Steak tak ujuk-ujuk datang di Bumi Pertiwi. Kekayaan akulturasi budaya di Nusantara membuat steak menjadi salah satu sajian populer di tengah masyarakat.
Merunut sejarah, steak merupakan produk kuliner hasil asimilasi budaya Nusantara dan Barat. Masuknya steak ke Indonesia tak lepas dari peran para penjajah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kevin menjelaskan, Surakarta yang cenderung pro-penjajah sangat terpengaruh budaya kuliner ala Barat. Dari sini, muncul aneka rupa kuliner hasil asimilasi seperti salad solo, sosis solo, dan bistik sebagai yang paling kesohor.
Bistik adalah sajian yang menghadirkan daging panggang berkuah. Bistik berasal dari istilah 'beef steak' atau steak daging sapi bagi orang-orang Barat.
Rasa kuah bistik yang cenderung manis, kata Kevin, disebabkan oleh menjamurnya pabrik gula di Tanah Jawa. "Ada pabrik gula, pabrik kecap lokal. Akhirnya dalam kuah bistik ditemui rasa manis kecap," kata dia.
Awalnya, steak hanya berupa potongan daging pada umumnya. Saat kemunculannya, belum ada istilah jenis potongan seperti tenderloin, sirloin, dan rib eye. Hanya kalangan tertentu yang bisa menikmati bistik seperti kaum bangsawan dan priyayi.
Saat itu ada Hotel Borobudur, Hotel Indonesia, Hotel Kartika Chandra, dan Hotel Asoka (kini berganti menjadi Plaza Indonesia). "Hotel-hotel inilah yang berperan memperkenalkan steak pada kalangan atas dengan dua pilihan jenis potongan daging tenderloin dan sirloin," kata Kevin.
Hingga kini, dua jenis potongan daging steak tenderloin dan sirloin begitu melekat di masyarakat Indonesia.
Hal itu diakui oleh Pendiri Steak Hotel by Holycow, Wynda Mardio. Menurutnya, 70 persen pelanggan di restorannya menyukai jenis potongan sirloin. Harga yang lebih murah ketimbang tenderloin membuat sirloin kian digemari.
"Sirloin harganya di bawah tenderloin. Makanya lebih banyak yang pilih sirloin," ujarnya.
[Gambas:Video CNN] (els/asr)