Studi yang dilakukan pada pasien kanker ini menemukan adanya biaya perawatan tambahan yang diperlukan perokok karena kerap gagal pada terapi kanker lini pertama. Biaya tambahan ini mencapai US$11 ribu atau mencapai Rp155 juta.
Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Network Open ini juga menemukan pasien yang berhenti merokok setelah diagnosis kanker dapat meningkatkan peluang kelangsungan hidup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti mengasumsikan bahwa perokok memiliki kemungkinan 60 persen lebih besar gagal merespons pengobatan awal. Berdasarkan data dari Surgeon General AS, satu dari lima pasien kanker adalah perokok.
Artinya, jika dihitung pada 1,6 juta pasien kanker di AS, merokok berpotensi menambah biaya sebesar US$4,4 miliar setiap tahunnya.
Ahli kanker, Cara Petrucci menilai, penelitian ini dapat menjadi alasan untuk pasien agar berhenti merokok.
"Sesuatu yang sederhana seperti membantu pasien kanker berhenti merokok dapat memberikan hasil klinis yang lebih baik bagi pasien dan juga menghemat miliaran dolar dalam biaya perawatan kesehatan," kata Petrucci.
[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)