuk membuktikan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar, saat dia mulai mempelajari bahasa Inggris sebelum Olimpiade Tokyo, bahasa yang dianggap "musuh" di masa lalu Negeri Sakura.

Ketika Jepang menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas pada tahun 1964, Takamizawa terlalu sibuk mengurus keluarga, sehingga ia tidak bisa datang ke ajang olahraga tersebut.

Takamizawa akan berusia 92 tahun ketika Olimpiade kembali digelar di Tokyo pada bulan Juli tahun depan. Ia berharap bisa menikmati semua rangkaian acara yang digelar.


Dia adalah satu dari 200 ribu orang yang telah melamar sebagai sukarelawan di Olimpiade dan Paralimpiade. Sukarelawan ditugaskan membantu para pengunjung Olimpiade, baik dari dalam atau luar negeri.

Meskipun bukan kualifikasi wajib, namun kemampuan berbicara bahasa Inggris adalah keterampilan penting yang dicari oleh panitia dan Takamizawa ingin bisa menguasainya.

"Ketika saya baru masuk SMA, Perang Dunia Kedua pecah," kata Takamizawa yang saat ditemui sedang berkunjung ke Stadion Olimpiade yang sedang dibangun di pusat kota Tokyo.

"Di tahun kedua saya sekolah, bahasa Inggris dilarang karena dianggap sebagi bahasa musuh."

Takamizawa mengatakan cucu-cucunya telah meyakinkannya bahwa dia belum terlalu tua untuk belajar bahasa Inggris.

"Saya sama sekali tidak bisa berbicara bahasa Inggris, saya berharap bisa mempelajarinya," ujar Takamizawa.

"Ketika saya berbicara dengan cucu saya tentang keinginan saya, mereka berkata, 'Belum terlambat. Kami akan mengajari Anda satu kata sehari. Ini akan menjadi tantangan yang bagus untuk Anda'."

Menurut penyelenggara, kurang dari 1 persen dari pelamar program sukarelawan berusia lebih dari 80 tahun.

Takamizawa merasa dengan berbahasa Inggris ia bisa menceritakan kisah kepada pendatang selama Olimpiade Tokyo.

"Ketika saya mengajarinya kata 'dunia', nenek berkata: 'itulah yang ingin saya ketahui, dunia dan negara Anda. Saya ingin tahu tentang dunia," kata cucu Takamizawa, Natsuko.

Natsuko berbicara bahasa Inggris dengan baik dan menjadi guru utama neneknya.

"Yang saya inginkan bukan hanya kesempatan untuk berbicara bahasa Inggris, tetapi juga bertemu dengan banyak orang dengan beragam budaya dan nilai-nilai, dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai media," tambah Takamizawa.

Membuka Diri kepada Dunia

Menurut EF English Proficiency Index, Jepang berada di peringkat ke-49 di antara negara-negara di mana bahasa Inggris bukan bahasa pertama, di bawah negara-negara seperti Chile, Belarusia, dan negara tetangganya, Korea Selatan.

Kondisi ini perlahan-lahan berubah ketika generasi yang lebih muda mempelajari bahasa Inggris dan bahasa Inggris menjadi mata pelajaran sejak pendidikan dini.

Takamizawa percaya perubahan nyata tidak akan terjadi, kecuali jika orang-orang Jepang berpikiran lebih terbuka kepada dunia.

"Hanya ada sedikit orang Jepang yang berpikiran terbuka, yang bisa berbahasa Inggris atau yang tertarik pada dunia," katanya mengenai orang Jepang.

"Tapi mereka harus mengenal dunia selain negaranya. Kita harus hidup dan bertindak tidak hanya sebagai orang Jepang tetapi juga salah satu penduduk dunia. "

Natsuko mengirimi neneknya kata-kata bahasa Inggris baru untuk dipelajari setiap hari melalui telepon dan mereka juga secara teratur duduk bersama untuk mempelajari perbendaharaan kata yang dibutuhkan Takamizawa untuk datang ke Olimpiade.

"Selamat datang di Tokyo, ini adalah Stadion Olimpiade, bagaimana saya bisa membantu Anda?" kata Takamizawa sambil berseri-seri ketika diminta untuk melafalkan kalimat bahasa Inggris yang telah ia pelajari.

Bagi cucunya, keingintahuan sang nenek adalah sumber sukacita sejati.

"Niat saya adalah bahwa saya ingin memberinya kebahagiaan pada usianya yang ke-90," kata Natsuko.

"Sangat menyenangkan bisa berbincang dengannya. Ini bukan hanya tentang Olimpiade Tokyo. Saya melihat bahasa Inggrisnya semakin baik. Ini juga menjadi kebahagiaan saya sekarang," lanjutnya.

Dengan sedikit lebih dari 500 hari tersisa hingga Olimpiade dimulai, seluruh keluarga Takamizawa ingin menyambut penduduk dunia yang bakal berkunjung ke Tokyo.

"Saya tentu saja bersemangat. Saya tidak pernah berpikir untuk melihat Olimpiade di Tokyo dua kali dalam hidup saya, "kata Takamizawa.

"Sangat menyenangkan bisa berumur panjang."

[Gambas:Video CNN]
(ard)