Padahal, anggapan itu mitos belaka. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA menganalisis 16 penelitian tentang efek gula pada anak. Hasilnya disimpulkan bahwa gula tak memengaruhi perilaku atau kinerja kognitif anak.
Seperti orang dewasa, beberapa anak sensitif terhadap lonjakan gula darah. Hal ini berarti gula membuat anak mudah terangsang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengonsumsi gula, kata Castle, membuat anak-anak dengan ADHD menjadi lebih agresif dan membuat orang tua sulit.
Menurut Castle, kelebihan gula sama dengan kelebihan konsumsi pewarna serta perasa makanan yang menimbulkan masalah bagi anak dengan ADHD.
Sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan kaitan antara gula dan tingkat agresi anak. "Apakah ini masalah hormon? Entahlah. Nutrisi adalah hal yang sangat individual," kata Castle.
"Dietnya menghilangkan pemanis buatan semacam gula dan pengawet," ujar ahli gizi anak lainnya, Kristi L King.
King menduga, diet Fiengold membuat orang tua beranggapan bahwa gula adalah biang keladi perilaku hiperaktif pada anak.
"Hanya dengan berpikir bahwa anak-anak mereka mengonsumsi gula menyebabkan para ibu menganggap anak mereka akan lebih hiperaktif," kata King.
Perilaku hiperaktif pada anak, kata King, berhubungan dengan pelepasan hormon adrenalin.
Lihat juga:Kenali Gejala Diabetes pada Anak |
Meski tak semua anak memiliki sensitivitas terhadap gula, bukan berarti gula baik untuk kesehatan si buah hati.
Makanan dan minuman manis memberikan kalori tanpa nutrisi. Terlebih, makanan tinggi gula meningkatkan risiko jantung, obesitas, dan tekanan darah tinggi sejak dini pada anak.
Untuk menjaga anak agar tetap sehat, American Heart Association merekomendasikan konsumsi gula kurang dari enam sendok teh atau 24 gram pada anak usia 2-18 tahun. Angka itu setara dengan satu batang cokelat 1,55 ons. Sementara satu kaleng minuman bersoda umumnya mengandung sekitar 40 gram gula.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)